Addressing the people and his disciples Jesus said: “The Scribes and Pharisees occupy the chair of Moses. You must therefore do what they tell you and listen to what they say; but do not be guided by what they do, since they do not practice what they preach. They tie up heavy burdens and lay them on men’s shoulders, but will they lift a finger to move them? Not they! Everything they do is done to attract attention, like wearing broader phylacteries and longer tassels, like wanting to take the place of honor at banquets and the front seats in the synagogues, being greeted obsequiously in the market squares and having people calling them Rabbi.
‘You, however, must not allow yourselves to be called Rabbi, since you have only one Master, and you are all brothers. You must call no one on earth father, since you have only one Father, and he is in heaven. Nor must you allow yourselves to be called teachers, for you have only one Teacher, the Christ. The greatest among you must be your servant. Anyone who exalts himself will be humbled and anyone who humbles himself will be exalted.” (Matius 23: 1-12).
“Turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarakan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkan tetapi tidak melakukan (Matius 23: 3).
Dalam Injil ini kita melihat bahwa Yesus sungguh melihat kesinambungan antara jabatan Musa hingga jabatan ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi. Allah memberi hukum kepada Musa, dan Musa mewariskannya kepada Yosua. Yosua meneruskannya kepada tua-tua dan tua-tua meneruskan kepada para nabi. Para nabi mewariskannya kepada ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi. Yesus sama sekali tidak memperdebatkan ke sah an jabatan tersebut.
Dalam Injil ini Yesus menekankan bahwa ajaran para ahli Taurat dan kaum Farisi tersebut pada dasarnya baik. Karena itu Yesus meminta orang banyak dan para murid-Nya untuk melaksanakan ajaran tersebut. Dan di sini kita melihat Yesus dengan tegas juga melarang orang banyak dan para murid untuk mencontoh perilaku orang Farisi dan ahli Taurat. Kenapa? Karena mereka tidak menjalankan apa yang mereka ajarkan. Mereka mengajarkan hukum-hukum agama untuk dijalankan orang lain.
Di samping itu Yesus juga melihat bahwa praktek keagamaan orang Farisi dan ahli Taurat lebih ditujukan pada “show”. Mereka suka tampil beda dan duduk di barisan depan dan kemudian berlaku seakan sangat religius sehingga semua orang yang melihat merasa kagum dan memberi pujian kepada mereka. Yesus tidak menghendaki yang demikian.
Yesus menghendaki para pengikut-Nya untuk berbuat baik dan menjalankan ajaran agama demi kebesaran kemuliaan Allah, bukan untuk pujian bagi pelaku….
Di samping itu, harus diakui bahwa jauh lebih mudah memberi nasehat dibanding menjalankan nasehat-nasehat tersebut. Perjuangan hari demi hari untuk menyelaraskan antara kata dan perbuatan masih dibutuhkan…