Tamu Pengantin Bersukacita

 

Saudara dan Saudari, dahulu kala orang yang baru menikah tidak pergi untuk berbulan madu. Hal ini mungkin berlaku untuk semua bangsa pada zaman dulu. Orang Yahudi, sebagai bulan madu, mereka merayakan pesta pernikahan berhari-hari. Kemungkinan besar selama sepekan setelah hari pernikahan usai, pesta dengan cara “open house” masih diselenggarakan. Orang-orang yang menghadiri pesta sepekan ini dibebaskan untuk tidak menjalani puasa mingguan (orang Yahudi mempunyai kebiasaan berpuasa 2x sepekan). Untuk para tamu, pesta tersebut seharusnya dirayakan tanpa harus “mengingat” hukum puasa. Mereka bersukacita.

Yesus mengumpamakan dirinya sebagai mempelai dan murid-murid-Nya sebagai tamu-tamu. Maka kalau kita ikuti pola pikir di atas, murid-murid Yesus tidak terikat pada hukum puasa selama Yesus masih bersama-sama dengan mereka. Selama mempelai masih menyelenggarakan pesta dan open house maka para tamu bebas dari hukum puasa. Waktu itu adalah waktu untuk sukacita.

Saudara dan Saudari, apa kira-kira pesan Injil ini untuk kita? Tampaknya jelas untuk kita bahwa mengenal dan hidup bersama Yesus adalah sukacita besar. Setiap orang yang mengikuti Yesus berjalan dalam cahaya sukacita. Orang-orang Kristen adalah orang-orang yang bersukacita, bukan karena mereka bebas dari beban hidup dan permasalahan hidup, tetapi karena mereka berjalan bersama Yesus dan Yesus akan menolong mereka menjadi pemenang. Yesus adalah sukacita sejati setiap orang.

Namun saudara dan saudari tidak ada sukacita di dunia ini yang bertahan lama. Akan tiba saatnya mempelai itu diambil dari tengah-tengah dunia. Pada saat itu para pengikut Yesus harus berpuasa. Pesannya apa? Sekedar pesan untuk berpuasa?? Saya kira lebih dari itu. Benar sekali bahwa kekristenan membawa sukacita berlimpah pada kita. Tetapi benar juga bahwa jalan yang harus ditempuh oleh orang Kristen adalah jalan salib. Maka ketika kita membuat keputusan untuk mengikuti Yesus, kita berjalan dalam cahaya sukacita dan sekaligus memikul salib. Kekristenan memberi kita sukacita, tetapi kekristenan juga mengajak kita untuk memikul salib kita. Apakah kita bersedia untuk keduanya??

Saudara dan Saudari, kalau kita bersedia untuk keduanya, sukacita surgawi – sukacita yang tak akan berakhir menjadi milik kita. Sukacita ini memiliki alarm anti maling dan tak satu orang pun akan sanggup mengambil itu dari kita. Ini janji Yesus pada kita menurut Injil hari ini.

Bersukacitalah menjadi pengikut Kristus.

John’s disciples came to Jesus and said, ‘Why is it that we and the Pharisees fast, but your disciples do not?’ Jesus replied, ‘Surely the bridegroom’s attendants would never think of mourning as long as the bridegroom is still with them? But the time will come for the bridegroom to be taken away from them, and then they will fast. No one puts a piece of unshrunken cloth on to an old cloak, because the patch pulls away from the cloak and the tear get worse. Nor do people put new wine into old wineskins; if they do, the skins burst, the wine runs out, and the skins are lost. No; they put new wine into fresh skins and both are preserved.’ Matthew 9:14-17.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s