Menyangkal diri
Renungan Hari Jumat, 16 Mei 2008
Yak. 2:14-24,26 & Markus 8: 34-9:1
Bacaan pertama hari ini dengan tegas mengatakan bahwa antara iman dan perbuatan haruslah sejalan. Iman tanpa perbuatan adalah mati. Iman harus ditunjukkan dalam perbuatan-perbuatan baik.
Kemudian dalam Injil kita mendengar “pedoman” menjadi pengikut Kristus. Kedengaran sangat “keras” dan sangat “menantang”. Saya sudah sekian kali membaca Injil ini, tetapi tetap saja saya “terkejut” setiap kali membacanya.
Yesus berkata; “…anyone who wants to save his life will lose it. But anyone who loses his life for my sake, and for the sake of the Gospel, will save it.”
Saudara dan Saudari, sebelum merenungkan makna Injil hari ini, saya hendak mengajak Anda sekalian untuk berandai-andai. Bisakah kita bayangkan akan menjadi bagaimana dunia ini kalau setiap ibu menolak mengambil resiko mengandung dan melahirkan anak? Bisakah kita bayangkan akan menjadi apa masyarakat kita seandainya setiap orang berusaha mengumpulkan harta untuk dirinya sendiri dan tak mau berbagi dengan yang lain? Bisakah kita bayangkan apa yang akan terjadi jika tak ada orang yang berani mati demi mempertahankan kebaikan, kebenaran dan iman? Bisakah kita bayangkan apa yang akan terjadi dengan Indonesia tercinta kalau tidak ada pahlawan yang berani mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan?
Saudara dan Saudari, di dunia ini ada hal-hal yang akan hilang kalau disimpan dan ada hal-hal yang akan bertahan kalau dipergunakan. Contoh, talenta. Talenta akan berkembang kalau kita memakai dan mempergunakannya. Talenta akan hilang kalau kita menyimpannya.
Hidup kita juga bagaikan talenta. Allah memberi kita hidup untuk dipergunakan dan bukan untuk disimpan. Kalau kita mencoba menyimpan dan mengamankannya dan selalu berpikir akan keuntungan kita sendiri, kesenangan kita sendiri, keamanan kita sendiri dan tak mau berusaha kecuali itu menguntungkan kita sendiri, maka kita akan orang yang kalah dan kehilangan hidup terus menerus. Sebaliknya, kalau kita mempergunakan dan memakai hidup kita, bahkan kita sampai melupakan kesenangan kita sendiri, kesehatan kita sendiri, kekayaan kita sendiri karena keinginan untuk melakukan sesuatu untuk Yesus dan untuk orang-orang yang untuk mereka Yesus telah bersedia mati di salib, maka kita akan memenangkan hidup dan akan memiliki hidup terus menerus.
Saudara dan Saudari, substansi dari hidup ialah mempergunakan dan memakai hidup dan bukan menyimpannya. Itulah yang diminta Yesus dari kita seturut Injil hari ini. Kalau kita mau menjadi pengikut Yesus kita harus “menyangkal diri”. Menyangkal diri bisa diartikan sebagaimana Rasul Paulus mengerti “sekarang bukan aku lagi yang hidup, melainkan Kristus hidup dalam diriku”.
Saudara dan Saudari, ketika Yesus memanggil kita menjadi pengikut-Nya, Ia sama sekali tidak menjanjikan kepada kita bahwa kita akan hidup dalam damai, hidup yang mudah dan kesenangan. Yesus menjanjikan kepada kita kemuliaan dan kemuliaan itu harus ditempuh lewat salib. Kita dipanggil untuk memikul salib. Yesus menantang kita untuk menjadikan kita “luar biasa”. Yesus menantang kita untuk menjadikan kita orang-orang yang berani “mengambil resiki” seperti seorang ibu yang berani mengambil resiko untuk mengandung dan melahirkan anak, demi kehidupan. Kita dituntut untuk memakai hidup untuk hidup.
Saudara dan Saudari, dalam Injil hari ini kita juga mendengar bahwa tak ada artinya memiliki seluruh dunia kalau kita tak akan memiliki hidup. Apa artinya? Yesus tahu bahwa ada orang yang mencoba menukar yang kekal dengan yang sementara. Ada orang yang menukar yang berharga dengan yang murah. Ada orang yang menukar kehormatan demi popularitas. Ada orang yang menukar hidup demi harta dunia. Yesus meminta kita untuk menghargai dan berusaha meraih yang kekal. Yesus meminta kita untuk tidak jatuh pada “hal-hal sementara” yang bisa membawa kita pada “kehilangan hidup kekal” dalam kebahagiaan bersama Allah.
Selamat bermenung….Jesus Bless Us.
DIarsipkan di bawah: renungan