Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘gambar’ Category

Sebenarnya sangat sulit dimengerti bahwa ada orang ribuan tahun sesudah peristiwa penyaliban Yesus mengalami luka-luka yang sama dengan Yesus tanpa pernah disalibkan. Meski sangat sulit dimengerti namun itu tak sama dengan tak mungkin terjadi. Kenyataan terbaru adalah yang dialami oleh Padre Pio. Ia menerima stigmata secara “ajaib”. Kelima luka Yesus secara ajaib menjadi luka dalam diri Padre Pio. Kedua tangannya berlubang bagaikan ditusuk dengan paku, demikian juga dengan kakinya dan bahkan lambangnya. Ilmu pengetahuan tak sanggup menjelaskan kenapa.

Pada hari ini, 17 September, kaum Franciscan merayakan “Stigmata St. Francis”. Pada tahun 1224 Francis dengan beberapa saudaranya pergi ke gunung La Verna. Kepergiannya ke sana untuk mempersiapkan diri secara rohani menyambut perayaan St. Gabriel Malaikat Agung. Francis ingin siap secara rohani menyongsong perayaan besar tersebut. Di bukit yang terpencil dan sangat curam tersebut ia berdoa secara khusuk dan bertapa secara sungguh-sungguh. Ia ingin menguasai seluruh nafsu badaninya dan mengerahkan semua tenaganya untuk yang Ilahi.

Ketika ia sedang asyik berdoa, seorang saudara datang “mengintip” apa yang dia perbuat, mengetahui hal itu, Francis berpindah tempat. Ia tak ingin terganggu dan tak ingin menjadi ganguan untuk para saudara yang lain. Ia pergi jauh sekali. Di sana ia berdoa dan bermeditasi sedalam-dalamnya. Khusuk bukan main.

Saat ia sedang berdoa, tiba-tiba ada cahaya memancar dari langit. Lalu muncul sosok bercahaya, bagaikan seraph dengan enam sayap yang berkilauan. Tak lama setelah itu muncul image Kristus yang tersalib. Francis menikmati pemandangan ini. Ia begitu terpesona dengan penampakan tersebut. Ia terbawa pada kedalaman terdalam doa yang dalam. Sungguh tak terlukiskan.

Francis adalah seorang pencinta salib yang luar biasa sekali. Ia begitu terkesima dengan perendahan diri Yesus di salib. Ia begitu terharu bahwa Yesus – Putera Allah bersedia mati di salib demi dosa-dosa manusia. Ia begitu tak habis pikir bahwa Allah begitu cinta pada manusia, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang percaya beroleh hidup yang kekal. Francis begitu tersentuh dengan salib Kristus. Ia rindu pada salib.

Setelah penampakan tersebut hilang, secara ajaib, dalam diri Francis hadir luka-luka yang dialami Yesus ketika Yesus di salibkan. Kaki dan tangan Francis berdarah dan berlubang bagaikan ditusuk paku. Lambungnya mengeluarkan darah. Sakit sekali. Namun Francis menerima derita tersebut dan bersyukur pada Yesus karena ia diberi kesempatan mengalami penderitaan Yesus di salib.

Injil hari ini, Lukas 9: 23-27, melukiskan bagaimana seorang pengikut Yesus harus menyangkal diri dan memikul salib untuk mengikuti Yesus. Menyangkal diri berarti meniadakan diri. Menganggap diri tak ada dan membiarkan kehendak Allah terjadi dalam diri. Meninggalkan kesenangan pribadi dan melaksanakan apa yang menyenangkan untuk Allah. Menjadikan Allah semakin dimuliakan dan diri sendiri semakin “kecil’.

Yesus juga mengatakan bahwa orang yang mau mengikuti Dia harus memikul salib. Memikul salib berarti siap untuk menanggung segala kemungkinan yang terjadi karena kesetiaan pada Kristus. Memikul salib berarti siap menanggung kemungkinan terburuk demi iman akan Kristus. St. Francis meninggalkan kesenangan duniawi demi mengikuti Yesus Kristus. Ia meninggalkan kekayaan dan keterjaminan hidup demi mengikuti Yesus.

Kemudian dalam Injil dikatakan juga bahwa orang yang mau menyelamatkan dirinya akan kehilangan hidupnya dan orang yang bersedia kehilangan hidupnya demi Yesus Kristus akan beroleh hidup. Sungguh aneh bukan?? Tetapi itulah konsekwensi mengikuti Yesus. Pertanyaan orang yang benar mengikuti Yesus ialah “Seberapa banyak yang bisa saya beri untuk Yesus?” “Apa-apa saja sumbangan yang bisa saya buat untuk Yesus?” dan bukanSeberapa banyak yang bisa saya dapat dari Yesus?” atau “Apa yang sudah Yesus beri untuk saya, sebagai ganjaran telah mengikuti Dia?”     

Saudara dan saudari, mengikuti Yesus adalah keistimewaan luar biasa, sebab itu berarti kita berjalan ke arah yang benar. Kita berjalan kea rah kebahagiaan sejati. Kita berjalan menuju kesempurnaan kebahagiaan yang tak ada mata yang pernah melihat dan tak ada bayangan yang bisa membayangkan. Mengikuti Yesus berarti berjalan menuju hidup dan sebaliknya. Namun untuk mengikuti Yesus, jelas “bayarannya”, menyangkal diri dan memikul salib.

Read Full Post »

Saya yakin semua ibu akan lebih mudah memahami derita yang dialami oleh Bunda Maria ketika ia harus menyaksikan anaknya dihukum mati secara keji. Naluri keibuan akan berbicara secara lain. Tak seorang pun ibu yang tega melihat anak yang dikandungnya sembilan bulan dan kemudian disusuinya, diperlakukan orang secara tidak beradap. Pasti pengalaman itu sangat berat untuk Maria. Mungkin Maria tak mengerti dengan pasti semua peristiwa itu, tetapi cintanya untuk anaknya pasti sedemikian dasyat dan sedemikian dalam. Kehadirannya di sekitar salib Yesus merupakan dorongan naluri alami seorang ibu untuk memberi dukungan pada anaknya. Air mata dan kehadiran Maria sangat berate dalam situasi demikian. Cinta yang dasyat ditunjukkan Maria dengan menanggung “perihnya” hatinya tersayat-sayat melihat anak tunggalnya disalibkan. Ia berdiri tegar menyaksikan peristiwa tersebut.

Dalam Injil Yohanes 19: 25-27 ini dikisahkan bahwa Maria Bunda Yesus dan beberapa Maria yang lain turut hadir. Di balik derita yang Yesus alami, sesuatu yang sungguh dasyat dan indah terlampir dalam kisah ini. Yesus dalam derita dasyat yang Ia alami, tergantung di kayu salib, masih memikirkan derita orang lain. Ketika Ia melihat ibu-Nya, Ia tahu bahwa sanga ibu akan mengalami masa depan yang “sepi”. Yesus masih memikirkan bagaimana caranya membahagiakan ibu-Nya. Ia tahu bahwa tanggung jawab-Nya untuk mengurus sang ibu pada masa tuanya, dan tanggung jawab itu tak mungkin lagi Ia penuhi. Karena itu Ia menyerahkan Maria kepada murid tercinta-Nya, Yohanes, agar Yohanes mengurus dan memperhatikan Maria. Ia juga menyerahkan murid tercinta-Nya pada bunda-Nya. Mereka ini akan saling menghibur dalam kesepian dan dalam duka yang mereka alami karena orang yang sangat mereka cintai telah pergi.

Inijil dan perayaan Maria Berduka Cita mengajak kita untuk saling mendukung, saling memperhatikan, saling menyemangati dalam iman akan Yesus Kristus.

Read Full Post »

Perayaan ulang tahun adalah perayaan yang sungguh dinikmati kebanyakan orang di dunia ini. Suka cita dan syukur menjadi bagian dari perayaan ini.

Hari ini, 8 September, Gereja Katolik merayakan ulang tahun Bunda Maria. Tanggal ini tepat sembilan bulan dari perayaan Maria dikandung tanpa noda, 8 Desember.

Gereja biasanya merayakan hari kematian orang-orang kudus dan bukan hari lahir, sebab hari kematian dianggap sebagai hari kelahiran ke dunia yang kekal, ke kerajaan Allah, ke kebahagiaan yang tiada batas. Namun khusus untuk Maria dan Yohanes, perayaan kelahiran ke dunia ini juga dirayakan. Maria dilahirkan ke dunia ini bebas dari dosa. Ia lahir untuk melahirkan Putera Allah. Allah telah mempersiapkan Maria untuk menjadi Bunda Penebus, Bunda Yesus Kristus.

Maria adalah sosok yang sangat populer, bukan hanya dikalangan Katolik tetapi di semua kalangan, bahkan dikalangan Muslim juga, sebab dalam Alquran nama Maria juga sering disebut. Doa “Salam Maria” merupakan salah satu doa yang paling populer di dunia. Doa tersebut lebih kurang didoakan sebanyak 2 billion kali sehari dalam segala bahasa dan di seluruh pojok dunia. Sungguh populer.

Dalam bahasa St. Agustinus, Maria adalah bunga indah yang tumbuh di ladang, bunga indah ini menghasilkan lily yang menghiasi ladang. Lewat Maria lahir sang Penyelamat dunia, Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah satu-satunya penyelamat. Dia adalah jalan, kebenaran dan hidup. Tak seorang pun sampai ke kebahagiaan surgawi tanpa melalui Dia, demikian kesaksian Injil.

Maria membawa kehidupan baru ke dunia yang berdosa. Maria mengubah dunia yang berdosa karena Hawa menjadi dunia yang diselamatkan karena Yesus Kristus.

Mari tanpa ragu berdoa bersama Maria, memohonkannya untuk mendoakan kita, mengikuti jejak-jejak langkahnya dalam mengimani Yesus dan berserah pada kehendak Allah.

Selamat Ulang Tahun Bunda Maria. Kami tak punya kue ulang tahun untukmu, tetapi kami memberikan diri kami untuk mengikuti jejakmu mengimani Allah yang benar. Diri kami menjadi hadiah ulang tahun untukmu. Berdolah untuk kami. Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertamu, terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu Yesus. Santa Maria bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sikarang dan waktu kami mati. Amen.   

Read Full Post »

Raja Herodes mengambil istri dari saudaranya Philip. Istri Filipus bernama Herodias. Melihat kenyataan ini Yohanes menegur Herodes. Injil hari ini (Markus 6:17-29) menggambarkan kisah pembunuhan Yohanes Pembaptis oleh Herodes. Kematian yang tragis.

Yohanes tahu bahwa dengan menikahi istri dari saudaranya sendiri, Herodes telah melanggar hukum agama Yahudi yang tertulis dalam kitab Imamat 18:16 dan Imamat 20:21. Pastilah dibuthkan keberanian khusus untuk menegur seorang raja yang berkuasa sekali. Yohanes memiliki keberanian tersebut. Ia tak mau berdiam diri ketika melihat dosa dan ketidakadilan terjadi. Ia selalu mau menyuarakan kebenaran, meski untuk itu ia harus bayar mahal.

Saudara dan saudari, ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari Injil hari ini. Yang pertama mari kita melihat Raja Herodes. Ia adalah contoh orang yang “berperang” dengan diri sendiri. Ia membenci Yohanes tetapi pada waktu yang sama ia cinta dengan Yohanes. Ia merasa terombang-ambing ketika mendengar Yohanes berkotbah, tetapi pada waktu yang sama ia juga begitu suka mendengar kotbah Yohanes. Lagu yang berbunyi “I hate you but I love you” mungkin sedikit menerangkan perasaan raja Herodes terhadap Yohanes. Apa hubungannya dengan kita?? Sering terjadi kita begitu menikmati indah dan damainya perayaan liturgy di Gereja. Kita begitu terpesona dengan kegiatan memuji Allah. Tetapi pada waktu yang sama kita merancang melakukan sesuatu yang sungguh bertentangan dengan apa yang dikehendaki Allah. Kita berusaha untuk hidup kudus, tetapi pada waktu yang sama kita berkubang dalam dosa.

Herodes juga merupakan contoh manusia yang terlalu mudah membuat janji. Mungkin saja ia sedang mabuk karena minum anggur, sehingga ia menjanjikan kepada puteri angkatnya akan memberi apa saja yang ia minta. Ia tak hati-hati menggunakan kata-kata. Injil hari ini menasehati kita untuk berpikir sebelum mengatakan sesuatu. Kita diingatkan untuk mengetahui semua yang akan kita katakan dan bukan mengatakan semua yang kita ketahui. Pepatah “mulutmu adalah harimaumu” mungkin membantu untuk mengerti pesan Injil ini.

Herodes juga termassuk orang yang begitu takut akan apa kata orang. Ia tahu bahwa ia tak boleh membunuh Yohanes Pembatis. Dan ia sendiri tak ingin membunuh Yohanes, tetapi karena rasa malu dan takut akan apa kata orang maka ia mengorbankan Yohanes Pembaptis. Ia tak berani mengatakan kebenaran karena takut akan apa kata orang. Mungkin sudah menjadi rahasia umum, kalau di negeri kita tercinta, mengatakan kebenaran bisa berarti “kehilangan kerja”, menolak korupsi bisa berarti “tak pernah naik jabatan”, mengkritik penguasa berarti “masuk penjara”, dll. Sering terjadi orang menjadi diam dan tak berani mengungkapkan kebenaran karena takut “apa kata orang”. Injil ini mengingatkan kita bahwa orang Kristen yang sejati akan selalu berusaha menyuarakan kebenaran, meski harus dibayar mahal.

Sekarang mari kita melihat sosok Herodias. Herodias mengingatkan kita untuk hati-hati terhadap wanita. Wanita adalah mahluk ciptaan Tuhan yang paling indah, kalau wanita tersebut wanita yang baik. Wanita juga bisa menjadi mahluk ciptaan Tuhan yang paling berbahaya kalau wanita itu menjadi wanita yang tak baik. Lihat apa yang dilakukan Herodias untuk membalas dendam. Kejam bukan main. Untuk itu, untuk para laki-laki, hati-hati terhadap wanita. Sedapat mungkin jangan menyakiti hati mereka.

Yohanes adalah pribadi yang berdiri untuk membela yang benar. Ia tak takut menyuarakan yang benar. Ia tahu ia diutus untuk mewartakan kebenaran yakni Yesus sendiri. Ia selalu mengajak orang untuk semakin dekat dengan Yesus dan mempersiapkan diri untuk menyongsong Yesus Kristus untuk meraja di hati masing-masing.

Selamat merenung.

Read Full Post »

 

Ini adalah gambar rumah adat Batak Toba.

Read Full Post »

Seorang bisu yang kerasukan setan dibawa kepada Yesus. Dan setelah setan itu diusir, dapatlah orang bisu itu berkata-kata. Maka heranlah orang banyak, katanya: “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel.” Tetapi orang Farisi berkata: “Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan.”

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belaskasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Matius 9:32-38.

 

Ada orang berkata bahwa zaman kita sekarang termasuk zaman yang tak punya pegangan. Kebenaran seakan “relative”. Relativism meraja. Banyak orang seakan berdiri di persimpangan jalan, mereka tak tahu mau kemana. Papan penunjuk jalan telah jatuh. Arah tak jelas lagi. Kasihan sekali.

Saudara dan Saudari, WYD Sydney 2008 sudah di depan mata. Orang-orang semakin “excited” menanti. Ratusan ribu orang mungkin sudah tak “nyenyak tidurnya”, karena tak sabar menanti. Jutaan orang berharap bahwa WYD kali ini akan membawa pembaharuan pada wajah Gereja di Australia dan dunia. WYD ini adalah harapan baru akan masa depan yang indah.

Dilain pihak WYD kali ini dipandang dengan “dengki” oleh ribuan orang. Mereka tak sudi kalau kota mereka “dibombardir” oleh kaum muda Katolik. Mereka merasa terancam dengan event akbar ini. Mereka memandang WYD ini sebagai musuh yang bila perlu dikacaukan. Maka tak heran kalau ada pihak yang berniat mogok pada hari tertentu, selama WYD.

Saudara dan Saudari, Injil hari ini menunjuk dua sikap terhadap Ajaran dan Tindakan Yesus. Orang banyak kagum dan senang dengan Yesus. Mereka yakin bahwa Yesus ini memang luar biasa. Tak pernah mereka lihat hal seperti yang dilakukan Yesus terjadi sebelumnya dan tak akan pernah terjadi kemudian. Hanya Yesus yang sanggup membuatnya. Mereka juga takjub mendengar pengajaran Yesus yang penuh wibawa.

Di lain pihak orang Farisi merasa terancam dengan tindakan Yesus tersebut. Mereka mem “black mail” Yesus dengan menuduh bahwa Yesus bersekongkol dengan penghulu setan. Mereka mau supaya Yesus tidak menjadi idola kaum kebanyakan.

Orang-orang Farisi begitu tertutup dengan ide-ide yang baru. Mereka hanya mau tahu dengan ide-ide mereka sendiri. Mereka tak mau ada pembaharuan. Mereka hanya mau menjalankan praktek yang sudah turun-temurun mereka jalankan. Pembaharuan untuk mereka adalah dosa besar. Mereka adalah orang-orang yang sombong yang tak butuh apapun selain hukum yang ada pada mereka.

Sementara orang kebanyakan melihat keindahan pada perkataan dan tindakan Yesus. Memang orang yang sadar akan ketergantungan mereka pada Allah akan selalu melihat keindahan pada setiap gerak, tindakan dan perkataan Yesus. Yesus adalah kerinduan hati mereka. Mereka melihat bahwa dalam diri Yesus, mereka saksikan kebenaran dan perbuatan Allah. Luar biasa.

Dalam Injil hari ini kita baca juga bahwa Yesus tersentuh melihat keadaan orang banyak. Mereka bagaikan orang yang berdiri di perempatan jalan, tak tahu mau kemana. Mereka tak melihat papan penunjuk jalan, sebab papan penunjuk jalan telah jatuh. Mereka tak punya gembala. Yesus tergerak oleh belas kasih sebab Ia ingin orang-orang mencapai keselamatan, tetapi tidak banyak orang yang bisa menunjuk jalan. Karena itu Yesus meminta murid-murid untuk berdoa supaya Allah mengirim banyak pekerja. Permohonan Yesus ini juga ditujukan pada kita semua. Yesus memohon kita bukan hanya untuk berdoa tetapi turut serta menjadi pekerja di kebun anggur Allah. Kita dipanggil untuk turut serta menunjuk jalan pada orang lain.  

 

Read Full Post »

Saudara dan saudari, Injil ini baru saja kita dengar beberapa pekan yang lalu. Kalau mau baca, silahkan buka di:

http://darwinsimanjorang.wordpress.com/2008/06/08/kaca-mata-tembus-pandang/

Pada kesempatan ini saya ingin mengomentarinya dari sudut kaum Farisi. Jelas sekali mereka keberatan bahwa Yesus duduk dan makan bersama dengan para pemungut cukai dan kaum berdosa. Kenapa? Karena untuk mereka kaum berdosa dan pemungut cukai dianggap tak perlu dan bukan subyek untuk “diselamatkan”.

Kalau kita lihat pernyataan ini ‘Why does your master eat with tax collectors and sinners?’secara hati-hati,  kita akan menemukan bahwa kaum Farisi hanya tertarik dengan “kekudusan” mereka dibanding kesediaan berbagi kekudusan. Dalam arti tertentu mereka senang melihat orang “masuk neraka”. Mereka bagaikan Dokter yang jijik melihat pasien. Bisakah Anda bayangkan Dokter yang jijik melihat orang sakit??? Maka dalam pengertian ini, agama untuk kaum Farisi adalah institusi untuk orang-orang kudus, yang tak butuh penolong lagi (mungkin juga tak butuh Allah lagi). Mereka takut terjangkit dengan dosa-dosa orang lain. Karena itu mereka menjauh dari kaum berdosa tersebut. Di samping itu, kaum Farisi juga bagaikan Dokter yang tahu mendeteksi penyakit orang. Mereka dengan cepat tahu bahwa ada penyakit berbahaya di tubuh orang lain. Tetapi bahayanya mereka tak berminat mengobatinya. Mereka hanya tertarik menunjuk penyakit itu dan mengumumkannya. Mereka tak tertarik dengan “penyembuhan”. Seharusnya kalau mereka Dokter yang benar, mereka akan dipenuhi rasa ingin menyembuhkan, ketika mereka mengetahui penyakit orang lain. Kalau memang mereka tertarik dengan keselamatan jiwa orang lain, maka hal pertama yang mereka lakukan bukan “mengutuk” orang tersebut, tetapi menunjukkan jalan yang benar kepada orang tersebut.

Saudara dan Saudari, Yesus berkata bahwa yang Ia butuh bukan kurban, tetapi cinta. Ia juga berkata bahwa kehadiran-Nya bukan untuk orang-orang yang merasa kudus sekali sehingga mereka tak butuh lagi juru selamat. Kehadiran-Nya untuk mereka yang tahu bahwa mereka orang yang berdosa dan butuh penyelamat.   

Matthew 9:9-13

As Jesus was walking he saw a man named Matthew sitting by the customs house, and he said to him, ‘Follow me.’ And he got up and followed him.

While he was at dinner in the house it happened that a number of tax collectors and sinners came to sit at the table with Jesus and his disciples. When the Pharisees saw this, they said to his disciples, When he heard this he replied, ‘It is not the healthy who need the doctor, but the sick. Go and learn the meaning of the word: What I want is mercy, not sacrifice. And indeed I did not come to call the virtuous, but sinners.’

 

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.