Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘renungan’ Category

Delapan hari yang lalu kita merayakan hari raya Maria diangkat ke surga, jiwa dan raga. Hari ini kita merayakan Maria Ratu surga dan bumi. The queeenship dari Maria diproklamasikan oleh Paus Pius XII pada 11 Oktober 1954. Bacaan Injil hari ini dari Injil Lukas 1:26-38.

Meski peringatan ini baru diumumkan pada tahun 1954, sebenarnya peringatan ini sudah dikenal sejak awal Gereja. Bahkan Injil sendiri “berbicara” tentang Maria sebagai ratu. Kalau kita membaca kisah Maria menerima kabar gembira (cf. Lukas 1:26-38), kita menemukan bahwa Malaikat Gabriel memberitahukan bahwa anak yang akan dikandung Maria akan mewarisi tahta Daud dan Ia akan meraja selama-lamanya. Kemudian kalau kita baca juga kisah Maria mengunjungi Elisabeth (cf. Lukas 1:39-45), kita menemukan Elisabeth menamai Maria “Ibu dari Tuhanku”.

Di samping hal-hal yang telah disebut di atas, Kitab Suci secara umum memberi kesaksian bahwa Yesus adalah Raja dari segala Raja. Kerajaan Yesus akan kekal selama-lamanya. Jadi karena Maria melahirkan seorang yang adalah raja yang kekal, maka Maria adalah ratu. Keratuan Maria ambil bagian dalam Kerajaan Yesus. Keratuan Maria tak terpisah dari Yesus.

Yesus adalah raja dari kekekalan sampai kekekalan. Yesus adalah raja untuk selamanya. Yesus raja karena Ia adalah Allah yang menjelma menjadi manusia. Maria menjadi ratu karena rahmat Allah, dan karena hubungan yang personal dengan Allah yakni karena menjadi Ibu dari Sang Putera. Kenyataannya, hubungan Maria dengan dengan sang Raja sangat istimewa dan sangat berbeda dengan hubungan para ratu yang lain. Ratu yang lain melahirkan anak yang kemudian menjadi raja. Maria melahirkan Yesus yang adalah raja. Dia adalah Ibu dari raja yang kekal, dan Keibuan Maria sangat exclusive sebab ia mengandung Yesus dengan cara yang istimewa, tanpa campur tangan laki-laki.

Saudara dan saudari, sebagai ratu surga dan dunia, Maria mempunyai tempat khusus dalam sejarah keselamatan. Allah memberi tempat khusus kepadanya bukan karena kebetulan, tetapi karena Allah punya rencana demikian. Di hadapan Allah, Maria mendapat tempat istimewa dibanding semua yang lain.

Mari memohonkan Maria untuk berdoa untuk kita. Mari juga memohonkan Maria untuk menunjukkan jalan pada kita untuk mengikuti Sang Raja. Mari meneladan Maria dalam beriman pada Allah dan berserah secara total pada Allah. Mari berdoa, “Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertamu, terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu Yesus. Santa Maria bunda Allah doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amen.”     

Read Full Post »

Injil Matius 22:1-14 menceriterakan perumpamaan tentang Pesta Kawin. Yesus menceriterakan bahwa Kerajaan Surga itu seumpama seorang raja yang mempersiapkan pesta kawin untuk anaknya. Pastilah raja akan mengundang orang-orang tertentu untuk menghadiri pesta tersebut. Pada hari H pesta dilangsungkan, raja tersebut mengutus hamba-hambanya untuk memanggil para undangan. Ternyata para tamu yang diundang khusus tak berminat dengan pesta tersebut. Sementara semua sudah disiapkan, makanan sudah dimasak dan panggung sudah disiapkan. Tamu tak kunjung datang.

Dari ayat-ayat pertama Injil ini kita langsung dihantar pada permenungan bahwa sejak ribuan tahun yang lalu Allah telah mengundang bangsa Israel untuk menjadi bangsa pilihan. Tetapi ketika Yesus, Putera Allah, datang ke dunia, mereka menolak undangan Yesus. Mereka menolak mengikuti jalan-jalan Yesus. Mereka tak berminat dengan ajaran Yesus.

Konsekwensi dari penolakan tersebut ialah, Allah menghukum mereka. Tetapi lebih dari hukuman itu, mereka sendiri menghukum diri sendiri dengan berjalan menjauh dari kebahagiaan. Kalau kit abaca Injil ini, Allah mengundang kita untuk bahagia. Allah mengundang kita untuk bersukacita, bagaikan suka cita pesta kawin. Demi suka cita kita Allah mengundang kita. Maka jalan Yesus adalah jalan menuju suka cita. Mengikuti Yesus sama dengan berjalan menuju suka cita. Menolak Yesus sama dengan berjalan menjauh dari suka cita.

Saudara dan saudari, kalau kita baca Injil ini kepada kita diterangkan bahwa yang menolak undangan Yesus bukanlah oarng-orang yang melakukan hal-hal yang jahat. Mereka melakukan hal-hal yang baik dan berguna. Ada yang mengurusi kebunnya, ada yang mengurusi bisnis-nya. Mereka sama sekali tidak melakukan kejahatan. Nah dari sini kita dihantar pada permenungan bahwa sering kita terlalu sibuk dengan kerja sendiri sampai lupa menghadiri undangan Yesus. Kita sering terlalu terpana dengan harta yang kelihatan, sehingga kita lupa dengan harta yang tak kelihatan. Kita terlalu focus dengan harta duniawi sampai kita lupa harta surgawi.

Mari menghadiri undangan Kristus. Mari menerima dan mengalami suka cita yang dibawa oleh Kristus. Mari bergabung ke dalam kerajaan suka cita, kerajaan Yesus Kristus. Bergabunglah sebelum saat untuk itu tak ada lagi!!!

Read Full Post »

Injil Matius 20:1-16 ini sedikit aneh ketelinga para pendengar di zaman modern ini. Namun diyakini kisah seperti ini bukan hal yang luar biasa untuk pendengar pada zaman kisah ini diceriterakan. Musim panen anggur di Israel ialah pada bulan September. Segera sesudah itu musim hujan akan datang. Kalau panen terlambat dipetik dan hujan segera datang, maka panen akan gagal karena rusak oleh hujan.

Dalam situasi yang demikian pemilik kebun akan berusaha sedapat mungkin mencari pekerja untuk memetik anggur di kebunnya.

Sementara itu para pekerja pada zaman dulu juga tak bisa dibandingkan dengan para pekerja di zaman modern ini. Pada zaman Yesus diyakini banyak pekerja lepas, yang setiap hari mencoba mengadu nasib. Mereka ini akan berdiri di pasar-pasar, menunggu para pencari buruh datang. Mereka ini ialah kelompok yang malang, sebab tak ada jaminan kerja. Tak jarang mereka tak mendapat pekerjaan dalam sehari. Dan kalau itu terjadi, berarti mereka tak membawa uang kembali ke rumah. Anak-anak akan lapar.

Ada juga pekerja yang nasibnya sedikit lebih baik. Mereka berada dalam satu “wadah pekerja”. Mereka ini pada umumnya lebih mudah mendapat pekerjaan, karena tuan tanah akan lebih percaya pada mereka, sebab mereka memiliki “ketua”. Juga dari segi kemudahan mencari pekerja, memanggil kelompok ini jauh lebih mudah dibanding mencari buruh-buruh perseorangan.

Pemilik kebun anggur tersebut mungkin dalam situasi sangat butuh pekerja. Maka ia seharian berkeliling mencari pekerja. Ia berusaha supaya panennya bisa dipetik sebelum musim hujan datang.

Yang membuat ceritera ini semakin menarik ialah soal upah yang diberi oleh majikan tersebut. Ia mengupah semua pekerja dengan jumlah yang sama. Pekerja yang bekerja seharian dan pekerja yang bekerja hanya beberapa jam dibayar sama. Ini menarik sekali.

Namun sebelum melihat hal itu, ada satu hal lagi yang menarik diamati. Pekerja tersebut dibagi dalam dua kelompok. Yang pertama ialah pekerja yang dikontrak dan yang kedua ialah pekerja yang “suka rela”. Dalam kasus yang pertama, tuan tanah dan pekerja berunding soal upah. Ada kesepakatan. Ada “penandatanganan” kontrak. Sementara dalam kasus yang kedua tuan tanah hanya meminta pekerja untuk pergi bekerja di kebunnya, tanpa ada kesepakatan upah. Ada kemungkinan para pekerja tersebut pasrah pada pemberian majikan tersebut.

Saudara dan saudari, perumpamaan ini bisa dibaca dalam bentuk “warning” untuk orang Yahudi yang memiliki status bangsa pilihan. Mendapat status bangsa pilihan tidak berarti bahwa posisi mereka dalam “kerajaan” berbeda dengan yang lain. Dalam Kerajaan Allah, siapa saja mendapat tempat yang sama. Allah tidak membedakan orang.

Kisah ini juga bisa dibaca sebagai peringatan untuk mereka yang dekat dengan Yesus atau yang merasa dekat dengan Yesus, termasuk para pejabat Gereja. Status menjadi pejabat gereja tidak mengubah status sebagai Kristen. Setiap orang Kristen sama kodratnya. Sama-sama anak-anak Allah. Entah orang mengenal dan kemudian menjadi Kristen belakangan dari yang lain, di kerajaan yang akan datang status sama saja. Setiap orang yang datang pada Allah dihargai dan dinilai sama oleh Allah.

Kisah ini bisa juga dibaca dalam terang “compassion”. Allah berbela rasa dengan orang-orang. Karena itu Allah bersedia “mencari” orang-orang yang mau masuk ke dalam kebahagiaan bersama-Nya. Allah tidak berhitung soal waktu atau materi. Untuk Allah manusia jauh lebih berharga dibanding hal-hal yang lain. Karena itu Allah begitu murah hati kepada siapa saja. Allah tidak membeda-bedakan siapa saja. Allah mengharapkan siapa saja untuk berbahagia bersama Dia di surga.

Read Full Post »

Ketika Misa di Clare High School tadi pagi, saya tanya siswa-siswi yang ikut Misa; “Why do you think Jesus said that ‘it will be hard for a rich man to enter the kingdom of heaven’?” Perkataan Yesus ini terdapat dalam Injil Matius 19:23-30. Jawaban mereka beragam. Ada yang bilang karena banyak mereka jadi kaya karena “greedy”. Ada juga yang katakan bahwa orang kaya sering begitu focus pada hartanya dan lupa pada yang lain, termasuk Allah. Ada beberapa jawaban yang lain yang saya tidak ingat.

Jawaban anak-anak high school tersebut menarik sekali. Kalau kita baca apa kata para ahli tafsir Kitab Suci, jawaban yang kurang lebih sama yang akan kita temukan. Rupanya anak-anak high school juga “tahu” alasan Yesus mengatakan demikian.

Membaca Injil ini, kita tak bisa lepas dari konteks yang lebih luas, yakni kisah pemuda kaya yang terdapat dalam perikope sebelumnya, Matius 19:16-22.

Sekarang saya mau mengajak Anda sekalian mendekati Injil ini lebih dekat. Kekayaan bisa membuat orang tergantung pada harta benda. Ketika seseorang memiliki “segalanya” kadang mereka berpikir bahwa mereka bisa mengatasi hampir semua yang akan terjadi pada diri mereka. Kadang mereka berpikir, “saya kaya, memiliki apa saja dan sanggup memiliki semua yang aku mau, jadi aku tak butuh apa-apa lagi”. Kekayaan juga bisa membuat orang berpikir bahwa ia sanggup membeli kebahagiaan dan dengan hartanya ia sanggup membayar biaya supaya tidak menderita. Mereka berpikir mereka sanggup melakukan segalanya dan mereka tak butuh Allah lagi.

Padahal dalam hidup ini banyak hal yang kita hanya bisa “terima”. Banyak hal tak bisa kita atur dan tak bisa kita beli. Dalam hidup ini tak jarang kita hanya pasrah, karena ada sutradara yang sudah mengatur jalannya “peran” kita.

Di samping alasan yang telah disebut di atas, kekayaan juga cendrung membuat orang “selfish”. Dengan memiliki kekayaan yang berlimpah orang menjadi semakin ingin mengembangkannya dan memperkaya diri. Kata orang “tak ada kata cukup bagi manusia”. Juga dengan memiliki banyak kekayaan orang cendrung “takut” kalau-kalau kekayaannya suatu saat hilang. Jadi hidupnya menjadi sebuah perjuangan untuk mempertahankan kekayaan. Yesus berkata bahwa di mana hartamu ada, di situ juga hatimu. Kekayaan menjadikan manusia menjadi begitu “terpesona” dengan dunia dan kekayaannya, sehingga lupa pada dunia yang lain. Kekayaan begitu merangsang untuk melihat hanya yang kelihatan, dan melupakan bahwa ada kenyataan yang tak kelihatan. Kekayaan sering menjadikan orang begitu terpikat dengan dunia sampai lupa akan keindahan surgawi.

Dalam Injil ini Yesus sama sekali tidak berkata bahwa orang kaya tak mungkin masuk surga. Yesus hanya berkata orang kaya sulit masuk surga. Yesus juga tidak berkata bahwa mereka yang memiliki harta yang banyak kepada mereka pintu surga akan tertutup. It is not that those who have riches are shut out. Juga kekayaan bukanlah dosa. Pada dasarnya kekayaan baik. Tetapi dalam diri kekayaan terkandung “suatu bahaya” dan itu sudah disebut di atas. Ketika seseorang karena kekayaannya berpikir bahwa dia tak butuh siapa-siapa lagi dan juga tak butuh Allah, maka kekayaan menjadikan dia jauh dari surga. Di lain pihak, ketika kekayaan dipakai untuk kebaikan bersama dan untuk kebesaran kemuliaan Allah, maka kekayaan akan mendekatkan orang tersebut ke surga.

Saudara dan saudari, menjadi Kristen berarti mengantungkan diri kepada Allah. Menjadi Kristen berarti mempercayakan diri pada Allah. Kita butuh bantuan dan pertolongan Allah. Kita butuh pengampunan dari Allah. Dengan menjadi Kristen kita akan diganjari ratusan kali lipat bukan hanya kekayaan material, tetapi juga persaudaraan dalam nama Yesus. Kita menjadi saudara dan saudari satu sama lain secara manusia dan secara ilahi.

Mari memakai kekayaan dan talenta kita untuk kebaikan bersama dan untuk kebesaran kemuliaan Allah. Dengan memberi kita mendapat, dengan menyimpan kita kehilangan.        

Read Full Post »

Menarik sekali merenungkan Injil Matius 19:16-22 ini. Ketika pemuda kaya tersebut datang pada Yesus untuk menanyakan perbuatan baik apa yang harus ia lakukan supaya beroleh hidup kekal, ia datang pada Yesus dengan konsep “hukum dan peraturan”. Yesus memberi jawaban yang “sesuai dengan pikiran orang tersebut”. Yesus meminta dia untuk melaksanakan apa yang tertulis dalam hukum Musa. Pemuda itu mau supaya Yesus memberitahu secara detail. Maka Yesus meminta dia untuk melaksanakan perintah “bagian kedua” dari Sepuluh Perintah Allah.

Menarik sekali bahwa Yesus hanya meminta pemuda tersebut melaksanakan perintah yang berhubungan dengan “tanggung jawab” kepada sesama. Yesus sama sekali tidak menyinggung tentang perintah yang menggariskan kewajiban kepada Allah (bagian pertama Sepuluh Perintah Allah).

Pemuda tersebut dengan yakin mengatakan bahwa ia sudah melaksanakan semuanya itu. Ia mau lebih. Yesus memberi tantangan yang luar biasa untuk pemuda tersebut. Kalau kau mau sempurna, jual semua milikmu dan beri hasil penjualannya kepada orang miskin dan ikutilah Aku, demikian tantangan Yesus.

Dari sini kita bisa menarik beberapa nilai yang mau diajarkan pada kita. Pertama-tama, mungkin saja secara “hukum” pemuda tersebut telah melaksanakan semua perintah yang dikatakan oleh Yesus untuk dia lakukan. Tetapi secara rohani dia belum melakukan hukum-hukum tersebut. Pada dasarnya ia tidak melakukan hukum cinta pada sesama. Ia begitu “selfish”.

Pemuda tersebut begitu yakin bahwa ia bisa memperoleh kebahagiaan sempurna dalam kerajaan Allah hanya dengan menjalankan hukum dan peraturan. Padahal untuk menjadi ahli waris kerajaan Allah dibutuhkan sesuatu yang melebihi hukum dan peraturan. Kebahagiaan surgawi diperoleh lewat tindakan mencinta dan kesediaan berkorban demi sesama.

Kalau kita ingin bahagia, damai di hati, tenang di pikiran, puas, dan dekat dengan Allah, maka kita harus mengikuti jejak cinta dan perhatian Allah yang Allah tunjukkan kepada kita dalam sejarah keselamatan.

Mari mencintai manusia lebih dari cinta kita pada barang-barang. Dengan mencintai manusia, kita memancarkan cinta Allah kepada sesama.  

Read Full Post »

Minggu Biasa XIX, Tahun A

Injil Matius 14:22-33

 

Saudara dan saudari mungkin kita pernah mendengar lagu “…You raise me up so I can stand on mountain. You raise me up to walk on stormy sees. I am strong when I am on your shoulders. You raise me up to more than I can be…”Nilai dan arti lagu ini kiranya bisa membantu kita untuk merenungkan Injil hari ini.

Saudara dan saudari pada hari Minggu biasa XVIII kita mendengar karya ajaib Yesus dengan memberi makan ribuan orang. Kali ini kita mendengar lanjutan dari Injil tersebut. Karya ajaib kali ini jauh lebih menakjubkan, meski pesannya lebih kurang sama dengan pesan Injil Minggu lalu. Dikisahkan, setelah Yesus memberi makan lima ribu orang laki-laki, belum terhitung wanita dan anak-anak, Ia menyuruh murid-murid-Nya pergi ke seberang danau mendahului Dia. Kemudian Ia juga mengutus orang banyak pulang ke rumah masing-masing. Ia tinggal seorang diri. Ia naik ke bukit dan berdoa. Ketika Ia sedang berdoa, para murid sedang berjuang melawan danau yang sedang mengamuk. Ombak besar menghantam perahu mereka. Mereka ketakutan.

Menarik sekali melihat peristiwa ini secara dekat. Para murid berlayar tanpa Yesus dalam perahu mereka. Mereka berjuang sendirian. Mereka berlayar tanpa Yesus. Dalam pelayaran tanpa Yesus ini mereka dihantam badai yang menakutkan mereka. Perahu mereka oleng ke sana ke mari. Tak banyak kemajuan dalam perjalanan tanpa Yesus tersebut.

Mengetahui bahwa murid-murid-Nya ketakutan menghadapi ombak yang dasyat, Yesus datang menolong. Ia ternyata tak “terlalu sibuk” dengan Allah. Ia meninggalkan doa-Nya dan datang menyelamatkan murid-murid. Dia berjalan di atas air yang mengamuk. Amukan air tak terasa oleh Yesus. Gelombang badai bagaikan air tenang ketika Yesus berjalan di atasnya. Dasyat sekali. Dengan Injil ini mau dikatakan pada kita dengan tegas sekali bahwa kapan dan di mana saja ada kesulitan, Yesus selalu hadir pada waktu yang tepat.

Sebelum Yesus sampai di kapal, para murid melihat sosok yang berjalan di atas air. Mereka ketakutan dan berteriak-teriak. Ketakutan karena amukan danau bertambah dengan ketakutan melihat sosok yang berjalan di atas air. WOW. Saudara dan saudari kehadiran Yesus sering menakutkan untuk banyak orang. Kehadiran Yesus mereka rasa mengancam “kesenangan” mereka. Kehadiran Yesus diyakini mengganggu. Kehadiran Yesus yang menyelamatkan dan membawa damai sering dilihat sebagai ancaman atas “kesenangan sendiri”.

Dalam situasi yang takut bukan kepalang, Yesus dengan suara yang jelas dan penuh damai berkata: “Ini Aku. Jangan TAKUT.” Mengetahui bahwa Yesus yang berjalan di atas air, Petrus dengan spontan meminta supaya Yesus juga menyuruhnya berjalan di atas air. Yesus berkata: “Mari”. Petrus berjalan di atas air. Ia datang kea rah Yesus. Angin putting beliung yang sedang mengamuk tak terasa olehnya. Selama ia memandang Yesus dan yakin pada Sabda Yesus, ia berjalan “lenggang kangkung” di atas danau yang menggelegar. Namun ketika ia mulai mengalihkan perhatian dari Yesus, ia di hantam oleh badai.

Saudara dan saudari, badai tetap di sana. Hanya pada kasus pertama, Petrus begitu focus pada Yesus dan badai seakan tak berdaya menggoyahkan dia. Kemudian ketika ia mulai mengurangi perhatiaannya pada Yesus badai menjadi penuh daya menggoyangkannya dan hampir menenggelamkannya.

Di lain pihak kita juga melihat pribadi Petrus yang sangat spontan. Dia “agak sering” bertindak berdasar emosi yang meluap-luap. Ia kadang tak memberi waktu untuk mencerna dan berpikir. Ia segera melampiaskan “emosinya”. Mungkin istilah salah satu suku di Indonesia tepat melukiskan pribadi ini: “Kalau berani hantam saja, persoalan belakangan.” Petrus tak menghitung lebih dahulu resiko dari “permohonannya”. Pelajaran ekonomi, moral dan iman kita dapat di sini. Sebelum bertindak, hitung dulu kekuatan, untung rugi dan konsekwensinya. Tidak semua yang kita ketahui harus dikatakan, tetapi semua yang kita katakana harus diketahui.

Pribadi Petrus yang demikian kita lihat juga ketika ia dengan gagah perkasa mengatakan bahwa ia akan setia pada Yesus hingga titik darah penghabisan yang terakhir, tetapi tak lama sesudah itu ia menyangkal Yesus tiga kali.

Meski demikian Petrus adalah pribadi yang jujur dengan pikiran dan perasaannya. Ia jujur mengakui kesalahannya. Kejatuhan yang ia alami bukan menjauhkan dia dari Yesus, tetapi malah mendekatkan dia pada Yesus. Cintanya pada Yesus menjadi semakin berkobar-kobar. Kita melihat pelajaran berharga yang lain di sini. Menjadi orang kudus tidak sama dengan hidup tanpa dosa dan kesalahan, tetapi berani mengakui kesalahan dan bertobat.

Saudara dan saudari, pelajaran apa lagi yang dapat kita petik dan hidupi dari Injil ini??? Seperti sudah dikatakan sebelumnya, tanpa Yesus dalam perahu mereka, para murid dihantam badai dan mereka ketakutan. Hal yang sama berlaku untuk kita. Tanpa Yesus dalam diri kita, kita akan dintam oleh badai kehidupan. Tanpa Yesus dalam keluarga kita, badai sekecil apapun akan memabuat kita terombang-ambing. Tanpa Yesus dalam rumah kita, rumah kita akan sulit tentram dan damai.

Dalam hidup ini selalu ada badai. Kita sering terguncang karena menghadapi badai yang setiap hari menimbulkan gelombang. Kadang kita menghadapi badai keluarga, badai dengan pimpinan, badai dengan kawan kerja, badai dengan suami, badai dengan istri, badai dengan pekerjaan, badai dengan lingkungan dan begitu banyak macam badai. Tetapi dalam semuanya itu, kita tidak pernah ditinggalkan sendirian. Yesus selalu hadir bersedia menolong. Yesus selalu hadir pada waktu yang tepat. Hanya kita perlu focus dan berserah pada Yesus. Yesus akan datang dan berkata: “Ini Aku. Jangan takut.” Ia akan mengulurkan tangan-Nya dan menolong kita, menguatkan kita.

Bersama Yesus kita aman, damai, kuat, gembira, dan sanggup hidup dalam damai meski badai mengamuk. Jauh dari Yesus kita tergoncang dan ketakutan.

Saudara dan saudari mari menyadari kehadiran Yesus dalam hidup kita. Berserah pada-Nya dan Dia akan menolong dan menguatkan kita. Dan kalau demikian kita akan bernyanyi: “…You raise me up so I can stand on mountains…”

Read Full Post »

Matius 17:14-20

Saudara dan saudari, menarik dan menyentuh sekali membaca Injil ini. Kalau kita mundur sejenak dan membaca kisah-kisah sebelumnya, maka kita tahu bahwa Yesus baru saja turun dari gunung (cf. Matius 17:1-9). Yesus dan ketiga murid-Nya baru saja pulang dari “retreat” di gunung transfigurasi. Segera setelah Yesus turun dari gunung, Ia langsung berhadapan dengan kenyataan hidup harian yang kadang menyedihkan. Baru saja Yesus mengalami kemuliaan Ilahi di atas bukit tersebut, Ia langsung dihadapkan dengan derita manusiawi. Baru saja suara Allah yang agung dan mulia didengar-Nya, kini ini mendengar tangisan manusia meminta pertolongan-Nya. Sungguh menyentuh.

Dikisahkan, seorang ayah datang pada Yesus dan berlutut penuh hormat di hadapan-Nya. Ia memohon pada Yesus supaya Yesus bersedia menyembuhkan anaknya yang menderita penyakit ayan. Penyakit anak tersebut sungguh berbahaya bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk orang lain. Ayah tersebut sungguh membutuhkan pertolongan Yesus. Uluran tangan Yesus menjadi tumpuan harapannya.

Membaca Injil hari ini kita akan tergerak dan saya bayangkan harus tergerak dan tersentuh. Mengapa? Ayah si anak tersebut sudah datang pada murid-murid Yesus (cf. ay. 16). Tetapi murid-murid tidak sanggup menyembuhkannya, meski Yesus sensiri sudah memberi kekuatan kepada mereka untuk mengusir setan dan menyembuhkan semua penyakit (cf. Matius 10:1). Gagal dari murid-murid Yesus, ayah si anak tak putus harapan. Ia percaya Yesus sanggup berbuat seuatu. Ia datang pada Yesus dan mengungkapkan harapannya dan doanya. Dia tak pernah ragu akan kuasa Yesus. Dia percaya di dalam Yesus semua harapannya dan doanya akan terjawab dan akan dipenuhi. Kepercayaan yang dasyat.

Saudara dan saudari, apa yang dapat kita pelajari dari Injil ini? Satu hal yang sangat jelas ditekankan ialah jangan pernah kehilangan iman dan harapan kepada Yesus. Meski kadang kita agak kecewa dengan Gereja yang adalah murid-murid Yesus pada zaman ini, mari tetap yakin bahwa masih ada Yesus tempat kita bisa mencurahkan semua uneg-uneg dan permohonan kita. Yesus selalu hadir dan bersedia menolong. Yesus mahakuasa dan mahadasyat. Dia sanggup menolong dan menyelamatkan kita. Kita hanya butuh untuk datang pada Yesus dan berlutut penuh hormat di hadapan-Nya maka Yesus akan mengulurkan tangan dan menolong kita.

Yesus selalu tanggap dengan derita dan perjuangan kita. Kita hanya butuh percaya dan berserah pada kekuatan Yesus. Percaya menjadi kata kunci. Tanpa “percaya” banyak hal menjadi mustahil. Dengan percaya, tak ada yang mustahil. Dengan percaya, kita melihat bahwa selalu ada jalan. Saudara dan saudari, kalau kita punya iman, semua kesulitan yang kita hadapi akan bisa kita atasi. Iman pada Allah adalah kekuatan kita untuk melakukan tugas-tugas kita, Iman pada Allah akan memampukan kita bahkan untuk melakukan tugas yang paling berat sekalipun. Iman pada Allah adalah senjata dan tenaga kita untuk memindahkan gunung-gunung kesulitan yang memblok jalan dan langkah-langkah kita. If there is faith, nothing is impossible.        

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.