Saudara dan saudari, 10 November merupakan peringatan St. Leo Agung. St. Leo Agung merupakan Paus pada tahun 440 – 461. Ketika masa kepemimpinannya, Gereja berada dalam bahaya. Orang-orang Kristen diperangi oleh kaum barbar. Banyak daerah dan negara Kristen dihancurkan oleh kaum barbar. Sementara itu di dalam Gereja sendiri mulai berhembus gerakan sesat, yang mengajarkan ajaran baru dan jauh dari kebenaran. Menghadapi ini semua, St. Leo Agung percaya sungguh-sungguh pada penyelenggaraan Ilahi. Ia juga percaya bahwa Paus pertama, yakni St. Petrus akan melindungi dia untuk menghadapi musuh-musuh Gereja.
Untuk menghentikan penyebaran ajaran-ajaran sesat, St. Leo menulis banyak artikel tentang iman yang benar. Ia juga memanggil konsili. Konsili ini kemudian menggariskan ajaran yang sejati dan mengutuk ajaran yang sesat. St. Leo berhasil membawa kembali kaum yang sempat menyimpang dan merangkul mereka kembali ke dalam pangkuan Bunda Gereja. St. Leo juga berhasil “berdamai” dengan kaum barbar. Menurut cerita, ketika St. Leo datang menghadap pemimpin kaum barbar, pemimpin tersebut bertekuk lutut dihadapannya. Ia bertekuk lutut karena ketika St. Leo muncul dihadapannya, ia melihat di samping kiri dan kanannya ada dua orang yang melindungi dia. Ia melihat St. Petrus dan St. Paulus berdiri bersama-sama dengan St. Leo.
St. Leo berhasil membawa kembali orang-orang yang sempat menyimpang ke ajaran yang benar karena dia begitu berpegang teguh pada iman yang benar. Ia juga begitu percaya pada Allah. Iman menjadi senjata satu-satunya menghadapi goncangan yang datang hendak mengganggu Gereja.
Saudara dan saudari, dalam bacaan Injil pada pesta St. Leo, kita membaca bahwa iman adalah kekuatan yang begitu dasyat. Dalam Injil Lukas 17:1-6 kita membaca bahwa kalau kita mempunyai iman sebesar biji sesawi, kita bisa memerintahkan pohon ara agar “berpindah”. Iman begitu dasyat.
Mungkin kita masih ingat “Obama’s winning speech” beberapa saat yang lalu di Chicago. Ia sering sekali memakai kata “Yes, we can.” Pernyataan singkat ini begitu berdaya guna, sehingga para pendukungnnya juga mengulang-ulang ungkapan tersebut. Dengan pernyataan singkat ini, Obama hendak mengingatkan pendukung dan warga USA bahwa kalau mereka mau, mereka bisa keluar dari krisis yang menghantui mereka.
Saudara dan saudari, iman adalah kekuatan yang dasyat. Dalam Injil Lukas 17:6 Yesus berkata, “Were your faith the size of a mustard seed you could say to this mulberry tree, ‘be uprooted and planted in the sea’ and it would obey you.” Iman adalah kekuatan yang dasyat. Ketika kita hendak melakukan suatu pekerjaan dan kita berkata, “saya bisa mengerjakannya”, maka kemungkinan besar kita akan sanggup mengerjakannya. Sebaliknya ketika kita berkata, “saya tak mampu” maka kita memang tak akan mampu. Kembali, iman adalah kekuatan yang begitu dasyat.
Dengan mengatakan bahwa iman adalah kekuatan yang dasyat, kita percaya bahwa perbuatan baik apa saja yang kita lakukan, kita tidak melakukannya sendirian, kita selalu melakukannya bersama Allah. Allah selalu hadir dan memberi kekuatan kepada kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik tersebut.
Injil hari ini juga berbicara tentang pentingnya mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Dalam Injil Yesus berkata, “If your brother does something wrong, reprove him and, if he is sorry, forgive him. And if he wrongs you seven times a day and seven times comes back to you and says, ‘I am sorry,’ you must forgive him.” Luar biasa sekali. Dalam tradisi Jahudi, kalau seseorang mengampuni orang lain sebanyak tiga kali, berarti orang tersebut sudah tergolong orang yang kudus. Yesus menghendaki para pengikut-Nya untuk lebih dari orang Yahudi. Yesus mau agar para pengikut-Nya mengampuni tanpa batas. Yesus mau agar para pengikut-Nya bersedia memberi ampun setiap kali orang lain meminta ampun. Dasyat bukan main.