Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

Ulangan 8:2-3, 14b-16a ; Mazmur 147:12-15,19-20 ;

1 Korintus 10: 16-17 ; Johanes 6: 51-58

 

Saudara dan Saudari, hari ini kita merayakan hari raya Tubuh dan Darah Kristus. Ekaristi adalah hadiah yang diberikan Kristus kepada kita. Hadiah tersebut bukan sesuatu, tetapi diri-Nya sendiri. Ia mengorbankan diri dan menumpahkan darah untuk kita. Kristus memberi kita “totalitas” dari diri-Nya. Dialah roti yang turun dari surga dan barang siapa memakannya akan beroleh hidup yang kekal.

 

Saudara dan Saudari, Yesus Kristus, sebagai tanda kehadiran-Nya di tengah-tengah kita, Ia memilih roti dan anggur. Tanya mengapa? Mari kita bermeditasi sejenak akan kedua hal ini. Roti yang dipilih oleh Yesus adalah jenis roti yang paling sederhana. Terbuat dari tepung dan sedikit air saja. Tak perlu keahlian khusus untuk membuatnya. Roti jenih ini tak punya rasa dan tidak mengenyangkan. Dari keterangan singkat ini kita bisa menilai bahwa roti ini adalah makanan orang miskin, yang tak sanggup beli roti atau buat roti yang mahal. Kalau kita melihatnya lebih dalam, roti ini adalah hasil dari bumi dan hasil kerja tangan manusia (cf. doa persiapan persembahan). Untuk pembuatannya dilibatkan kerja manusia yang mengurus kebun, menanam dan membersihkan, menyiram serta memanen dan akhirnya membuat roti. Singkat kata, banyak orang terlibat untuk pembuatan roti ini. Lalu perlu juga diingat bahwa roti ini tidaklah murni hanya hasil kerja manusia. Ia adalah juga bagian dari rahmat Allah. Sebab tanpa air untuk pertumbuhan tanaman, maka roti tak ada. Manusia tak sanggup mencipta air.

Saudara dan Saudari, mari menyelam lebih jauh lagi. Mengapa Yesus memilih roti menjadi tanda kehadiran-Nya. Kalau kita renungkan dengan “teliti”, dalam roti terselubung misteri penderitaan, kematian dan kebangkitan. Tepung bisa kita simbolkan sebagai “derita” untuk biji-bijian. Sebab untuk menjadi tepung biji-bijian tersebut harus digiling dan dihancurkan. Kemudian untuk menjadi roti tepung itu harus dibakar. Proses pembakaran boleh kita ibaratkan sebagai symbol kematian bagi biji-bijian tersebut. Namun hanya lewat proses ini kita akan memakan roti. Maka roti menjadi symbol kebangkitan bagi biji-bijian tersebut. Ketika kita melihat Tubu Kristus dalam rupa roti yang sangat sederhana, maka kita langsung terarah pada paristiwa penderitaan, kematian dan kebangkitan Kristus.

 

Saudara dan Saudari, kalau roti berbicara tentang kesederhanaan dan hidup harian, yang didalamnya terselubung misteri Kristus, maka anggur menyimbolkan pesta suka cita yang akan Allah anugerahkan pada kita pada akhir zaman, namun sudah kita alami sejak kini dan di sini dan telah bisa kita “nikmati” dalam sacrament ini.

 

Mari mencoba berenang lebih jauh, di samping hal-hal yang telah disebut, roti dan anggur menyimbolkan juga kesatuan. Roti terbuat dari biji-bijian yang dikumpulkan dari mana-mana, demikian juga anggur. Maka kita semua meskipun beraneka latar belakang, kita satu dalam Kristus, kita adalah tubuh mistik Kristus.

 

Saudara dan Saudari, Sakramen Ekaristi sangat essesential untuk orang-orang Katolik dan sangat fundamental untuk kehidupan harian orang Katolik. Lewat Sakramen ini Yesus menarik kita kepada diri-Nya, masuk ke dalam misteri hidup-Nya. Yesus mengubah kita, sebagaimana Ia mengubah roti dan anggur menjadi tubuh dan darah-Nya.  Lewat Ekaristi, yang adalah Kristus yang terus menerus memberi diri kepada kita, Yesus selalu membangun dan menyokong kita, sebab kita adalah tubuh-Nya.

 

Dengan menerima Tubuh dan Darah Kristus, kita menjadi pewaris kerajaan Allah. Kita diangkat kekehidupan Ilahi. Kita ditarik dan diubah oleh Kristus menjadi bagian dari diri-Nya. Kita menjadi persembahan yang hidup, yang berkenan kepada Allah. Kita mewarisi hidup Ilahi.

 

Untuk itu Saudara dan Saudari, kita perlu memahami bahwa Ekaristi dan hidup harian haruslah sejalan. Iman akan Ekaristi dan spiritualitas Ekaristic tidak cukup dengan menghadiri perayaan Ekaristi dan penyembahan Sakrament Mahakudus. Itu mencakup keseluruhan hidup. Karena itu kita sebaiknya “menemukan” bahwa Kristus yang kita imani sebagai Tuhan, bukanlah seseorang yang hidup 2000 sekian tahun yang lalu. Ia hidup dan berada kini dan di sini. Ia sanggup mengubah hati setiap orang. Ia adalah Allah yang setia dan menemani kita sepanjang masa. Ia hadir dalam Sakramen Ekaristi. Ia selalu memberi diri untuk kita. Karena itu Sakramen Ekaristi harus diterjemahkan ke dalam hidup harian. Kita harus hidup dalam Roh. Kita harus hidup dalam Kebenaran. Kita harus hidup dalam Keadilan. Maka kita menjadi Tubuh Kristus yang hidup.

 

Saudara dan Saudari, misteri cinta Allah yang kita rayakan dalam Ekaristi juga bukanlah kekayaan yang hanya untuk kita. Dunia perlu mengetahuinya. Tetangga kita perlu mengetahuinya. Teman sekantor kita perlu mengetahuinya. Sahabat-sahabat kita juga perlu mengetahuinya. Anak-anak kita juga perlu mengetahuinya. Maka kita ditugaskan menjadi pewarta cinta Allah. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s