Matius 6: 1-6, 16-18
Renungan
Pernah katanya terjadi di salah paroki, ketika itu pas Rabu Abu, orang begitu banyak datang ke Gereja. Karena begitu banyak yang datang ke Gereja, maka pastor yang akan merayakan Misa Rabu Abu meminta beberapa umat untuk membantu mendistribusikan abu. Ia mengingatkan bahwa mereka, pada saat membuat tanda salib dengan abu di dahi umat, harus mengatakan “ingatlah, engkau berasal dari debu dan akan kembali ke debu.”
Awalnya baik-baik saja. Semua berjalan lancar. Tetapi karena ada sedikit gangguan, salah satu umat yang membantu menditribusikan abu tersebut lupa dengan “rumusan” tersebut. Yang bisa dia ingat, meski ragu-ragu, hanya “engkau akan kembali ke debu.” Karena itu ia pikir baiklah kalau ia mengganti “rumusan” tersebut dengan ungkapan yang kurang lebih sama. Maka setiap kali ia menandai umat dengan debu, ia berkata; “engkau akan mati.” Dan umat yang mendengar itu terkejut bukan main dan barisan yang sebelumnya telah panjang ke arah dia kini bergeser ke arah orang lain.
Saudara dan saudari, masa pra-paskah diawali dengan Rabu Abu. Rabu Abu menjadi masa yang istimewa, karena hanya pada saat ini orang bersedia dan dengan sadar mau wajahnya dilumuri dengan debu. Ini juga istimewa karena pada saat ini hampir setipa orang berusaha mencoba hidup lebih baik dan berusaha untuk semakin rela menolong orang lain. Dengan menerima Abu pada Rabu Abu, secara sadar atau tidak, kita menerima kenyataan bahwa hidup kita tidak “kekal”. Hidup kita terbatas. Hidup kita juga baikan debu, yang sebenarnya tak memiliki banyak arti kalau dibandingkan dengan Allah sendiri. Jadi pada kesempatan ini kita diajak untuk merendahkan hati dan mengakui kebesaran Allah.
Pada Rabu Abu juga kita diajak untuk mengenal diri kita dan pada saat yang sama mengenal Allah. Allah telah berbuat banyak hal untuk kebaikan kita. Bahkan Allah telah berkomitment agar hidup kita yang tak “kekal” itu bisa menjadi “kekal”. Komitment Allah tersebut di “tulis” di kayu salib. Dengan salib Yesus kita beroleh kekalan yang telah hilang karena dosa dan kita beroleh hak anak-anak Allah kembali. Allah begitu berkeinginan agar kita semua selamat dan berbahagia. Namun untuk bisa menggapai kebahagiaan tersebut dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan.
Dengan Injil hari ini kita diingatkan untuk memberi sedekah, berdoa dan berpuasa dengan motivasi yang benar. Memberi sedekah, berdoa dan berpuasa dengan motivasi yang tidak benar akan memberi “ganjaran” juga tetapi ganjarannya bukan dari Allah, melainkan hanya ganjaran yang diberi dunia. Sementara kalau semuanya dilakukan dengan baik dan dengan motivasi yang baik, maka Allah sendiri yang akan memberi ganjaran.
Selamat menjalani masa Pra-Paskah. Semoga masa pertobatan ini membawa rahmat yang berlimpah bagi kita semua.