Posted by: darwin on: 01/07/08
Jesus got up into the boat followed by his disciples. Without warning a storm broke over the lake, so violent that the waves were breaking right over the boat. But he was asleep. So they went to him and woke him saying, ‘Save us Lord, we are going down!’ And he said to them, ‘Why are you so frightened, you men of little faith?’ And with that he stood up and rebuked the winds and the sea; and all was calm again. The men were astounded and said, ‘Whatever kind of man is this? Even the winds and the sea obey him.’ Matthew 8:23-27.
Ketika kita membaca Injil ini, mungkin timbul pertanyaan di dalam benak kita. Mengapa peristiwa yang sama tidak Yesus lakukan lagi sekarang? Mengapa Yesus tidak mengubah hati para penjahat sebelum mereka melakukan kejahatan mereka? Mengapa Yesus “berdiam diri” saja ketika beberapa hati yang lalu very yang membawa 800an orang tenggelam di perairan Philippine? Dan mengapa-mengapa yang lain.
Saudara dan Saudari, saya yakin ceritera ini dituliskan bukan dengan maksud memberi laporan sejarah kepada kita. Kalau ini hanya dimaksudkan untuk laporan sejarah, maka ceritera itu hampir tak berarti untuk kita yang hidup di abad ke 21 ini. Saya yakin ceritera ini ditulis dengan tujuan lebih dari sekedar kisah meredakan angin ribut.
Arti dari ceritera tersebut jauh lebih kaya dan lebih mendalam dibanding sekedar kisah mengagumkan peredaan angina topan. Arti dari kisah tersebut lebih dari sekedar Yesus menyuruh angina putting berhenti atau Yesus memerintah laut untuk tenang. Ceritera ini berarti bahwa di mana saja Yesus hadir, topan dan badai kehidupan menjadi tenang. Ceritera ini berarti bahwa karena kehadiran Yesus, kemarahan kita yang sudah memuncak, berubah menjadi rasa tenang dan damai. Kisah ini berarti ketika kita mengalami kesedihan yang mendalam karena derita dan karena alasan yang lain, karena kehadiran Yesus kita dihiburkan, digembirakan dan dikuatkan. Ceritera ini berarti, karena kehadiran Yesus ketakukan kita untuk melakukan yang baik berubah menjadi keberanian untuk melakukan yang baik. Ceritera ini berarti, karena kehadiran Yesus, rasa benci kita yang sudah meluap-luap terhadap orang lain berubah menjadi rasa cinta untuk kebaikan orang tersebut.
Kapan dan di mana saja Yesus hadir, topan dan badai kehidupan menjadi tenang dan damai. Karena kehadiran Yesus, piring-piring yang biasa melayang menghiasi percecokan keluarga berubah menjadi senyum-senyum manis yang menghiasi kebahagiaan keluarga. Karena kehadiran Yesus damai meraja di hati dan kelaurga serta komunitas kita. Dan ini jauh lebih dasyat dibanding sekedar meredakan angin topan di danau Galilea.
Apa kata dunia