Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘renungan’ Category

Mendengar pengajaran Yesus, orang-orang di Kapernaum kagum bukan main. Kekaguman mereka ini berbeda dengan penolakan orang-orang di Nazareth. Perkataan Yesus yang pebuh kuasa menusuk hingga ke sum-sum mereka. Mereka terpesona. WOW. “Alangkah hebatnya perkataan ini. Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan merekapun keluar,” (Lukas 4:31-37).

Ketika Yesus sedang mengajar di seorang yang kerasukan setan berteriak pada Yesus. Setan rupanya tak tahan berhadapan dan mendengar ajaran Yesus yang penuh wibawa. Setan bagaikan tersiram air panas ketika menyadari bahwa Yesus yang Dasyat berada di sekitanya, setan sungguh merasa terancam. “Hai Engkau, Yesus orang Nazareth, apa urusanMu dengan kmi? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: yang Kudus dari Allah” demikian teriak setan tersebut (Lukas 4:34).

Rupanya setan juga tahu siapa Yesus. Setan tahu bahwa Yesus itu yang kudus dari Allah.

Di sini kita melihat kekuatan “kehadiran Yesus”. Kehadiran-Nya saja membuat setan menggelepar, membuat setan tak berdaya, membuat setan keringat dingin, membuat setan gelagapan, membuat setan kocar-kacir. Rasaian. Siapa suruh jadi setan.

Kekudusan Yesus memancarkan aura yang dasyat bukan main. Kekudusan dan kuasa perkataan Yesus menembuh hingga ke lubuk hati. Kadang membuat lubuk hati berdentum keras, karena menyadari Yesus berada di sekitar. Hati yang dikuasai oleh kuasa kegelapan akan berteriak-teriak karena tak tahan melihat cahaya yang dibawa oleh Yesus.

Yesus menyembuhkan orang yang kerasukan setan tersebut. Yesus membebaskan dia dari belenggu kuasa kegelapan dan memberinya jalan menuju cahaya Ilahi. Yesus adalah ahli kehidupan. Yesus selalu menghantar manusia pada kehidupan yang sesungguhnya. Yesus menghantar manusia pada cahaya Ilahi. Yesus memang sungguh berkuasa.  

Read Full Post »

Hal yang sangat wajar kiranya kalau seseorang pada saat-saat tertentu mudik ke tempat kelahirannya. Hampir semua orang melakukannya, terutama kalau sebagian dari keluarganya masih tinggal di tempat tersebut.

Yesus juga pernah mudik ke tempat di mana Ia dibesarkan, Nazareth, lihat Matius 4:16-30. Kunjungan ke Nazareth juga menjadi kesempatan untuk bertemu dengan “teman-teman” lama. Rumah Ibadah menjadi sarana yang sangat bagus untuk bertemu orang-orang. Di samping itu Yesus sendiri sebagai orang Yahudi pasti ingin menunaikan kewajiban untuk memuji dan bersyukur pada Allah di rumah ibadah tersebut.

Tatkala Yesus membaca Alkitab, Ia membaca kidung “Hamba Allah” yang terdapat di Kitab Yesaya 61:1-2. Setelah membaca Kitab tersebut, Ia mulai berkata-kata, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” Orang-orang heran mendengar pengakaran Yesus dan akan kata-kata indah dan terpilih yang Ia gunakan. Namun keheranan mereka ini tak membawa mereka pada “kedekatan” pada Yesus, tetapi justru sebaliknya. Mereka tak bisa menerima kalau seseorang yang mereka kenal, dari keluarga tertentu, dan dibesarkan bersama-sama dengan mereka merupakan seseorang yang menggenapi nubuat para nabi.

Mereka katakan, “Bukankah Ia ini anak Yusuf?” Dengan ungkapan ini mereka mau mengatakan bahwa mereka sungguh tahu siapa Yesus. Mereka tahu Dia anak tukang kayu. Untuk mereka tak mungkin ada yang “dasyat” dari anak tukang kayu.

Di samping itu orang-orang Nazareth juga semakin “jengkel” dengan Yesus karena Yesus melakukan karya-karya ajaib di tanah asing. Mereka menuntut Yesus melakukan banyak “pertunjukan” ajaib di kampung asal-Nya sendiri.

Saudara dan saudari, mereka menolak Yesus karena mereka tahu latar belakang Yesus. Mereka menolak Yesus karena mereka tahu siapa family-Nya. Mereka menolak Yesus karena Yesus terbuka dan berbelaskasih pada yang lain. Hal yang sama sering juga terjadi sekarang.

Dengan Injil ini kita juga diajak untuk mengerti bahwa tak ada penyembuhan bagi orang yang tak mau disembuhkan. Penyembuhan harus dimulai dari pihak yang sakit. Yang sakit sendiri harus berkeinginan untuk disembuhkan. Dalam banyak hal Allah “tak bisa berbuat banyak hal kalau manusia menolak”.

Dengan Injil ini kita juga diberi cara pandang baru bahwa sehebat apapun pengkotbah, kalau dia berkotbah di tempat yang salah, kalau pendengarnya semua “tuli”, maka kehebatannya tak ada artinya. Juga sebaliknya, sesederhana apapun pengkotbah dan isi kotbahnya, kalau pendengarnya menaruh minat dan membuka telinga, sesuatu pasti berubah.

Read Full Post »

Suatu pagi yang cerah, seorang suami yang baru pulang dari Gereja segera menggendong istrinya keliling rumah dan bahkan membawanya ke pekarangan rumah. Sang istri heran sebab suaminya belum pernah seromantis ini. “Apakah pastor menyuruhmu untuk lebih romantis?” tanya sang istri. “Bukan. Pastor menyuruh saya memikul salib saya.” Jawab si suami. Untung si istri agak “ringan”.

Saudara dan saudari, dalam Injil hari ini, Matius 16:13-20, Yesus menegaskan bahwa setiap orang yang mau menjadi pengikut-Nya harus menyangkal diri dan memikul salib. Permenungan kali ini akan lebih focus pada “memikul salib”. Namun sebelum melangkah lebih jauh, saya hendak menceritakan satu lagi kisah tentang “salib”.

Seorang guru agama sedang menerangkan peristiwa jalan salib kepada murid-muridnya. Ketika tiba pada perhentian yang keempat guru tersebut menerangkan Ketika Yesus sedang berjalan memikul salib-Nya menuju bukit Golgata, Ia bertemu dengan Maria, ibu-Nya. Mereka tak punya kesempatan untuk bercakap-cakap. Namun demikian, tatapan mata mereka mewakili kata-kata yang seharusnya diungkapkan. Lalu guru tersebut mengajukan pertanyaan, “Menurut kalian, apa yang mereka ungkapkan dengan bahasa mata tersebut?” Beragam jawaban diutarakan. Seorang murid memberi jawaban, “saya kira Maria berkata ‘ini tak adil’”. Murid yang lain menambahkan, “Maria mungkin mengatakan ‘mengapa anakku dan mengapa aku?’” Lalu seorang murid yang lain angkat tangan dan memberi jawaban, “Saya kira Bunda Maria berkata, ‘lanjutkan terus, Yesus!’” Mendengar jawaban tersebut guru tersebut mengajukan pertanyaan berikut, “Mengapa Bunda Maria berkata demikian?” “Sebab ia tahu siapa Yesus dan ia tahu tak ada mahkota tanpa salib, “ demikian jawaban siswa tersebut.

Saudara dan saudari, Minggu lalu kita mendengar pengakuan dan pengenalan Petrus akan Yesus Sang Mesias, Putera Allah Yang Hidup. Pengakuan tersebut membuahkan nama “Batu Karang” untuk Simon Petrus. Pengakuan Petrus tersebut juga menjadi titik tolak yang penting untuk pewartaan Yesus lebih lanjut dan lebih dalam. Maka Injil hari ini dimulai dengan “sejak itu…”

Ide Mesias yang berkembang dan pada umumnya dianut oleh orang pada zaman Yesus ialah Mesias yang membawa kemerdekaan bangsa Israel dari penjajahan, Mesias yang mengembalikan kejayaan kerajaan Daud. Mesias yang membawa kemakmuran ekonomi dan kejayaan militer. Paham yang demikian merasuki para rasul juga. Maka ketika Yesus mengatakan bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan akan menderita dan disalibkan, Petrus serta merta berpikir bahwa Yesus telah membuat suatu kesalahan. Untuk Petrus Mesias tak mungkin menderita. Petrus menginginkan Yesus melangkah menuju kekuasaan duniawi. Mendengar respon dari Petrus tersebut, Yesus yang beberapa saat yang lalu menggelarinya “batu karang” kini memanggilnya setan. “Get behind me, Satan!” demikian Yesus menegur Petrus.

Kalau kita renung-renungkan perkataan Yesus ini, masuk akal juga. Yesus menghendaki Petrus berjalan di belakang-Nya. Yesus menghendaki Petrus berjalan mengikuti-Nya. Yesus menghendaki Petrus melangkah mengikuti apa yang Yesus mau dan bukan memerintah Yesus untuk berjalan menurut idenya sendiri.

Saudara dan saudari, Injil yang dibawa Yesus Kristus selalu bagaikan sekeping koin dengan dua sisi. Salah satu sisi ialah salib dan sisi yang lain ialah mahkota. Kalau kita melihat Injil hanya dari segi mahkota dan menolak yang lain, sisi salib, maka kita memalsukan Injil. Injil selalu mewartakan menghadirkan kedua sisi tersebut. Yesus yang sama yang mengatakan “Datanglah kepada-Ku kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu…” juga berkata “Barang siapa ingin menjadi pengikut-Ku, ia harus memikul salib…” Memikul salib di sini bukan hanya berarti menumpahkan darah seperti para martir atau sesuatu yang dasyat sekali.  Memikul salib bisa berarti pengorbanan kita untuk melakukan kebaikan, perjuangan kita untuk melakukan kehendak Allah, pergulatan kita masing-masing untuk berusaha setia pada ajaran Gereja dan setia pada janji nikah. Salib bisa juga berarti usaha kita mencintai orang-orang yang sulit untuk dicintai. Salib bisa juga berarti perjuangan seorang istri atau suami untuk setia pada pasangan hidup dan setia pada janji setia seumur hidup, meski banyk tantangan. Salib bisa juga usaha kita untuk menolong orang lain, meski kadang sangat sulit untuk berbagi tetapi karena cinta pada Injil dan sesama, kita akhirnya rela berbagi. Salib bisa juga perjuangan kita mendidik anak-anak seturut ajaran Yesus.

Saudara dan saudari, memikul salib adalah tugas yang berat. Memikul salib yang terbuat dari kayu agak ringan. Kita sudah menyaksikan ratusan ribu orang berjuang untuk ikut memikul salib World Youth Day. Memikul salib yang terbuat dari emas bahkan lebih ringan. Ratusan juta orang menggantungkan salib emas di leher mereka. Tetapi salib kayu dan salib emas hanyalh symbol. Yesus tak meminta kita untuk memikul symbol, tetapi memikul salib kehidupan. Ini berat. Memikul salib pada zaman ini semakin berat karena kita hidup di zaman “pain killer”. Mayoritas manusia pada zaman ini tak sanggup lagi menderita, tak sanggup menerima rasa sakit. Semua derita dan rasa sakit bisa dihilangkan dengan “pain killer”. Mayoritas manusia ingin mahkota dan tak mau salib. Dan itu sulit sekali. Yesus sendiri Putera Allah, memikul salib.

Saudara dan saudari mari datang pada Yesus, memohon agar Ia memberi kelegaan pada kita dan sekaligus memohon agar Ia memberi kekuatan pada kita untuk memikul salib.   

Read Full Post »

Raja Herodes mengambil istri dari saudaranya Philip. Istri Filipus bernama Herodias. Melihat kenyataan ini Yohanes menegur Herodes. Injil hari ini (Markus 6:17-29) menggambarkan kisah pembunuhan Yohanes Pembaptis oleh Herodes. Kematian yang tragis.

Yohanes tahu bahwa dengan menikahi istri dari saudaranya sendiri, Herodes telah melanggar hukum agama Yahudi yang tertulis dalam kitab Imamat 18:16 dan Imamat 20:21. Pastilah dibuthkan keberanian khusus untuk menegur seorang raja yang berkuasa sekali. Yohanes memiliki keberanian tersebut. Ia tak mau berdiam diri ketika melihat dosa dan ketidakadilan terjadi. Ia selalu mau menyuarakan kebenaran, meski untuk itu ia harus bayar mahal.

Saudara dan saudari, ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari Injil hari ini. Yang pertama mari kita melihat Raja Herodes. Ia adalah contoh orang yang “berperang” dengan diri sendiri. Ia membenci Yohanes tetapi pada waktu yang sama ia cinta dengan Yohanes. Ia merasa terombang-ambing ketika mendengar Yohanes berkotbah, tetapi pada waktu yang sama ia juga begitu suka mendengar kotbah Yohanes. Lagu yang berbunyi “I hate you but I love you” mungkin sedikit menerangkan perasaan raja Herodes terhadap Yohanes. Apa hubungannya dengan kita?? Sering terjadi kita begitu menikmati indah dan damainya perayaan liturgy di Gereja. Kita begitu terpesona dengan kegiatan memuji Allah. Tetapi pada waktu yang sama kita merancang melakukan sesuatu yang sungguh bertentangan dengan apa yang dikehendaki Allah. Kita berusaha untuk hidup kudus, tetapi pada waktu yang sama kita berkubang dalam dosa.

Herodes juga merupakan contoh manusia yang terlalu mudah membuat janji. Mungkin saja ia sedang mabuk karena minum anggur, sehingga ia menjanjikan kepada puteri angkatnya akan memberi apa saja yang ia minta. Ia tak hati-hati menggunakan kata-kata. Injil hari ini menasehati kita untuk berpikir sebelum mengatakan sesuatu. Kita diingatkan untuk mengetahui semua yang akan kita katakan dan bukan mengatakan semua yang kita ketahui. Pepatah “mulutmu adalah harimaumu” mungkin membantu untuk mengerti pesan Injil ini.

Herodes juga termassuk orang yang begitu takut akan apa kata orang. Ia tahu bahwa ia tak boleh membunuh Yohanes Pembatis. Dan ia sendiri tak ingin membunuh Yohanes, tetapi karena rasa malu dan takut akan apa kata orang maka ia mengorbankan Yohanes Pembaptis. Ia tak berani mengatakan kebenaran karena takut akan apa kata orang. Mungkin sudah menjadi rahasia umum, kalau di negeri kita tercinta, mengatakan kebenaran bisa berarti “kehilangan kerja”, menolak korupsi bisa berarti “tak pernah naik jabatan”, mengkritik penguasa berarti “masuk penjara”, dll. Sering terjadi orang menjadi diam dan tak berani mengungkapkan kebenaran karena takut “apa kata orang”. Injil ini mengingatkan kita bahwa orang Kristen yang sejati akan selalu berusaha menyuarakan kebenaran, meski harus dibayar mahal.

Sekarang mari kita melihat sosok Herodias. Herodias mengingatkan kita untuk hati-hati terhadap wanita. Wanita adalah mahluk ciptaan Tuhan yang paling indah, kalau wanita tersebut wanita yang baik. Wanita juga bisa menjadi mahluk ciptaan Tuhan yang paling berbahaya kalau wanita itu menjadi wanita yang tak baik. Lihat apa yang dilakukan Herodias untuk membalas dendam. Kejam bukan main. Untuk itu, untuk para laki-laki, hati-hati terhadap wanita. Sedapat mungkin jangan menyakiti hati mereka.

Yohanes adalah pribadi yang berdiri untuk membela yang benar. Ia tak takut menyuarakan yang benar. Ia tahu ia diutus untuk mewartakan kebenaran yakni Yesus sendiri. Ia selalu mengajak orang untuk semakin dekat dengan Yesus dan mempersiapkan diri untuk menyongsong Yesus Kristus untuk meraja di hati masing-masing.

Selamat merenung.

Read Full Post »

Kemarin kita merayakan peringatan St. Monica. Hari ini kita memperingati St. Agustinus, putera dari St. Monica. Agustinus merupakan anak yang paling populer dari keempat anak St. Monica. Agustinus termasuk salah seorang genius yang pernah lahir ke dunia ini. Dia dibesarkan secara Kristiani oleh ibunya, namun pada masa-masa remaja dan awal masa dewasa ia menyimpang dari ajaran yang benar dan mengikuti seleranya sendiri. Ia jatuh pada penyembahan “kenikmatan”. Hidupnya menjadi gelap dan ia menikmati itu. Ia senang dengan cara hidup yang gelap tersebut. Di samping sangat menyenangi cara hidup yang tak bermoral, ia juga begitu sombong dengan kepintarannya.

Ibunya begitu sedih dengan kenyataan tersebut. Namanya selalu hadir dalam doa ibunya. St. Monica tak bosan-bosannya berdoa untuk pertobatan anak kesayangannya tersebut. Ia bahkan rela bermati raga demi pertobatan Agustinus. Akhirnya doanya dikabulkan. Agustinus bertobat. Ia menyadari bahwa ajaran Kristenlah ajaran yang benar, tak ada yang lain. Selain doa-doa ibunya yang tak putus-putusnya, kotbah St. Ambrosius, Uskup Milan, juga berpengaruh dalam pertobatan Agustinus. Ia dibaptis oleh Ambrosius. Kemudian ia menjadi imam dan tak lama kemudian ia menjadi uskup di Hippo.

Tak lama setelah menjadi Uskup, Agustinus dengan sukses membawa kembali banyak orang yang sempat tersesat kembali ke ajaran yang benar. Ia berhasil membawa orang kembali ke pangkuan Gereja, tubuh mistik Kristus. Agustinus juga begitu terlibat mempertahankan ajaran Gereja dari para pembangkang. Ia berjuang menjaga kemurnian ajaran yang benar. Ia ikut melawan ajaran Donatist, Pelagian, dan Arian (kelompok-kelompok tersesat).

Agustinus merupakan salah seorang penulis besar Katolik. Ia dengan tulisan-tulisannya serta lewat kotbah-kotbahnya berhasil mengatasi para heretic. Agustinus begitu cinta pada Allah yang ia kenal sesudah sekian lama jauh dari Allah. Ia begitu terpesona dengan Allah yang hadir dalam dirinya, yang meskipun selalu hadir dalam dirinya pernah ia tak sadari dan tak ketahui. Ia begitu terpesona dengan Allah yang begitu pemaaf dan selalu mencari domba yang tersesat. Dalam confessions dia tulis “too late have I loved You.” Agustinus sadar bahwa mencintai Allah merupakan yang terindah dalam hidup ini. Karena itu ia begitu tegus dalam cintanya pada Allah.

Sebagai Uskup ia juga begitu populer dengan kesederhanaan dan kesiapsediaan menolong kaum miskin.

Saudara dan saudari dalam Injil hari ini, Matius 23:8-12, kita membaca bahwa kita semua adalah saudara satu dengan yang lain. Dalam tugasnya sebagai uskup, Agustinus begitu mempraktekkan ajaran tersebut. Ia tak menjadikan jabatan sebagai Uskup sebagai kuasa, tetapi menjadikan itu sebagai sarana untuk melayani Allah dan saudara saudarinya kaum Kristen. Dalam Injil juga dengan tegas Yesus berkata bahwa siapa yang meninggikan diri akan direndahkan dan yang merendahkan diri akan ditinggikan. Kalau kita lihat cara hidup Agustinus, ketika ia menjauh dari Allah dan hanya menyombongkan kepintarannya, ia tidak merasa bahagia dan tak menemukan apa yang ia cari. Ketika ia merendahkan diri di hadapan Allah, ia menemukan pemenuhan dirinya. Ia bertemu dengan tujuan hidupnya. Ia bertemu dengan Allah yang siap memberinya kebahagiaan sempurna. Ketika ia merendahkan diri, ia diberi oleh Allah nama yang besar yang dikenang orang dari masa ke masa.

St. Agustinus merupakan teladan untuk kita bahwa untuk menjadi orang kudus bukan terutama bahwa kita bebas dari dosa, tetapi bahwa kita menyadari dosa kita dan bertobat. Kita menyadari bahwa kita begitu kecil disbanding Allah yang begitu besar. Kita begitu butuh akan pengampunan Allah. Mari memohonkan pada Allah agar memberi kita semangat seperti St. Agustinus.    

Read Full Post »

Santa Monica lahir dan dibesarkan di Tagaste, bagian Utara Africa. Ia adalah ibu St. Agustinus. Disiplin kekristenan yang ia dapat dari orang tuanya menjadi modal besar untuknya ketika ia kawin dengan seorang yang tak beragama, bernama Patricius. Meski kadang suaminya memperlakukannya secara kasar, Monica tak pernah membalas “kejahatan” dengan kejahatan. Ia menceritakan semua pengalamannya kepada Tuhan, lewat doa. Kekuatan doanya lebih dasyat dari “kejahatan” suaminya. Allah mengubah dan menyentuh suaminya. Suaminya, pada akhir hidupnya, meneriman kekristenan dan dibaptis. Ibu mertuanya juga akhirnya menerima kekristenan. Luar biasa sekali.

Kenyataan indah ini tak bertahan lama. Kegembiraan yang ia alami karena suami dan ibu mertuanya menjadi Kristen menjadi ceritera masa lalu. Setelah itu ia mengetahui bahwa anak tersayangnya, Agustinus, telah menjauh dari ajaran Kristen. Agustinus bahkan telah jatuh pada pergaulan-pergaulan tak bermoral. Ia mengikuti ajaran yang sesat. St. Monica merasa begitu sedih dengan kenyataan ini.

Ia berusaha membawa anaknya ini kembali ke pangkuan Gereja. Ia meminta pastor-pastor untuk berbicara dengan Agustinus. Agustinus adalah anak yang pintar bukan main. Pada usia sangat muda ia pergi dari Africa menuju Italia dan mengajar di Milan. Monica mengikuti anaknya tersebut secara diam-diam. Hidupnya dia persembahkan sebagai “korban” untuk pertobatan anaknya. Ia berdoa tak henti-hentinya. Ia bermati raga.

Akhrinya Allah menyentuh hati Agustinus. Ia bertobat. Ia menjadi Kristen. Ia juga kemudian  menjadi Pastor. Tak lama sesudah itu ia menjadi Uskup. Ia juga merupakan penulis terkenal dan pembela iman yang sejati. St. Monica diganjari bukan hanya sebatas apa yang ia mohonkan. Ia diganjari oleh Allah berlipat ganda.

Doa memang sungguh dasyat. Doa sanggup mengubah.

Dalam bacaan Injil hari ini, Lukas 7:11-17, dikisahkan bahwa Yesus tergerak oleh belaskasih melihat anak seorang janda meninggal dunia. Yesus menghidupkan kembali anak tersebut dan menyerahkannya pada ibunya. Ibunya yang sebelumnya tak punya harapan kini kembali memiliki harapan. Dengan Injil ini kita diingatkan bahwa Tuhan kita berbela rasa. Ia tergerak oleh ceritera hidup kita. Ia tergerak dengan perjuangan hidup kita. Ia tergerak karena ingin membuat kita hidup bahagia. Begitu enaknya mempunyai Allah yang berbela rasa.

Dengan Injil ini kita juga diingatkan bahwa hidup dan mati kita ada di tangan Allah. Yesus adalah Tuhan bagi yang hidup dan mati.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.