Minggu Biasa 32

Minggu Biasa 32

Lukas 20: 27-38

Bacaan Injil Minggu ini berbicara tentang diskusi antara kaum Saduki dan Yesus. Diskusi mereka berkisar “hidup” sesudah kehidupan di dunia ini.

Sebelum saya melihat secara lebih dalam thema diskusi mereka, saya ingin memperkenalkan kepada Anda sekalian siapa yang dinamai orang Saduki. Kaum Saduki dan Pharisi sering, oleh Kitab Suci, disebut bersamaan. Namun demikian dalam kepercayaan kedua kelompok ini berbeda secara mendasar.

Kaum Pharisi adalah suatu kelompok keagamaan. Mereka ini tidak memiliki ambisi politik melainkan lebih focus dengan masalah keagamaan dan pelaksanaan ritus-ritus liturgy sesuai hukum-hukum agama Yahudi. Kaum Saduki adalah kelompok kecil yang biasanya beranggotakan para imam dan aristocrat. Mereka ini biarpun kelompok kecil, tetapi biasanya merupakan kelompok berpengaruh, karena pada umumnya mereka sangat kaya. Mereka juga biasanya terlibat persekongkolan dengan pemerintah berkuasa, termasuk pemerintah Romawi, yang menjajah daerah Palestina pada masa itu.

Kaum Pharisi menerima Kiatb Suci ditambah dengan semua peraturan dan hukum-hukum keagamaan yang ritual maupun oral, misalnya hukum tentang Sabbat dan tentang aturan mencuci tangan. Kaum Saduki hanya menerima hukum yang tertulis, yakni hanya Kitab Suci Perjanjian Lama. Perjanjian lama yang mereka terima juga lebih terbatas pada hukum Musa dan tak peduli dengan kitab para Nabi.

Kaum Pharisi percaya pada kebangkitan sesudah kematian. Mereka juga percaya akan malaikat dan roh-roh. Kaum Saduki tidak percaya pada kebangkitan dan malaikat serta roh-roh.

Kaum Pharisi percaya pada nasib serta yakin bahwa hidup manusia tergantung dari rencana Allah. Kaum Saduki percaya pada kehendak bebas yang tak terbatas.

Kaum Pharisi percaya dan berharap akan kedatangan Mesias. Kaum Saduki tidak percaya dan tidak mengharap kedatangan Mesias, sebab itu bisa mengganggu posisi mereka yang makmur.

Dengan latar belakang sedemikian, kita bisa membayangkan kenapa kaum Saduki datang pada Yesus dan mencoba membenarkan keyakinan mereka tentang tidak adanya kebgnkitan dari logika yang mereka tahu. Sebagai kaum imam mereka pasti tahu hukum perkawinan Yahudi, yakni kalau sesorang laki-laki yang sudah menikah meninggal tanpa anak maka saudaranya yang lain harus menikahi iparnya tersebut untuk melanjutkan keturunan saudaranya yang telah meninggal. Ini tercatat dalam kitab Ulangan 25:5. Kaum Saduki yakin sekali bahwa ini merupakan hukum yang mengikat, sebab terdapat dalam Kitab Musa.

Mereka katakan bahwa ada tujuh (angka sempurna untuk orang Jahudi) laki-laki yang menikah dengan satu wanita. Semua pernikahan tersebut sah menurut hukum Musa. Maka kalau ada kebangkitan siapa yang akan jadi suami dari wanita tersebut???

Yesus memberi keterangan bahwa sebaiknya jangan membayangkan bahwa hidup sesudah kehidupan yang di dunia ini akan sama saja. Surga dan dunia beda jauh. Jesus memberi jawaban yang luar biasa benar dan sah untuk selamanya. Yesus memberi keterangan bahwa kehidupan di surga itu merupakan kehidupan yang kekal, tak berakhir. Di sana tidak ada kawin dan mengawinkan. Kehidupan di sana bagaikan hidup para malaikat.

Karena yang bertanya adalah kaum Saduki yang begitu menghormati hukum Musa, maka Yesus juga mengutip dari kitab Keluaran (termasuk kitab Musa) 3: 1-6 tentang “pertemuan Musa dengan Allah” di bukit pada saat Musa melihat semak berapi tetapi tak terbakar. Menurut Yesus Musa sendiri percaya pada kebangkitan, sebab ia memanggil Allah sebagai Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Dengan demikian Musa yakin bahwa ketiga orang tersebut adalah hidup, sebab Allah adalah Allah orang-orang hidup dan bukan Allah orang mati.

Yang menarik dari diskusi ini menurut saya bukan terletak pada kemenangan Yesus, tetapi kemampuan Yesus untuk memberi jawaban pada orang yang bertanya menurut kemampuan dan kepercayaan orang tersebut. Yesus membuat orang Saduki tak bisa mengelak dari kebenaran yang Yesus terangkan.

Saudara dan saudari, kebangkitan adalah thema utama pekan-pekan terakhir liturgy Gereja. Dengan demikian Gereja dengan sungguh sempurna mengajak kita untuk bermenung tentang “ada hidup” di luar yang kita hidupi sekarang. Ada dunia abadi yang menanti kita, entah kita mau atau tidak. Dunia abadi itu adalah kekekalan bersama Allah atau kekekalan di luar Allah. Kekekalan bersama Allah adalah kebehagiaan sempurna, sementara yang lain adalah sebaliknya.

Untuk membantu permenungan kita dan untuk menolong kita memilih mungkin baik kalau kita baca bacaan pertama yakni kitab 2 Makabe 7:1-2, 9-14.

Juga kita mungkin bisa membaca kisah-kisah para beato yang baru saja dibeatifikasi oleh Paus Benediktus XVI, para martir dari Spanyol dari abad yang lalu.

Saudara dan saudari, ada hidup yang lebih baik pada hari esok di surga, kalau itu yang kita pilih.          

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s