Renungan Hari Minggu, 8 Juni 2008
Hosea 6:3-6, Roma 4: 18-25 & Matius 9:9-13
Saudara dan Saudari, kemarin ketika Misa pukul 6pm, untuk kotbah saya bawa alat peraga. Ketiga alat peraga tersebut adalah kacamata. Satu kacamata jenis yang besar dan hitam (yang sekarang lagi ngetop). Satu kacamata berwarna biru muda. Satu lagi kaca mata berwarna bening. Kacamata tersebut saya pakai satu persatu selama berkotbah. Umat yang memenuhi Gereja Plumpton tertawa cekikikan melihat saya berkacamata hitam sambil berkotbah. Dan yang membuat mereka makin tertawa karena saya katakan bahwa dengan memakai kacamata tersebut, saya yakin kulit saya jauh lebih putih dibanding kulit mereka (Anda tahu bahwa saya tak terlalu putih). Setelah itu saya pakai kacamata warna biru muda dan ketika saya pakai kacamata tersebut saya katakan bahwa saya melihat mereka semua cantik bukan main (tentu mereka senang dibilang cantik). Dan akhirnya saya memakai kacamata bening. Ketika saya memakai kacamata tersebut, saya katakan bahwa mereka kelihatan muda-muda sekali dan sangat menggoda.
Saudara dan Saudari, cara pandang Yesus dan cara pandang manusia berbeda. Kalau manusia melihat dan menilai orang lain menurut masa lalu orang tersebut. Yesus melihat dan menilai orang bukan hanya berdasar masa lalu orang tersebut, tetapi juga berdasar pada kemungkinan menjadi apa orang itu kelak.
Ketika Yesus memanggil Matius, Dia memanggil seseorang yang dibenci oleh hampir semua orang Yahudi. Panggilan Yesus ini membuktikan bahwa Yesus tak hanya menilai berdasar masa lalu tetapi juga menilai kemungkinan masa depan. Matius adalah salah seorang pemungut pajak. Hampir kebanyakan orang membenci pemungut pajak, mungkin Anda sekalian juga tak senang dengan pemungut pajak. Saya senang dengan mereka, sebab saya tak membayar pajak. Orang Yahudi kuno membenci para pemungut pajak dan mengelompokkan mereka itu ke dalam kelompok “kotor”. Mereka ini dibenci karena mereka bersekongkol dengan penjajah dan mereka memang bekerja untuk penjajah. Mereka juga dibenci karena mereka menagih pajak sesuka hati mereka. Katanya dahulu kala system pajak cenderung pakai “tawar-menawar”. Misalnya, kalau saya bisa menjanjikan pada pemerintah bahwa saya akan menyetor sekian banyak uang pajak, maka daerah itu menjadi wilayah kerja saya. Dengan demikian saya harus “memeras” rakyat untuk membayar lebih supaya saya bisa membayar “setoran” pada pemerintah dan pada waktu yang sama saya beruntung. Karena itu para pemungut pajak bertindak sewenang-wenang. Karena mereka pada umumnya kelompok yang memperkaya diri sendiri, maka hak-hak mereka “dalam budaya dan agama Yahudi” dikurangi. Mereka tak boleh menjadi saksi di pengadilan. Suara mereka juga pada umumnya tak didengarkan. Mereka dianggap kelompok terbuang.
Dari kelompok seperti inilah Yesus memanggil seorang pengikut-Nya. Lagi-lagi, ini membuktikan bahwa Yesus memandang jauh ke depan. Yesus tahu masa depan. Kalau kita hadir pada waktu itu, mungkin kita akan jatuh pada “keputusan” menghakimi Yesus, sebagaimana orang Farisi melakukannya. Mungkin kita juga akan berpikir bahwa Yesus telah membuat keputusan yang salah. Sebab bagi kebanyakan orang, Matius seharusnya masuk dalam daftar terakhir, kalau ia memang harus dipanggil. Tetapi saudara dan saudari, Yesus tidak salah. Ia benar dan mengetahui yang terbaik. Yesus memandang ke dalam hati orang. Yesus mampu melihat kemungkinan.
Saudara dan Saudari, ketika Matius mendengar ia dipanggil oleh Yesus, ia tidak menunda-nunda. Ia berlari menyongsong kesempatan. Ia tak peduli dengan gaji dan masa depan cerah yang dijanjikan oleh pekerjaannya. Ia tahu ke mana arah hidup-Nya. Ia tak mau menunda kebersamaan dengan Yesus. Dia juga tak mau berhitung kerugian dan keuntungan yang ia peroleh kalau ia mengikuti Yesus. Ia mendengar panggilan dan mengikuti panggilan itu tanpa membuang waktu dan kesempatan. Ia meninggalkan segala sesuatu. Ia memberi diri secara total pada Yesus. Ia mengerti dengan sungguh arti Sabda Yesus, “Yang Kukehendaki adalah belaskasih dan bukan kurban.” Mungkin saja sebelum bertemu dengan Yesus, Matius telah membaca Kitab Nabi Hosea yang berbunyi, “Aku menghendaki cinta dan bukan persembahan, dan pengetahuan akan Allah melebihi kurban.” Matius mencintai Yesus dan berkeinginan mengetahui Yesus dan ajaran-Nya. Karena ia mencintai Yesu dan ajaran-Nya, maka ia mencatat perkataan dan perbuatan Yesus dengan teliti. Ia mencatat ajaran dan mukzizat Yesus. Ia juga sangat setia mencatat kisah sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus. Panggilan Yesus akan Matius berbuah ratusan kali lipat.
Saudara dan Saudari, meski Matius tidak menghitung keuntungan dan kerugian mengikuti Yesus, saya mau mengajak Anda untuk berhitung. Matius kehilangan pekerjaan yang menghasilkan uang banyak, tetapi pada kesempatan yang sama ia menemukan tujuan hidupnya. Matius kehilangan kekayaannya, tetapi pada waktu yang sama ia menemukan kehormatan. Ia kehilangan “kemewahan” tetapi pada waktu yang sama ia menemukan janji kebahagiaan yang kekal. Saudara dan Saudari, hal sama sering juga terjadi pada kita. Kalau kita mengikuti Yesus, sering kita menghilangkan kesempatan untuk menghasilkan uang sebanyak-banyaknya. Sering kita harus meninggalkan ambisi duniawi kita. Contoh konkrit, ketika kita ke Gereja, kita akan menghabiskan waktu 2 jam. Kalau kita bekerja dan tak ke Gereja maka kita akan mendapat bayaran ($$). Sementara di Gereja kita masih harus membayar kolekte. Namun demikian, meski nampaknya secara duniawi kita “rugi”, pada waktu yang sama kita akan menemukan damai, sukacita, kenikmatan dan rasa puas yang tiada bandingnya. Dalam dan bersama Yesus kita akan menemukan kegembiraan yang tak mungkin diberi oleh dunia.
Saudara dan Saudari, beberapa hal bisa kita pelajari dari Injil hari ini. Pertama, ketika kita mendengar panggilan Yesus untuk berbuat baik, mari kita ingat Matius tidak menunda. Kedua, ketika kita mengetahui bahwa kawan kita telah berdosa, mari kita pertama-tama tidak menghukumnya, tetapi menolongnya untuk bisa mengatasi dosa tersebut. Kemudian, mari menyadari bahwa Yesus – pertama-tama - bukan menghendaki kita memberi barang-barang, tetapi menghendaki kita memberi diri, yakni dengan mencintai Allah dan sesama.
Saudara dan Saudari, Yesus memakai analogy seorang Dokter. Ini sangat membantu kita mengerti sikap Yesus dan mengerti cara menolong kaum yang berdosa. Kalau ada orang menderita penyakit menjijikkan, kebanyakan kita akan mual melihatnya dan berusaha menghindar dari penderita tersebut. Tetapi untuk seorang Dokter, ia tidak akan mual. Ia akan dipenuhi oleh perasaan untuk menolong orang sakit tersebut. Demikian juga dengan Yesus. Selamat Bermenung. Lain kali saya sambung…masih satu halaman lagi.