Posted by: darwin on: 05/09/08
Tanggal 6 Oktober 2007 yang lalu, Sdr. Lam Vu dan saya ditahbiskan menjadi diakon di Leichhardt, NSW. Jauh hari sebelum tahbisan, kami berdua merancang undangan dan mencetaknya serta mengirimkannya. Kami juga mencari koor yang bisa bernyanyi pada saat perayaan tersebut. Ketika perayaan semakin dekat, kami berdua mencetak teks liturgy. Dan satu hari sebelum perayaan, Sdr. Lam pergi belanja makanan ringan untuk “light refreshment” setelah acara tahbisan. Saya sendiri bekerja membersihkan Gereja dan mengatur kursi untuk para Pastor yang ikut konselebrasi. Setelah itu saya menyiapkan aula. Yang jelas hampir semua kami urus sendiri. Ini salah satu gaya “pesta”.
Kemudian pada 28 Maret 2008 yang lalu saya ditahbisakan menjadi Imam di Indonesia. Saya berangkat dari Sydney satu bulan sebelum tahbisan. Bedanya, di Indonesia semua kerja diurus oleh panitia. Saya tak perlu buat apa-apa. Undangan sudah dicetak, koor sudah ada khusus, liturgy diurus oleh seksi liturgy, makanan diurus oleh seksi konsumsi. Yang jelas semua beres dan saya tinggal menyiapkan diri sendiri. Saya bagaikan “raja” yang dilayani oleh semua orang. Pekerjaan yang biasa saya lakukan pun tak diizinkan saya lakukan, pokoknya tinggal menikmati. Ini masuk akal, karena yang demikian kemungkinan tidak akan pernah saya alami kembali. Jadi “make the most of it”. Ini bentuk lain dari “pesta”.
Saya yakin jenis pesta yang kedua ini yang dipakai Yesus untuk menjawab “gugatan” kaum Farisi. Yesus tidak memberi jawaban langsung, namun Ia juga sekaligus memberi jawaban yang lebih dari “langsung”. Perumpamaan yang diberi oleh Yesus sangat logis dan tak terbantahkan. Ketika sepasang kekasih menikah, pada zaman dulu di Israel, mereka diperlakukan bagaikan raja dan permaisuri. Mereka berpakaian seindah mungkin. Perkataan mereka menjadi “hukum” yang harus dituruti selama pesta berlangsung.
Pesta akan diselenggarakan selama sepekan. Pasangan muda ini “dimabukkan” dengan suka cita yang bukan main. Harap diingat pada waktu itu belum dikenal budaya “honeymoon”, jadi sebagai ganti “honeymoon” mereka rayakan “open house” selama sepekan. Harap juga diingat bahwa tradisi Yahudi mengatakan bahwa hari Senin dan Kamis adalah hari-hari puasa. Kalau pesta nikah dirayakan selama sepekan, berarti perayaan itu paling tidak akan “bertabrakan” dengan satu hari puasa tersebut.
Nah, di sini hukum kekecualian berlaku. Bagi pengantin dan tamu-tamunya hukum puasa tak berlaku pada saat pesta tersebut. Yang jelas mereka nikmati saja pesta itu semampu mereka. Mereka makan dan minum sepuas mereka. Sebab pengalaman demikian hanya terjadi “sekali” untuk pengantin dan untuk para tamu hal itu tak akan sering-sering mereka alami di daerah “miskin” Israel.
Bukan kebetulan Yesus memakai perumpamaan ini sebagai jawaban untuk “gugatan” kaum Farisi. Perumpamaan ini penuh makna dan makna tersebut menerangkan “nature” dari kekristenan. Suka cita adalah dasar dari pesta perkawinan. Perayaan menjadi bagian tak terpisahkan dari perkawinan. Cinta menjadi thema dari perkawinan dan cinta juga menjadi alasan untuk kawin. Lalu apa hubungannya dengan menjadi pengikut Kristus. Suka cita adalah bagian yang sangat dominan dalam spiritualitas Kristen. Setiap orang Kristen dipanggil untuk mengalami sukacita. Kemudian orang Kristen juga dipanggil untuk merayakan hidup, mensyukuri hidup, dan menghidupi hidup. Cinta adalah hukum yang harus diikuti oleh orang Kristen. Cinta menjadi hukum yang pertama dan terutama.
Yesus memakai perumpamaan tersebut untuk menjawab kaum Farisi sekaligus untuk menerangkan bagaimana cara hidup para pengikut-Nya. Maka saudara dan saudari menjadi orang Kristen berarti menjadi orang yang bersukacita. Begitu indah hidup ini setelah mengenal Kristus dan lebih indah lagi kalau kita mengikuti Kristus. Kristus adalah sumber segala kebahagiaan. Karena itu bersukacitalah senantiasa.
Memang kata Yesus akan ada saatnya kita berpuasa. Akan ada saat untuk “berduka” tetapi puasa dan duka tersebut tidak mengalahkan suka cita kita sebagai orang Kristen. Perayaan Ekaristi akan menguatkan dan menyemangati kita untuk selalu bersukacita dan membagi suka cita bagi yang lain.
Kemudian menjadi Kristen juga berarti dipanggil untuk selalu menjadi manusia baru. Dipanggil selalu untuk memperbaharui diri. Menjadi semakin dekat dengan Yesus sumber segala kebaruan.
Apa kata dunia