Posted by: darwin on: 02/10/08
Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?” Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.” Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga” (Mat 18:1-5.10).
Saudara dan saudari, hari ini kita merayakan peringatan “Malaikat Pelindung”. Dengan peringatan ini kita disadarkan bahwa malaikat Allah selalu berada di sekitar kita. Malaikat Allah menaungi kita dan memastikan segala sesuatu akan baik-baik saja dengan kita. Luar biasa sekali mengetahui dan mempercayai bahwa Malaikat Allah selalu berjaga di samping kita. Ini merupakan penyemangat bagi kita untuk selalu kuat dalam iman, teguh dalam percaya.
Dalam bacaan pertama, Kitab Keluaran 23: 20-23, kita membaca “The Lord says this, ‘I myself will send an angel before you to guard you as you go and to bring you to the place that I have prepared.’” Artinya Allah tak akan membiarkan kita berjalan seorang diri. Allah mengirim “teman” setia untuk menemani kita dalam perjalanan iman kita. Saudara dan saudari, kembali saya ingatkan, kalau Anda merasa “beban” hidup terlalu berat atau perjalanan terlalu “melelahkan” dan kita merasa seperti tak sanggup memikul beban tersebut, ingatlah bahwa malaikat Allah berada di samping kita. Kita tak berjalan sendirian, kita ditemani.
Hari ini Gereja merayakan peringatan “Malaikat Pelidung – Guardian Angels”. Setiap orang diberi Malaikat yang melindungi kita setiap saat. Malaikat ini bertugas melindungi kita serta membawa pesan Allah pada kita. Malaikat Pelindung ini akan selalu berada bersama kita. Malikat Pelindung ini juga akan menyampaikan “keluh kesah” kita kepada Allah.
Saudara dan saudari, Injil hari ini, Matius 18:1-5.10, berbicara tentang siapa yang terbesar dalam Kerajaan Allah. Ketika murid-murid bertanya tentang hal ini, jelaslah bahwa mereka sendiri kemungkinan besar memiliki “konsep” yang salah tentang Kerajaan Allah. Mereka kemungkinan besar bertanya perihal tersebut dengan andaian bahwa kerajaan Allah itu bagaikan “pemerintah duniawi”.
Mendengar pertanyaan tersebut Yesus memanggil seorang anak dan menempatkan anak tersebut di hadapan para Rasul. Kemudian Yesus berkata, “I tell you solemnly, unless you change and become like little children you will never enter the kingdom of heaven.” Membaca pernyataan demikian kita mungkin secara spontan bertanya, “Mengapa harus menjadi seperti anak-anak?”
Injil ini sama sekali tak meminta kita untuk menjadi kekanak-kanakan. Kekanak-kanakan bukanlah sesuatu yang baik. Lalu apa maksudnya? Dalam diri anak-anak kita bisa melihat beberapa kwalitas yang sungguh luar biasa. Yang pertama ialah “kwalitas memaafkan”. Anak-anak dengan sangat mudah bisa memaafkan. Ketika anak kecil tersakiti, sebentar kemudian dia bisa dengan indahnya tersenyum dan melupakan rasa sakit tersebut. Anak-anak bukan hanya mudah memaafkan, tetapi juga mudah melupakan. Sering terjadi kita berkata bahwa kita memaafkan tetapi tetap mengingat kesalahan. Apakah mungkin memaafkan kalau kesalahan masih tetap kita ingat?
Kwalitas anak yang berikut adalah “kerendahan hati”. Anak-anak tak ingin menempatkan dirinya sebagai pusat perhatian. Anak-anak cendrung berdiam diri dipelukan ibunya. Anak-anak tak akan menonjolkan diri.
Kwalitas berikut ialah “ketergantungan”. Anak-anak tak berpikir bahwa ia mau hidup sendiri bebas dari segala pengaruh luar. Anak-anak selalu tahu bahwa tanpa orang tuanya maka hidupnya akan sulit. Mereka tahu bahwa bersama dengan orang tuanya hidupnya akan aman.
Kwalitas berikut yang mau kita lihat ialah “percaya”. Setiap anak kecil percaya kepada orang tuanya sepenuhnya. Mereka yakin orang tuanya merupakan yang terhebat di dunia ini.
Lalu apa hubungannya dengan Kerajaan Surga? Dengan ini Yesus mau mengatakan bahwa sebagai orang Kristen yang percaya kepada Allah, kita harus memakai “pengampunan dan kerendahan hati” sebagai sarana pergaulan kita dengan orang lain. Dalam hidup bersama sebagai orang Kristen, Yesus mengharapkan kita untuk bersedia mengampuni secara sempurna dan juga bersedia merendahkan hati.
Lalu dalam berhadapan dengan Allah, Bapa kita semua, Yesus mengharapkan kita untuk menggantung diri pada penyelenggaraan Ilahi (bukan berarti bahwa kita berdiam diri dan menunggu Allah memberi segala sesuatu, tetapi kita memiliki semangat bahwa kita tak bisa berbuat apa-apa kalau Allah tak memungkinkan kita untuk itu. Allahlah yang menyelenggarakan hidup kita). Juga dalam berhadapan dengan Allah, kita semestinya mempercayai Allah secara total. Allah itu mampu dan dasyat.
Saudara dan saudari, mari kembali mengingat bahwa bersama kita selalu hadir Malaikat Allah yang siap melindungi kita setiap saat.
1 | lovepassword
03/11/08 pada 08.30
Tak tambahi lagi : Anak-anak adalah manusia yang menggantungkan diri pada ortunya. Tetapi anak-anak juga figur yang selalu ingin tahu. Anak-anak selalu kritis dan senang bertanya apa saja. Jadi iman anak-anak terhadap ortunya tidak pernah menghalangi anak-anak untuk bersikap kritis terhadap hal-hal yang tidak dia ketahui.
Artinya : Kalo ada penganut agama yang merasa karena iman maka manusia tidak layak bertanya kepada Tuhan, sebaiknya belajar lagi dari anak-anak. Seimbangkanlah antara iman dan sikap kristis. Itu baru anak-anak. Pantes orang2 dewasa sulit masuk surga. Karena mereka senang membuat dikotomi antara iman dan akal. Hiks.
SALAM BOS.