Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘renungan’ Category

Lahir dalam keluarga besar, tradisonal, dan petani mempengaruhi saya dalam membaca Injil ini, Matius 20:1-16a. Saya ingat kalau musim panen tiba, kami sebagai satu keluarga semua ikut memanen. Bapak dan abang-abang akan lebih dahulu perki ke kebun dan mereka akan bekerja lebih dahulu. Sementara adik-adik masih tidur. Ibu memasak untuk sarapan pagi dan untuk makan siang. Bapak dan abang-abang akan pergi ke kebun sebelum serapan, mereka pergi segera setelah matahari terbit. Sementara yang kecil-kecil tak akan pergi kemana-mana kalau belum serapan. Nah, setelah sarapan adik-adik kecil bersama ibu turut bergabung ke kebun. Di kebun adik-adik kecil jauh lebih tertarik bertanya hal-hal yang “bodoh” dan lebih suka mengganggu para pekerja dibanding membantu bekerja.

Ketika matahari hampir terbenam, ibu dan adik-adik kecil pulang ke rumah lebih dahulu. Makan malam disiapkan dan dihidangkan. Semua berkumpul untuk menikmati makan malam. Apakah sebelum makan malam ada dari antara kami yang mengatakan bahwa kami makan seturut kerja yang sudah kami lakukan?? Sama sekali tidak. Bahkan tak jarang terjadi, adik yang tadinya datang ke kebun lebih lambat dan pulang ke rumah lebih cepat mendapat makanan yang paling enak. Dan lagi, tak seorang pun cemburu atau keberatan, semua senang.

Dalam Injil Matius ini kita membaca kisah seorang petani yang akan memanen hasil kebunnya. Ia seharin berkeliling mencari pekerja, karena memang ia sangat butuh banyak tenaga. Panennya harus segera di petik dan tak ada waktu untuk menunda. Menurut para ahli panen anggur di Israel ialah akhir September dan segera setelah itu akan musim hujan. Anggur yang telah matang harus segera dipanen sebelum musim hujan, kalau tidak maka panen akan gagal.

Karena itu masuk akal kalau pemilik kebun tersebut berkeliling seharian mencari pekerja. Semua pekerja diterima, tak peduli berapa lama orang tersebut bisa membantu memetik. Setiap tenaga pemetik meski hanya satu jam berguna. Lalu orang yang berdiri di pasar tersebut bukanlah orang yang menghabiskan waktu bermalas-malas. Mereka adalah orang-orang yang mencari kerja demi sesuap nasi. Sebelum matahari terbenam, mereka ini tetap yakin dan berharap akan ada orang yang butuh tenaga mereka dan bersedia memberi mereka pekerjaan. Untuk mereka pekerjaan sangat penting, kalau tidak anak-anak mereka akan merana dan lapar.

Lantas dalam Injil ini kita membaca bahwa mereka yang datang lebih awal dan yang datang kemudian mendapat “upah” yang sama. Mereka diperlakukan sama oleh majikan tersebut. Pekerja yang telah bekerja terlebih dahulu mulai keberatan dan bersungut-sungut. Mereka keberatan karena upah mereka disamakan dengan upah yang hanya bekerja sehari. Mereka merasa diperlakukan tidak adil.

Benarkah tindakan majikan tersebut tidak adil? Apa definisi adil? Adil berarti memberikan kepada seseorang yang menjadi haknya. Nah, apakah majikan tersebut merampas hak para pekerja itu? Jawabanya jelas tidak. Majikan itu tidak merampas hak pekerja tersebut. Kalau kit abaca Injil tersebut dengan teliti maka kita dapati bahwa pekerja yang masuk pertama telah sepakat dengan majikan itu untuk bekerja seharian dan akan mendapat upah sedinar sehari. Majikan itu membayar upah seturut perjanjian tersebut. Majikan tersebut sama sekali tidak mengurangi sedikitpun dari perjanjian mereka.

Lalu dalam kasus pekerja yang datang kemudian, majikan itu juga memberi mereka seturut hak mereka, hanya dalam hal ini majikan tersebut sangat murah hati. Ia tidak hanya memberi mereka seturut “upah” tetapi juga menurut ukuran “kasih”.

Nah apa mau dikatakan oleh Injil ini untuk kita? Injil ini berbicara tentang Kerajaan Allah. Dalam kerajaan Allah semua orang diperlakukan sama. Dalam kerajaan Allah kita semua saudara dan saudari. Kita semua satu keluarga. Kalau kita satu keluarga maka kita tak akan keberatan kalau orang lain “seakan-akan” lebih beruntung dari kita. Kenapa? Karena mereka juga anggota keluarga kita. Injil ini mengajak kita untuk memperlakukan orang lain sebagai anggota keluarga, yang kita cintai dan hormati.    

Read Full Post »

Terlahir dalam keluarga petani membuat saya bisa memahami Injil ini, Lukas 9:23-26, lebih mudah. Setiap petani tahu bahwa benih yang ditanamnya tak akan tumbuh semuanya. Sebagian benih tak akan pernah tumbuh dan sebagian akan tumbuh dan segera mati dan sebagian lagi akan tumbuh tetapi tidak menghasilkan. Tetapi kanyataan ini tidak membuat petani menjadi berhenti bertani atau berhenti menabur benih. Kenyataan bahwa sebagian benih tak akan tumbuh tak akan mengurangi semangat petani untuk menabur benih, malah itu menjadi tantangan untuk mencari bibit yang lebih baik dan berkwalitas. Petani tahu meski sebagian benih akan gagal, tetapi saat untuk panen pasti datang.

Hal yang sama dengan Sabda Allah, Allah tahu bahwa tak semua orang akan menerima Sabda-Nya. Sebagian akan menolak dengan keras Sabda Allah dan bahkan sebagian lagi bukan hanya menolak, tetapi juga membunuh pewarta Sabda tersebut, seperti kita tahu yang dilakukan oleh orang-orang Korea ratusan tahun tahun yang lalu kepada para missionaries Katolik yang mewartakan Injil ke Korea. Ratusan mereka dibunuh, termasuk Andrew Kim Taegon dan Paul Chong Hasang.

Sebagian orang lain bersedia mendengar Sabda Allah, tetapi tak mau mempraktekkannya. Mereka dengar dan segera melupakan.

Tetapi kenyataan demikian tidak membuat Allah berhenti bersabda. Allah tetap menaburkan benih Sabda-Nya di dunia ini. Allah tak pernah menjadi “malas” untuk mewartakan Sabda. Allah tahu dengan pasti bahwa saat untuk memanen akan datang.

Hal yang sama misalnya kalau Anda berbisnis, Anda tahu dengan pasti bahwa tak semua barang dagangan Anda akan terjual, sebagian akan menghiasi toko dan pada akhirnya harus dibuang, meski demikian kenyataan tersebut tidak membuat Anda berkecil hati dan berhenti berbisnis, malah sebaliknya membuat Anda semakin terpacu untuk mencari strategi berbisnis yang lebih canggih.

Injil hari ini sebenarnya mengundang kita semua untuk tidak menyerah, untuk tidak putus asa, untuk tidak menjadi “discourage”. Dalam kenyataan sehari-hari, mungkin anak-anak tak mau lagi ke Gereja, mungkin tak bersedia lagi membaca Kitab Suci, mungkin tak mau lagi ikut sacramental program,dll. Dengan Injil hari ini kita diingatkan untuk tidak menyerah, tetapi berjuang untuk membawa mereka ke pangkuan Kristus. Kita diundang untuk mewartakan Injil pada mereka lewat perbuatan dan perkataan. Dengan Injil ini juga kita diyakinkan bahwa panen pasti datang, kita akan menjadi pemenang. Lihat kisah St. Monica yang berjuang untuk membawa suami dan anaknya ke pangkuan Gereja. Perjuangannya membawa hasil.

Contoh yang paling tepat untuk hari ini ialah kehidupan St. Andrew Kim dan St. Paul Chong. Kematian mereka dalam mewartakan Injil tak menghentikan pewartaan Injil di Korea, malah membuat para pewarta yang lain semakin berkobar-kobar dan bersemangat dalam mewartakan Injil. Dan hasilnya kita bisa lihat bahwa Gereja di Korea merupakan salah satu yang paling cepat bertumbuh. Injil mengalami masa panennya. So dear friends, do not discourage and never despair!!

Read Full Post »

Saudara dan saudari, kabar gembira hari ini boleh dikatakan sangat sederhana. Tak banyak yang terjadi dan seakan hanya laporan singkat bahwa Yesus sedang dalam perjalanan dan Dia ditemani oleh sekelompok wanita. Tetapi kalau kita baca Injil ini, Lukas 8:1-3, dengan teliti, beberapa pesan yang sangat dalam dinyatakan kepada kita secara jelas meski agak terselubung.

Pesan pertama yang boleh kita tarik ialah bahwa Yesus mewartakan Injil tanpa batas ruang dan waktu. Ia tak membatasi mana tempat suci dan mana tempat yang tak suci. Yesus juga tidak membatasi pewartaan Injil hanya di rumah ibadah. Untuk Yesus semua tempat dan semua situasi bisa menjadi lahan yang subur untuk pewartaan Injil. Kata-kata bijaksana berikut mungkin sedikit membantu kita untuk memahami pesan pertama ini. “Jangan berdiam diri menunggu peluang, ciptalah peluang!”

Pesan berikut ialah kesatuan kelompok wanita tersebut. Jelas sekali dikatakan dalam Injil siapa saja mereka, bahkan termasuk latar belakang mereka. Di sana ada Mary Magdalene, yang darinya Yesus mengusir tujuh roh jahat. Maka dari gambaran singkat ini kita bisa katakan bahwa Mary Magdalene mempunyai masa lampau yang “gelap” dan agak suram. Di sana juga ada Yohana, istri dari bendahara Herodes. Ia pastilah dari kelompok terpandang dengan latar belakang yang makmur dan sejahtera. Ia juga masuk dalam kelompok “terhormat”. Nah, dari gambaran singkat ini kita bisa katakan bahwa menarik sekali mengamati bahwa orang yang berbeda sekali latar belakangnya bisa bersama-sama dalam satu group dan mereka semua tetap dengan kepribadian masing-masing.

Lalu apa pesannya? Pesannya ialah Yesus itu dasyat. Di dalam Yesus semua orang bisa bersatu padu dan tak seorang pun kehilangan identitas. Semua orang diterima dalam barisan para pengikut Yesus tanpa harus menghilangkan kepribadian masing-masing. Dalam Yesus, Gereja, bersatu padu dari semua lapisan dan golongan, dari semua warna kulit dan ras, dari semua bahasa dan bangsa. Semua membaur menjadi satu keluarga. Mungkin saudara-saudara yang di Australia pernah mendengar iklan “Telstra” yang berbunyi ‘We are one, but we are many.’ Ungkapan iklan tersebut bisa juga dikenakan pada pengikut Yesus, meski harus ditambahkan juga dengan ‘We are many but we are one.’

Pesan ketiga ialah, tak ada talenta yang tak berguna untuk pewartaan kerajaan Allah. Kita lihat dengan jelas bahwa wanita-wanita tersebut karena budaya dan lain hal “tak mungkin” menjadi “rasul”, tetapi mereka sadar bahwa mereka bisa berbuat banyak mendukung pewartaan para rasul. Mereka mendampingi para rasul. Mereka mendukung para rasul secara finasial. Mereka membuat yang terbaik yang bisa mereka buat. Membaca Injil ini saya jadi teringat akan beberapa keluarga yang rajin mengantar makanan pada saya. Biasanya mereka antar makanan pada weekend, karena mereka tahu pada hari Senin kami “day off” dan tak ada yang memasak di Pastoran. Saya biasanya tinggal sendiri di rumah dan makan apa yang ada di kulkas, yang tersisa dari hari-hari sebelumnya. Mengetahui itu keluarga-keluarga tersebut mengantar makanan yang sungguh enak dan dengan mengantar makanan itu mereka telah membantu “pewartaan Sabda Allah” secara tak langsung. Kadang mereka juga mengantar makanan untuk dinner saya, karena di pastoran tempat saya tinggal tidak disediakan makan malam, kalau mau makan malam kami harus urus sendiri (pada umumnya makan makanan yang tersedia di kulkas – kalau ada).

Dengan Injil hari ini dengan jelas dikatakan pada kita para pengikut Kristus, bahwa tak ada talenta yang tak berguna untuk Kristus. Yesus Kristus sanggup mengolah talenta yang paling kecil sekalipun menjadi dasyat (lihat saja perumpamaan tentang ‘Yesus memberi makan lima ribu orang’ – bukankah kepada Yesus hanya diberi dua lima roti dan dua ikan dan dari makan yang sedikit tersebut Yesus membuat makanan yang luar biasa banyak).

Kehadiran dan dukungan wanita-wanita tersebut membuat pewartaan Yesus dan para pengikut-Nya berjalan lebih baik. Yesus dan para pengikut-Nya tak perlu lagi susah-susah memikirkan makanan, sebab ada yang menyiapkan makanan. Mereka tinggal focus pada pewartaan Injil. Jadi saudara dan saudari tak ada talenta yang tak berguna, semua berguna kalau kita sumbangkan untuk Yesus. Percayalah bahwa tak selalu orang yang tampil yang terbaik, sering justru yang bermain di belakang layer yang melakukan perkerjaan yang terbaik. Mereka ini meski tak kelihatan, ‘pahlawan tak dikenal’, tetapi mereka essential untuk kehidupan Gereja.  

Read Full Post »

Menarik sekali membaca ceritera yang terdapat dalam bacaan Injil hari ini, Lukas 7:36-50. Dikisahkan, Simon seorang Farisi mengundang Yesus untuk makan ke rumahnya. Mendengar kata Farisi, para pembaca mungkin langsung berpikir bahwa kaum ini biasanya “bermusuhan” dengan Yesus. Ternyata ada juga farisi yang mau mengundang Yesus makan di rumahnya. Ada kemungkinan Simon merupakan penggemar Yesus. Ia diam-diam menaruh minat dengan ajaran Yesus, karena itu ia tak segan-segan mengundang Yesus bertamu ke rumahnya dan makan bersama dia. Ada juga kemungkinan lain, mungkin saja Simon seorang “penggemar” kaum selebriti. Ia mengundang Yesus karena Yesus termasuk “selebriti” yang memiliki banyak penggemar. Jadi merupakan suatu “kehormatan” kalau bisa makan sehidangan dengan orang terkenal.

Entah apa alasan Simon mengundang Yesus, yang jelas Yesus memenuhi undangan tersebut. Yesus selalu melihat peluang dan siap dengan peluang yang ada. Yesus selalu siap mewartakan Injil, entah kapan dan di mana saja. Karena itu kesempatan mendapat undangan dari seorang Farisi merupakan kesempatan emas untuk secara langsung mewartakan Injil kepada orang Farisi tersebut dan kemungkinan besar kepada kaum farisi yang lain, yang mungkin hadir juga dalam “perayaan” tersebut.

Nah, merupakan kebiasaan dalam tradisi Yahudi kalau seorang yang diyakini sebagai guru berada di salah satu daerah dan atau sedang makan di salah satu rumah, orang-orang datang untuk mendengar kata-kata bijak yang keluar dari mulut guru tersebut. Untuk lebih memudahkan bisa kita bandingkan dengan situasi di Indonesia (khususnya di daerah), kalau salah satu keluarga mendapat tamu maka tetangga-tetangga akan datang berkerumun ke rumah yang mendapat tamu tersebut. Mungkin penjelasan singkat ini membantu untuk mengerti kehadiran wanita tersebut dalam acara makan bersama itu.

Sangatlah masuk akal kalau wanita itu telah mengetahui banyak hal tentang Yesus. Pekerjaannya membuat dia dengan mudah tahu banyak informasi. Ia seorang pelacur. Seorang pelacur mempunyai banyak “pelanggan”. Dari para pelanggan tersebut ia bisa mendengar begitu banyak informasi seputar apa saja. Di samping itu, sebagai “selebriti”, Yesus tentu hampir dikenali oleh semua orang pada masa itu. Ia menjadi buah bibir di mana saja. Kehadiran-Nya selalu menghimpun berjubel-jubel orang yang ingin mendengar kata-kata Ilahi-Nya dan ingin mendapat penyembuhan rohani dan jasmani. Mungkin saja wanita ini sadah lama ingin “bertobat” tetapi belum tahu bagaimana caranya dan siapa yang bisa membimbing. Maka kesempatan bertemu dan mendengar Yesus merupakan kesempatan yang sangat berharga dan dia nanti-nanti.

Ia datang ke rumah Simon. Ia dengar bahwa Yesus berada di sana. Ia mendengar kata-kata Sang Guru. Kata-kata itu menyentuh lubuk hatinya terdalam. Ia terkesima. Ia merasa hatinya teriris oleh dosa-dosa. Ia sadar ia sedang berhadapan dengan yang Kudus, Putera Allah. Ia bersimpuh di kaki Yesus. Air mata tak terbendung lagi, mengalir bagaikan sungai di musim hujan. Air mata tersebut menetes membasahi kaki Sang Guru Kehidupan. Disekanya kaki yang dibasahi air mata tersebut dengan rambutnya yang terurai. Kemudian diminyakinya kaki Yesus dengan minyak wangi, satu-satunya yang bisa dia persembahkan untuk Yesus.

Simon berang dengar pertunjukan tersebut. Ia menggerutu. Ia keberatan bahwa Yesus membiarkan wanita yang memiliki nama buruk melakukan hal demikian. Ia tak habis pikir.

Yesus, Sang Guru Kehidupan, tahu apa yang ada dalam hati Simon. Lagi-lagi, kesempatan ini digunakan oleh Yesus untuk mewartakan Injil Allah. Yesus menerangkan dengan contah yang jitu apa artinya cinta dan apa arti pengampunan. Yesus juga menerangkan dengan bahasa pendengarnya apa arti “tahu diri dan tahu dosa sendiri”.

Injil ini memberi gambaran yang jelas dua sikap manusia terhadap diri sendiri dan terhadap Allah.

Simon yakin dirinya orang yang baik. Ia percaya bahwa ia tak butuh belaskasihan dan tak butuh pertobatan. Ia sangat puas dengan kekudusannya di hadapan manusia dan di hadapan Allah. Karena ia yakin ia tak butuh kasih, maka ia juga tak butuh mengasihi. Ia juga tak merasa butuh pengampunan karena itu ia tak mendapat pengampunan.

Di lain pihak, wanita tersebut tahu dirinya orang yang berdosa. Ia butuh belaskasih Allah. Ia butuh pengampunan dari Allah. Ia tahu bahwa tanpa kasih Allah, ia tak berarti apa-apa. Karena itu ketika ia berhadapan dengan Allah Putera, ia mencurahkan cinta yang sungguh melampaui kebiasaan. Kalau kebiasaan orang Yahudi membasuh kaki dengan air, ia membasuh kaki Yesus dengan air mata. Kalau orang Yahudi mengeringkan kaki yang baru dibasuh dengan “handuk”, ia mengeringkan kaki yang baru dibasuh tersebut dengan rambutnya. Kalau kebiasaan Yahudi meminyaki kepala tamu dengan minyak wangi, ia meminyaki kaki Yesus dengan minyak yang jauh lebih wangi. Ia tahu bahwa ia perlu menebuh dosa-dosa tersebut dengan cinta yang sungguh-sungguh.

Allah berbelaskasih dan selalu bersedia mengampuni. Kita hanya butuh datang dan mohon ampun dan melalukan perbuatan cinta. Allah selalu menunggu kita untuk datang pada Allah dan menyerahkan diri pada belas kasih-Nya. Allah selalu siap merangkul kita kembali, entah seberapa besar dosa kita. Yang dibuthkan hanya kerendahan hati mengakui bahwa kita berdosa dan butuh belaskasih Allah.

Read Full Post »

Sebenarnya sangat sulit dimengerti bahwa ada orang ribuan tahun sesudah peristiwa penyaliban Yesus mengalami luka-luka yang sama dengan Yesus tanpa pernah disalibkan. Meski sangat sulit dimengerti namun itu tak sama dengan tak mungkin terjadi. Kenyataan terbaru adalah yang dialami oleh Padre Pio. Ia menerima stigmata secara “ajaib”. Kelima luka Yesus secara ajaib menjadi luka dalam diri Padre Pio. Kedua tangannya berlubang bagaikan ditusuk dengan paku, demikian juga dengan kakinya dan bahkan lambangnya. Ilmu pengetahuan tak sanggup menjelaskan kenapa.

Pada hari ini, 17 September, kaum Franciscan merayakan “Stigmata St. Francis”. Pada tahun 1224 Francis dengan beberapa saudaranya pergi ke gunung La Verna. Kepergiannya ke sana untuk mempersiapkan diri secara rohani menyambut perayaan St. Gabriel Malaikat Agung. Francis ingin siap secara rohani menyongsong perayaan besar tersebut. Di bukit yang terpencil dan sangat curam tersebut ia berdoa secara khusuk dan bertapa secara sungguh-sungguh. Ia ingin menguasai seluruh nafsu badaninya dan mengerahkan semua tenaganya untuk yang Ilahi.

Ketika ia sedang asyik berdoa, seorang saudara datang “mengintip” apa yang dia perbuat, mengetahui hal itu, Francis berpindah tempat. Ia tak ingin terganggu dan tak ingin menjadi ganguan untuk para saudara yang lain. Ia pergi jauh sekali. Di sana ia berdoa dan bermeditasi sedalam-dalamnya. Khusuk bukan main.

Saat ia sedang berdoa, tiba-tiba ada cahaya memancar dari langit. Lalu muncul sosok bercahaya, bagaikan seraph dengan enam sayap yang berkilauan. Tak lama setelah itu muncul image Kristus yang tersalib. Francis menikmati pemandangan ini. Ia begitu terpesona dengan penampakan tersebut. Ia terbawa pada kedalaman terdalam doa yang dalam. Sungguh tak terlukiskan.

Francis adalah seorang pencinta salib yang luar biasa sekali. Ia begitu terkesima dengan perendahan diri Yesus di salib. Ia begitu terharu bahwa Yesus – Putera Allah bersedia mati di salib demi dosa-dosa manusia. Ia begitu tak habis pikir bahwa Allah begitu cinta pada manusia, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang percaya beroleh hidup yang kekal. Francis begitu tersentuh dengan salib Kristus. Ia rindu pada salib.

Setelah penampakan tersebut hilang, secara ajaib, dalam diri Francis hadir luka-luka yang dialami Yesus ketika Yesus di salibkan. Kaki dan tangan Francis berdarah dan berlubang bagaikan ditusuk paku. Lambungnya mengeluarkan darah. Sakit sekali. Namun Francis menerima derita tersebut dan bersyukur pada Yesus karena ia diberi kesempatan mengalami penderitaan Yesus di salib.

Injil hari ini, Lukas 9: 23-27, melukiskan bagaimana seorang pengikut Yesus harus menyangkal diri dan memikul salib untuk mengikuti Yesus. Menyangkal diri berarti meniadakan diri. Menganggap diri tak ada dan membiarkan kehendak Allah terjadi dalam diri. Meninggalkan kesenangan pribadi dan melaksanakan apa yang menyenangkan untuk Allah. Menjadikan Allah semakin dimuliakan dan diri sendiri semakin “kecil’.

Yesus juga mengatakan bahwa orang yang mau mengikuti Dia harus memikul salib. Memikul salib berarti siap untuk menanggung segala kemungkinan yang terjadi karena kesetiaan pada Kristus. Memikul salib berarti siap menanggung kemungkinan terburuk demi iman akan Kristus. St. Francis meninggalkan kesenangan duniawi demi mengikuti Yesus Kristus. Ia meninggalkan kekayaan dan keterjaminan hidup demi mengikuti Yesus.

Kemudian dalam Injil dikatakan juga bahwa orang yang mau menyelamatkan dirinya akan kehilangan hidupnya dan orang yang bersedia kehilangan hidupnya demi Yesus Kristus akan beroleh hidup. Sungguh aneh bukan?? Tetapi itulah konsekwensi mengikuti Yesus. Pertanyaan orang yang benar mengikuti Yesus ialah “Seberapa banyak yang bisa saya beri untuk Yesus?” “Apa-apa saja sumbangan yang bisa saya buat untuk Yesus?” dan bukanSeberapa banyak yang bisa saya dapat dari Yesus?” atau “Apa yang sudah Yesus beri untuk saya, sebagai ganjaran telah mengikuti Dia?”     

Saudara dan saudari, mengikuti Yesus adalah keistimewaan luar biasa, sebab itu berarti kita berjalan ke arah yang benar. Kita berjalan kea rah kebahagiaan sejati. Kita berjalan menuju kesempurnaan kebahagiaan yang tak ada mata yang pernah melihat dan tak ada bayangan yang bisa membayangkan. Mengikuti Yesus berarti berjalan menuju hidup dan sebaliknya. Namun untuk mengikuti Yesus, jelas “bayarannya”, menyangkal diri dan memikul salib.

Read Full Post »

Africa dan Roma bersatu dalam perayaan. Dua orang dari belahan bumi yang berbeda dan dengan budaya yang berbeda dirayakan secara bersama-sama sebagai martir dalam Gereja Katolik. Hari ini, 16 September, Gereja memperingati St. Cornelius dan St. Cyprian. St. Cornelius adalah uskup Roma – Paus, sementara St. Cyprian adalah uskup di Africa. Mereka berdua dirayakan secara bersama-sama dalam liturgy Gereja sebagai symbol dari kesatuan Gereja. Mereka berdua adalah gembala Gereja pada abad ke tiga.

Dalam Injil hari ini, Yohanes 17:11-19, Yesus berdoa demi kesatuan Gereja, para pengikut Kristus. Kesatuan Gereja mutlak untuk efectifnya pewartaan Injil. Gereja yang bersatu akan secara otomatis menjadi kekuatan yang dasyat untuk evangelisasi di dunia.

Pertikaian dan ketertutupan akan merugikan Gereja itu sendiri. Persaingan di antara Gereja akan merusak pesan Injil sendiri. Gereja seharusnya bagaikan keluarga yang bersatu. Hidup rukun satu dengan yang lain. Tak mungkin ada keluarga kalau masing-masing anggotanya saling baku hantam.

Kesatuan Gereja seharusnya berasal dari kesatuan Bapa dan Putera. Allah Bapa dan Allah Putera memang secara pribadi berbeda, tetapi Bapa dan Putera secara substansi adalah satu. Allah Bapa dan Allah Putera satu. Demikian juga dengan Gereja, meski terdiri dari beraneka organisasi, seharusnya kesatuan substansi tetap bisa dijaga dan dilestarikan. Satu dalam iman, satu dalam baptisan, satu gembala, serta satu Tuhan.

Dalam Injil ini, Yesus juga berdoa agar para pengikut-Nya memperoleh kemenangan. Yesus tidak berdoa agar para pengikut-Nya diambil dari dunia ini. Yesus mau agar para pengikut-Nya berada di dunia ini, mengubah dunia ini, menjadi garam dan terang bagi dunia, serta menjadikan dunia tempat Allah meraja. Dengan ini Yesus memberi tugas kepada para pengikut-Nya untuk menjadi saksi-saksi Injil dalam hidup dan perkataan, dengan demikian dunia bisa ditobatkan dan Kerjaan Allah bisa nyata di dunia ini bagaikan di dalam surga.

St. Cornelius dan St. Cyprian berjuang untuk kesatuan Gereja dan untuk penyebaran warta kabar gembira. Mereka memberi diri sepenuhnya demi penyebaran dan pengokohan kerajaan Allah di dunia ini. Mari kita ikuti teladan mereka dan mari kita jadikan Injil hari ini kenyataan dalam hidup kita.  

Read Full Post »

Saya yakin semua ibu akan lebih mudah memahami derita yang dialami oleh Bunda Maria ketika ia harus menyaksikan anaknya dihukum mati secara keji. Naluri keibuan akan berbicara secara lain. Tak seorang pun ibu yang tega melihat anak yang dikandungnya sembilan bulan dan kemudian disusuinya, diperlakukan orang secara tidak beradap. Pasti pengalaman itu sangat berat untuk Maria. Mungkin Maria tak mengerti dengan pasti semua peristiwa itu, tetapi cintanya untuk anaknya pasti sedemikian dasyat dan sedemikian dalam. Kehadirannya di sekitar salib Yesus merupakan dorongan naluri alami seorang ibu untuk memberi dukungan pada anaknya. Air mata dan kehadiran Maria sangat berate dalam situasi demikian. Cinta yang dasyat ditunjukkan Maria dengan menanggung “perihnya” hatinya tersayat-sayat melihat anak tunggalnya disalibkan. Ia berdiri tegar menyaksikan peristiwa tersebut.

Dalam Injil Yohanes 19: 25-27 ini dikisahkan bahwa Maria Bunda Yesus dan beberapa Maria yang lain turut hadir. Di balik derita yang Yesus alami, sesuatu yang sungguh dasyat dan indah terlampir dalam kisah ini. Yesus dalam derita dasyat yang Ia alami, tergantung di kayu salib, masih memikirkan derita orang lain. Ketika Ia melihat ibu-Nya, Ia tahu bahwa sanga ibu akan mengalami masa depan yang “sepi”. Yesus masih memikirkan bagaimana caranya membahagiakan ibu-Nya. Ia tahu bahwa tanggung jawab-Nya untuk mengurus sang ibu pada masa tuanya, dan tanggung jawab itu tak mungkin lagi Ia penuhi. Karena itu Ia menyerahkan Maria kepada murid tercinta-Nya, Yohanes, agar Yohanes mengurus dan memperhatikan Maria. Ia juga menyerahkan murid tercinta-Nya pada bunda-Nya. Mereka ini akan saling menghibur dalam kesepian dan dalam duka yang mereka alami karena orang yang sangat mereka cintai telah pergi.

Inijil dan perayaan Maria Berduka Cita mengajak kita untuk saling mendukung, saling memperhatikan, saling menyemangati dalam iman akan Yesus Kristus.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.