Apakah Suami Dibenarkan Menceraikan Istrinya?

Hari Jumat 23 Mei 2008

Yakobus 5:9-12 & Markus 10:1-12

 

Saudara dan Saudari, ada lumayan banyak alasan “yang agak lucu” untuk menikah dan untuk cerai. Ada yang berkata: “Aku mau menikahinya karena dia selalu mengingatkan saya akan ibuku tercinta.” Kemudian beberapa tahun kemudian, ia datang dan berkata: “Aku mau menceraikan dia karena dalam banyak hal dia menjadi “sangat serupa” dengan ibuku.” Ada juga orang yang berkata: “Aku mau menikah dengan dia karena ia pria yang bertanggung jawab terutama terhadap kebutuhan hidup keluarga.” Beberapa tahun kemudian orang yang sama datang dan berkata: “Aku ingin menceraikan dia, sebab ia terlalu sibuk dengan economy keluarga dan bisnisnya. Ia bahkan tak punya waktu untuk saya.” Ada juga yang mengatakan: “Aku mau menikah dengannya karena dia pria yang bisa melindungi. Ia gagah perkasa.” Beberapa tahun kemudian orang yang sama datang dan berkata: “Sekarang aku mau menceraikan dia, sebab dia terlalu mendominasi.”

Saudara dan Saudari, saya bertemu dengan “lumayan” banyak orang yang “takut” menikah. Mereka lebih takut lagi untuk menerima sacrament perkawinan. Mereka takut karena mereka lebih yakin bahwa perkawinan bukan institusi yang aman. Mereka sudah membayangkan bahwa akan bercerai. Perceraian akan begitu menyakitkan, bukan hanya kepada pasangan tersebut, tetapi juga menjangkiti keluarga besar dan terutama anak-anak.

Saudara dan Saudari, dalam Injil hari ini para Farisi menguji Yesus perihal hukum perkawinan. Apakah suami boleh menceraikan istrinya? Dalam budaya Yahudi kuno, hanya suami yang memiliki hak untuk menceraikan istri (istri hampir tidak punya hak untuk menceraikan suami). Perceraian tak melibatkan pengadilan. Suami cukup menulis berita perceraian dan memberikan itu pada istri dan kemudian menyuruh mantan istri itu untuk kembali ke rumah orang tuanya. Dengan cara yang sederhana ini, perceraian sah. Kedua pihak bebas menikah kembali (kalau ada yang mau). Ini bisa kita baca dalam kita Ulangan 24:1.  Disana dikatakan bahwa suami boleh menceraikan istri kalau istri sudah “tak senonoh” (ungkapan ini saya dapati dalam KItab Suci terbitan LAI tahun 1995), sementara dalam “The New American Bible” dipakai ungkapan “something incident” dan ungkapan ini kemudian diterangkan dengan ungkapan “immodest conduct”. Para ahli agama Yahudi menafsirkan ini secara berbeda. Ada yang berpendapat bahwa alasan perceraian adalah “jinah”. Ada juga yang berpendapat bahwa alasan untuk perceraian bisa dimengerti lebih luas dari jinah.

Dengan hukum yang demikian para Farisi datang pada Yesus, bertanya pada Yesus, menguji Yesus. Mereka mungkin mau mengetahui apakah Yesus sejalan dengan Musa. Mereka mau menguji apakah Yesus paham dan setia pada hukum Musa. Atau mungkin juga mereka mau mempertentangkan Yesus dengan Herodes (yang menceraikan istrinya dan kawin lagi).

Mendapati diri-Nya diuji, Yesus tak mau terjebak. Ia kembali ke “awal”. Yesus menerangkan bahwa perkawinan bukanlah institusi yang didirikan oleh Musa. Maka Musa tak berhak membuat hukum yang mengikat untuk perkawinan. Musa hanya berhak memberi “kebijakan sesaat” demi “kebaikan” masyakat untuk saat tertentu. Maka Yesus dengan tegas mengatakan alasan Musa membuat kebijakan tersebut: “Karena ketegaran hatimu”.

Yesus menerangkan bahwa institusi perkawinan adalah institusi yang sudah ada sejak semula. Allah yang mendirikannya. Allah yang memberkati perkawinan pertama. Dan sejak awal perkawinan dimaksud sebagai institusi yang permanent, mengikat sampai mati, tak terceraikan. Yesus mengutip Kejadian 1:27 dan Kejadian 2:24. Mendengar jawaban ini, para Farisi tentu tak berkutik, sebab mereka tahu hukum Allah jauh lebih mengikat disbanding hukum Musa.

Saudara dan Saudari, di dunia modern sekarang perkawinan adalah sesuatu yang sulit dipertahankan. Mudah rapuh, bahkan lebih mudah pecah dibanding bejana tanah liat. Banyak alasan untuk cerai. Sangat mudah membuat alasan untuk cerai. Karena hal tersebut perkawinan menjadi institusi yang sangat “mahal”. Karena itu perlu dijaga dan dirawat. Seluruh anggota keluarga perlu terlibat untuk menjaganya. Perlu ada yang menyiram, ada yang membersihkan, ada yang menerangi dan ada yang menaungi. Kiranya bahan kampanye SBY & Jusuf Kalla bisa kita anut untuk melestarikan perkawinan “bersama kita bisa”. Mari menunjukkan kepada dunia bahwa perkawinan bisa bertahan sampai akhir. Dengan demikian kita mewartakan kepada dunia bahwa ajaran Injil benar.   

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s