Keluarga Kudus Nazareth

(renungan untuk Komunitas Keluarga Kudus Nazareth)

written by matias darwin simanjorang

Bapak-ibu dan saudara-saudari ide-ide renungan kali ini akan sedikit “melompat-lompat”, saya sengaja membuatnya demikian karena yakin bahwa hadirin sekalian memiliki kelas khusus, yang mampu menjalin masing-masing ide menjadi satu kesatuan yang menarik.

Saudara dan saudari…anggota keluarga Kudus Nazareth…beberapa saat yang lalu saya terpesona akan suatu surat, pada kesempatan ini saya akan membacakannya untuk kita bersama. Surat ini berasal dari Raja LOUIS IX, raja Francis, kepada putera tercintanya, bunyinya demikian;

My dearest son, I exhort you above all else to love the Lord your God with your whole heart and with all your strength; there is no salvation apart from this.

Keep yourself free from everything you know to be displeasing to God, that is, from every mortal sin. You must be willing to suffer any kind of martyrdom rather than commit a grievous sin.

Furthermore, if God wills that you endure some trial, accept it lovingly and gratefully. Remember that it happens to you for your own good and that you may very well have deserved it. If on the other hand the Lord bestows good fortune on you, humbly thank him, and take care not to become worse because of it. Avoid vainglory too, lest you offend God trough the blessings he grants you.

Attend the service of the Church willingly and devoutly, and while in church take care not to let your eyes wander. Guard against idle conversation and pray to God devoutly in oral and pious meditation…

Surat ini untuk saya secara pribadi mengungkapkan banyak hal. Pada kesempatan ini saya hanya mau menyorotinya dari sudut pandang keluarga. Raja Louis IX, sebagai seorang bapak, memberi nasihat yang sungguh luar biasa kepada anak-anaknya. Ia tak menghendaki anaknya jatuh pada moralitas yang buruk. Ia mau anaknya menjadi manusia yang bermoral baik dan tunduk kepada Allah, sumber segala kebaikan.

Bapak-ibu dan saudara-saudari, Raja Louis mengerti keluarga dengan baik. Ia melihat keluarga sebagai communion untuk menyemaikan benih-benih yang baik kepada anak-anak. Communion merupakan kata yang sering muncul dalam Kitab Suci. Dalam perumpamaan-perumpamaannya Yesus mengibaratkan Kerajaan Allah sebai pesta. Kalau kita katakan pesta maka segera muncul dalam benak kita bahwa di sana berkumpul orang-orang yang saling kenal atau punya hubungan tertentu, dengan kata lain yang hadir dalam pesta adalah orang-orang yang berasal dari “komunitas tertentu”, misalnya punya hubungan kekeluargaan.

Komunitas adalah kata yang tepat merangkumkan ide-ide Paus Benedict XVI. Dalam benak Paus Benedict komunitas bukan hanya terbatas kepada anggota gereja Katolik tetapi juga merangkum anggota komunitas-komunitas kristiani lainnya bahkan juga mereka yang berbeda agama. Dengan demikian komunitas merangkum semua kelompok secara keseluruhan. Juga yang berkomunitas bukan hanya manusia, Allah juga berkomunitas. Allah berkomunitas dalam diri –Nya. Itu yang kita imani sebagai Allah Tritunggal, ketigaan yang satu dan kesatuan yang tiga. Komunitas adalah keharusan dan merupakan jawaban terbaik dari masyarakat yang serba sibuk dan sangat individualis.

Komunitas bisa berarti banyak hal, namun pada kesempatan ini komunitas berarti sekumpulan orang-orang yang dipanggil untuk memilih menghidupi aturan-aturan tertentu untuk tujuan tertentu. Maka orang yang hidup dalam satu komunitas diharapkan berjalan pada direksi yang sama untuk tujuan yang sama. Komunitas Keluarga Kudus Nazareth berjalan pada direksi “ad maiorem dues Gloriam“, demi kebesaran kemuliaan Allah. Menjadi anggota komunitas Keluarga Kudus Nazareth berarti bersedia mentaati cara hidup komunitas ini, sehingga direksi yang dimaksud tercapai, otherwise the community will not exist or has a very few effect atau dalam bahasa kitab pengkotbah kesia-siaan belaka. Ini sejalan dengan kata-kata Paus Benedict ketika diwawancarai majalah Time, dia berkata “it was always my idea to Catholic, to follow the Catholic faith and not my own opinion”, Time edisi 6 Dec 1993.

Sekarang saya mau melihat sepintas arti keluarga. Keluarga adalah kata yang sangat umum, karena sangat biasa, banyak orang tidak sadar bahwa kata ini berarti sangat dalam. Gereja Katolik mengerti keluarga sebagai Gereja kecil, tubuh Kristus dalam cakupan yang lebih sempit. Kalau keluarga adalah Gereja maka, sebagaimana Gereja selalu dalam kesatuan dengan Kristus yang adalah kepala gereja, keluarga hendaknya juga dalam kesatuan yang constant dengan Kristus. Lagi, sebagaimana Gereja selalu berdoa secara teratur, maka keluarga yang adalah gereja kecil sebaiknya juga berdoa secara teratur.

Kemudian saya mau menyoroti arti kata kudus. Kata kudus dalam Bible perjanjian lama dan baru bisa diartikan “khusus” atau dipisahkan atau “being set apart” atau istilah dalam dunia akademis “distinction” or “high distinction”. Kalau komunitas kita dinamai keluarga kudus, tidak berarti bahwa kita dipisahkan dari komunitas lain, tetapi lebih dalam arti kita berbeda dari yang lain. Ada cahaya kekudusan memancar dari diri dan komunitas kita. Dan saya melihat cahaya itu ada pada kita. Cahaya kekudusan itu adalah hasil dari “communion” dalam keluarga, dalam komunitas dan terutama dengan Allah.

Bagaiman hal-hal tersebut bisa lebih kita kembangkan dalam komunitas Keluarga Kudus Nazareth? Situasi masyarakat dan tuntutan social membuat kita sedikit lebih sulit mengkonkritkannya dalam keluarga dan komunitas kita. Tuntutan pekerjaan dan kesibukan masing-masing anggota membuat kita sulit untuk berkumpul bersama sebagai keluarga, dll. Namun demikian, saya sangat yakin bahwa selalu ada sela waktu 5-10 menit, mungkin sambil makan malam, kita sebagai keluarga bercerita bersama, menimba kekudusan dari masing-masing anggota keluarga.

Bapa-ibu dan saudara-saudari tanpa adanya communion dalam lingkup keluarga dan kelompok doa seperti keluarga kudus Nazareth saya merasa bahwa hidup di negeri orang akan lebih sulit. Dengan communion kita saling menguatkan, saling membagi energi, saling menyemangati.

Sekali lagi untuk hidup dalam communion (entah itu keluarga dan kelompok doa) selalu membutuhkan cinta dan ketaatan. Tanpa cinta ketaatan menjadi perbudakan dan tanpa ketaatan cinta menjadi mengambang. Cinta dan ketaatan adalah hal yang tak pernah terpisah. Cinta mengandaikan ketaatan dan ketaatan yang bernilai haruslah berlandaskan cinta. Kita telah dengan sadar memilih nama keluarga kudus Nazareth, artinya keluarga Joseph – Mary and Jesus menjadi ukuran, menjadi acuan untuk komunitas dan keluarga kita. Semoga…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s