Menyangkal Diri dan Memikul Salib

Lukas 9: 22-25

 

Saudara dan saudari, Injil hari ini nampaknya sangat sederhana dan juga tergolong sangat singkat. Namun di balik kesederhanaan bahasa dan keringkasan isi terkandung arti yang sangat dalam dan jauh dari sederhana. Di sana juga terkandung ajakan yang luar biasa dasyat.

Yesus dengan tegas mengatakan bahwa setiap orang yang hendak mengikuti Dia harus menyangkal diri dan memikul salib. Saya kira kita semua tahu arti kata “menyangkal diri”. Kata ini termasuk kata yang biasa kita pakai. Tindakan menyangkal yang paling populer ialah yang dilakukan Petrus pada malam Yesus ditangkap. Petrus berkata “saya tidak mengenal Dia” (cf. Lukas 22: 54-62). Petrus menyangkal bahwa ia mengenal Yesus dan menyangkal bahwa ia termasuk anggota kelompok Yesus.

Kalau kita mengikuti “pola” penyangkalan Petrus tersebut untuk kata “menyangkal diri” maka hasilnya kita berkata bahwa kita tidak mengenal diri kita masing-masing. Menyangkal diri berarti “menganggap diri sendiri tak ada”, membiarkan diri “terlupakan” demi Yesus. Hal ini bertentangan dengan instinct harian kita. Setiap orang (mungkin hampir setiap orang) mau supaya mereka yang terbaik dan terpenting. Saya akan bertaruh habis-habisan demi harga diri dan kehormatan. Itu yang hampir setiap hari kita lakukan. Kita tidak pernah keberatan kalau orang memuji kita (meski kadang kita tahu bahwa pujian itu tak terlalu tepat), tetapi sejauh itu pujian kita akan dengan senang hati mendengar. Coba kalau sebaliknya…kita tahu sendiri.

Jadi Sabda Yesus yang kita dengar hari ini cukup “extreme” dan sangat menantang. Yesus mengajak kita menomorsatukan kehendak Allah dan bukan kesenangan kita. Ajakan Yesus ini sangat relevant dengan masa Pra-Paskah yang sedang kita jalani. Kita bisa menyangkal diri dengan menyediakan waktu lebih banyak bedoa. Kita bisa menyangkal diri dengan memberi sedekah pada orang yang membutuhkan serta memberi perhatian lebih pada keluarga, suami/istri dan anak-anak. Kita bisa menyangkal diri dengan berpuasa dan memberi hasil “puasa” tersebut kepada orang yang membutuhkan. Dan mungkin masih banyak cara menyangkal diri  dan saya yakin kita termasuk “expert” dalam hal itu.

Kemudian Yesus juga berkata bahwa kalau kita mau mengikuti Dia kita harus siap memikul salib. Harap kita ingat bahwa ada dua jenis salib, yakni salib Yesus dan salib para perampok di kiri kanan-Nya. Kedua jenis ini memang harus dipikul, tetapi hanya satu jenis yang membawa rahmat. Salib yang lain menghantar pada kematian. Memikul salib yang dimaksud oleh Yesus ialah mempersiapkan diri untuk menghadapi semua kemungkinan, seperti dialami oleh Yesus sendiri, seperti dialami oleh para martir dan para kudus, seperti dialami oleh para pejuang kemanusiaan, karena kesetiaan pada kehendak Allah dan kebaikan manusia. Itu berarti siap untuk menanggung hal terburuk yang mungkin ditimpakan oleh orang lain pada kita karena kita percaya dan taat pada ajaran Yesus.

Untuk mengakhiri renungan pada Misa harian tadi pagi saya lemparkan suatu pertanyaan yang sangat sederhana dan pertanyaan itu juga saya tuliskan di sini untuk mengakhiri renungan ini: “ARE WE READY?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s