Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat.

 

Matius 4:12-23

 

Pembaca yang budiman, Injil hari ini dengan begitu yakin memberi kesaksian bahwa manusia yang hidup dalam kegelapan telah melihat terang. Ramalan Nabi Yesaya tersebut tergenapi dalam Yesus Kristus dan warta yang Dia bawa. Yesus memulai karya pewartaan Injil dengan memberitakan: “Bertobatlah sebab Kerajaan Allah sudah dekat”. Kata memberitakan memiliki arti yang penting. Dalam Kitab Suci bahasa Yunani dipakai kata kerussein yang berarti “herald”, seseorang yang membawa pesan langsung dari raja. Penginjil dengan ini mewartakan bahwa Yesus membawa warta yang berasal dari Allah. Yesus membuat isi hati Allah tersebar dan diketahui oleh khalayak ramai. Yesus menjadikan Allah “sensible” kepada manusia.

Pembaca sekalian, mari pada kesempatan ini kita melihat sejenak karakteristik yang ditunjukkan Yesus sebagai seorang pewarta kabar gembira.

Yesus mewartakan kabar gembira dengan pesan yang jelas dan pasti. Ia tidak mengatakan “mungkin atau boleh jadi atau agaknya” tetapi Yesus membawa pesan pasti: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat.”

Yesus dalam mewartakan kabar gembira, dalam diri-Nya ada authority. Yesus berbicara atas nama Allah, sebab Dia adalah Putera Allah. Yesus mewartakan hukum-hukum Allah, peraturan-peraturan Allah. Yesus memiliki wibawa untuk mewartakan kabar tersebut, yang Ia terima dari sumber kabar gembira tersebut.

Yesus dalam mewartakan kabar gembira tidak berbicara tentang ide-ide-Nya sendiri, melainkan mewartakan warta yang datang dari Allah Bapa. Yesus tidak mewartakan opini-Nya tentang kerajaan Allah. Yesus mewartakan suara Allah Bapa kepada manusia. Dan pesan itu ialah: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat.” Berpalinglah dari kegelapan menuju terang. Buatlah U-turn, yakni kembali kepada Allah. Pesan Yesus ini mendesak untuk dipenuhi sebab Allah akan segera meraja dan kerajaan itu hadir dalam diri Yesus Kristus.

Ketika Yesus sedang mewartakan pertobatan, Ia memilih beberapa orang nelayan untuk mengikuti-Nya. Yesus tidak memilih para ahli atau orang terkemuka atau kaum terpelajar atau orang yang memiliki status kaya, tetapi memilih orang yang sederhana – yang tidak memiliki masa depan yang cerah. Namun demikian pastaslah kiranya kita bermenung kenapa Yesus memilih nelayan untuk menemani Dia mewartakan kabar gembira. Maka pada kesempatan ini, mari kita mencoba melihat kwalitas apa yang dimiliki oleh para nelayan yang memungkinkan mereka menjadi pewarta kabar gembira Kerajaan Allah.

Seorang nelayan seharusnya adalah orang yang sabar. Mereka harus sabar menanti ikan. Kalau mereka tak sabar dan mudah menyerah maka mereka tidak akan menangkap ikan. Dari kwalitas pertama ini kita dapat melihat bahwa “penjala manusia” juga harus sabar. Sebab mewartakan kerajaan Allah kepada manusia bukanlah instant. Butuh proses yang panjang. Kalau seorang pewarta langsung mengharapkan hasil, maka ia akan kecewa. Ia harus belajar untuk menunggu dan bersabar.

Kemudian seorang nelayan juga harus memiliki semangat pantang menyerah. Ada saatnya mereka tidak akan mendapat ikan untuk waktu yang lama. Ada saatnya situasi tidak mendukung. Meski demikian nelayan yang baik akan melihat peluang dan memanfaatkan peluang dengan baik. Ia akan merangkul peluang. Ia selalu siap untuk mencoba dan mencoba. Pewarta kabar gembira juga akan mengalami hal yang sama. Kadang situasi dan orang yang dihadapi tidak bersahabat, tetapi menjadi pewarta berarti tidak putus asa dengan situasi tersebut, melainkan berusaha kembali dan berusaha kembali.

Nelayan juga harus bersemangat dan yakin. Kita tahu bahwa kapal-kapal nelayan traditional biasanya kecil dan terbuat dari kayu. Berhadapan dengan lautan luas kapal itu tak ada apa-apanya. Meski demikian nelayan harus tetap bersemangat dan yakin bahwa kapal kecil tersebut mampu menarungi lautan. Menjadi pewarta pada zaman sekrang bukanlah status yang “hebat”. Bahkan di Negara maju pewarta Injil berada pada kelas yang tidak dipedulikan. Namun demikian pewarta Injil harus tetap yakin bahwa warta yang dia bawa begitu penting sehingga tak mungkin tidak disampaikan. Terlalu rugi kalau dibiarkan saja berlalu.

Seorang nelayan harus tahu membaca “cuaca”. Ia harus tahu kapan waktu untuk berlayar dan kapan waktu untuk menunggu. Ia juga harus tahu kapan ikan-ikan lebih mudah dijala dan kapan lebih sulit. Ia tahu waktu yang pas. Menjadi pewarta Injil juga demikian. Ia harus tahu kapan harus mewartakan Injil dan kapan “berdiam diri” dan membiarkan bahasa cinta yang berbicara. Ia juga harus tahu kapan waktu untuk berbicara dan kapan waktu untuk mendengar.

Menjadi nelayan berarti juga harus tersebunyi dari ikan-ikan. Kalau ikan-ikan melihat bayangan nelayan maka ikan akan pergi menjauh dan itu berarti nelayan akan rugi karena tak mendapat banyak ikan. Menjadi pewarta Injil juga demikian, seorang pewarta Injil tidak mewartakan kehebatannya atau keluarganya atau cita-citanya melainkan membiarkan dirinya tersembunyi dan kerajaan Allah semakin nyata.

  

  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s