Mutiara Yang Indah

Refleksi berdasar Injil Matius 13:44-52

Saudara dan saudari, kalau kita baca perumpamaan tentang talenta yang terdapat dalam Injil Matius 25:25, di sana diceritakan bahwa seorang hamba menyimpan talentanya di dalam tanah supaya tidak hilang. Dari gambaran ini bisa kita bayangkan bahwa menyimpan harta di tanah bukan hal yang luar biasa bagi orang zaman dahulu.

Ketika saya bertugas di Nias, saya punya seorang teman yang yakin sekali bahwa orang tuanya mengubur banyak harta di bawah lantai rumah mereka. Teman itu selalu berusaha menggali lantai rumah untuk mendapatkan harta tersebut, bahkan ia bersedia bentrok dengan saudara dan saudarinya karena hal tersebut. Bukan hanya itu, ia bahkan bersedia membayar dukun agar bisa mendapatkan harta yang ia yakini tersimpan di bawah rumah tersebut.

Hari Rabu tanggal 16 July yang lalu, seorang gadis muda, peziarah dari Indonesia datang dan bercerita kepada saya bagaimana ia bisa ikut WYD. Dia katakan bahwa demi mengikuti WYD ia rela menjaul warisan yang ia dapat dari orang tuanya dan bahkan ia menjual cincin tunangan yang diberi kekasihnya, tentu dengan persetujuan sang kekasih. Mendengar kisah itu saya kagum sekali. Saya kagum karena ia begitu ingin menghadiri WYD. Saya kagum akan imannya. Saya yakinkan dia bahwa ia akan mendapat ganjaran dari Allah.

Saudara dan saudari, orang Yahudi pada zaman dulu yakin bahwa tempat yang paling aman menyimpan harta ialah dengan menguburnya di dalam tanah. Mereka biasa mengubur harta benda berharga mereka. Ini tak sulit dimengerti kalau kita baca sejarah bangsa Yahudi yang hampir selalu berperang. Ketika dalam situasi perang membawa harta bukanlah hal yang aman. Maka ketika mereka mengungsi, biasanya mereka mengubur harta benda mereka, seperti emas dan perak di kebun atau di sekitar rumah mereka, dengan harapan kalau mereka tidak mati selama perang maka mereka masih bisa kembali dan mengambil harta tersebut. Untuk mereka menyimpan harta di tanah bagaikan menyimpan uang di bank.

Lalu mungkin kita berpikir bahwa Yesus “memuji” orang yang menemukan harta tersebut. Sebab kalau kita berpikir, kalau kita mendapat harta karun, kita wajib melaporkannya ke yang berwajib. Tetapi dalam hukum orang Yahudi, orang yang menemukan barang atau harta menjadi pemilik barang atau harta tersebut. Dalam perumpamaan ini Yesus memakai cara pikir dan cara berperilaku orang Yahudi.

Lalu Bapak-Ibu dan Saudara saudari, perumpamaan ini dengan jelas menunjuk bahwa kalau orang menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga dari apa yang telah ia miliki, maka orang itu akan dengan senang hati “menjual” semua yang ada padanya demi mendapat harta “baru” tersebut. Mungkin Anda masih ingat bagaimana orang antri untuk mendapat telepon pintar yang serba canggih, yang baru-baru ini dipasarkan di Australia. Kadang kita pikir kok bodoh sekali hanya untuk HP saja harus antri berjam-jam bahkan ada yang lebih seharian antri, namun kalau kita baca perumpamaan ini, kita akan mengerti mengapa mereka mau antri.

Diceritakan oleh Yesus dalam ayat 44 bahwa ada yang menemukan harta terpendam  di ladang. Di sini kita mungkin berpikir bahwa ia menemukan harta tersebut secara kebetulan. Mungkin saja. Namun bayangan saya ia menemukan harta tersebut bukan secara kebetulan. Orang tersebut adalah orang yang kerjanya mencari harta yang dikubur. Ia tahu bahwa ada harta yang dikubur, hanya ia harus mencari tahu dimana harta tersebut dikubur. Jadi ia telah menggali dan menggali. Kadang ia menggali dan tak menemukan apa-apa. Ia pastilah seorang yang bekerja keras, sebab orang akan mengubur hartanya lumayan dalam demi keamanan. Jadi orang itu telah menggali dalam-dalam, hingga akhirnya menemukan harta tersebut. Setelah menemukan ia tidak langsung mengambilnya, ia masih menutupnya kembali dan pergi menjual semua harta bendanya dan kemudian membeli ladang di mana ia menemukan harta tersebut.

Lalu apa hubungannya dengan iman kita??? Apa pesan dari perumpamaan ini??? Perumpamaan ini bisa kita artikan bahwa Yesus adalah harta terpendam. Yesus terpendam dalam Kitab Suci. Kalau kita membaca Kitab Suci secara sepintas, mungkin saja kita menemukan siapa Yesus sesungguhnya, tetapi kemungkinan besar tidak. Membaca Kitab suci untuk menemukan harta terpendam tersebut dibutuhkan kesabaran dan discipline, juga dibutuhkan pengorbanan. Dan kalau kita sudah menemukan harta terpendam itu, kita begitu gembira, tetapi kita juga harus “sebentar” meninggalkannya dan mencoba melihat diri kembali. Kita perlu bertanya apakah memang ada yang harus dijual dari diri sendiri untuk membeli harta berharga tersebut???

Perumpamaan ini juga mau mengatakan bahwa pengorbanan untuk mendapat harta yang sangat berharga tersebut adalah sebuah keharusan. Untuk mendapatkan Yesus kita harus mengorbankan banyak hal dalam diri. Waktu WYD yang lalu, saya kadang pikir, kok banyak sekali orang “yang gila” datang jauh-jauh dan bersedia berdingin-dingin hanya untuk melihat Paus Benediktus yang tua itu. Kadang tak masuk akal, tetapi itulah pengorbanan dan itu tanda kesetiaan dan iman. Saya berdiri empat jam di sirkular Q untuk melihat beliau di kapal dan melintas di George St. Sudah berdiri empat jam, saya hanya bisa melihat bahwa dikejauhan ada yang berpakaian putih dan di sekitar lehernya ada warna merah dan itulah Paus. Hanya melihat itu saja puas rasanya. Apa tidak gila?? Orang akan katakana itu gila, tetapi tidak untuk saya dan tidak untuk 500 ribu orang yang antri melihat Pau pada hari tersebut.

Maka di sini kita bicara soal nilai. Ketika kita yakin bahwa sesuatu jauh lebih bernilai dari apa yang ada pada kita, maka kita berusaha mendapat yang jauh lebih bernilai tersebut. Kita bersedia berkorban demi nilai tersebut. Jadi kalau nilai yang kita kejar adalah melakukan kehendak Allah, maka kita akan berusaha mencari apa kehendak Allah dan melakukannya. Seperti St. Franciscus Asisi kita bertanya “Lord, what do you want me to do?” Mencari dan melakukan kehendak Allah bagi kita orang-orang yang percaya adalah nilai yang tak terbandingkan dengan nilai-nilai yang lain. Pengorbanan demi nilai tertinggi ini “tak merugikan” bagi kita.

Saudara dan saudari, kemudian Yesus juga memberi perumpamaan lain yang hampir sejalan dengan perumpamaan pertama. “Kerajaan Allah” kata Yesus “bagaikan seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.”

Semua orang dari zaman ke zaman yakin bahwa mutiara adalah barang yang indah dan menggetarkan hati. Semua orang ingin memiliki mutiara yang indah. Semua cinta perhiasan yang indah. Nah, dengan perumpamaan ini Yesus memberitahu kepada kita bahwa menjadi bagian dan tinggal di dalam Kerajaan Allah adalah sesuatu yang indah dan menyenangkan. Di balik perjuangan mencari dan menemukan kerajaan Allah, di balik pengobanan untuk mempertahankannya, di balik penyangkalan diri demi kehendak Allah, di balik salib yang harus kita pikul untuk menapaki jalan menuju kerajaan Allah, terpampang keindahan yang tiada tara. Keindahan kerajaan surga itu melampaui semua keindahan yang ada dan yang bisa kita bayangkan. Namun untuk menemukan Kerajaan Surga dan bisa berdiam di sana, kita harus berjuang. Pedagang itu berjuang dan berkelana ke sana ke mari untuk menemukan mutiara idamannya. Kita juga perlu berjuang dan mencari dan kemudian mengorbankan sebagian dari diri kita demi mendapatkan harta yang kita idam-idamkan, yakni Kerajaan Allah.

Dengan perumpamaan kedua ini, kita juga diberi pelajaran bahwa banyak yang menyenangkan, banyak yang kita cintai, banyak yang kita inginkan, tetapi ada satu yang melebihi semua yang lain. Kita bisa temukan kesenangan dalam ilmu pengetahuan, kita bisa menemukan kesenangan dalam seni, kita bisa menemukan kesenangan dalam pelayanan kemanusiaan, tetapi melayani Allah yang terwujud dalam cinta dan perbuatan baik kepada sesama jauh melampaui kesenangan-kesenangan yang lain. Keindahan tertinggi adalah menerima dan menjalankan kehendak Allah.

Perumpamaan ketiga yang diceriterakan oleh Yesus ialah perihal nelayan yang menjala ikan. Nelayan itu menjala ikan dengan ketrampilan tertentu. Mereka menjala ikan dengan pengetahuan tertentu. Mereka menjala ikan pada waktu yang tepat. Mereka menjala ikan dengan kesabaran dan keyakinan bahwa ikan akan didapat, meski kadang mereka tak mendapat ikan. Kerajaan Allah juga harus diwartakan dengan semangat para penjala ikan itu.

Juga dengan perumpamaan ini diberitahukan bahwa bagaikan jala, kerajaan surga juga terbuka untuk setiap jenis manusia. Siapa saja diterima dan diizinkan masuk. Tidak ada diskriminasi dalam Kerajaan Allah. Semua lapisan dan golongan masuk ke dalamnya. Kerajaan Allah tidak membedakan siapa saja, bahkan yang baik maupun yang tidak, yang berguna maupun yang tidak. Meski demikian akan ada saatnya untuk mengadili dan memilih. Pengadilan menjadi hak Allah.  

Saudara dan saudari, akhirnya Yesus mengatakan bahwa ahli Taurat yang menerima kerajaan surga seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya. Dengan ini Yesus mau mengatakan bahwa ketika kita menerima kerajaan Allah, kita telah terlebih dahulu memiliki sesuatu, bakat, hobby, pengetahuan, dll. Yesus tidak meminta kita untuk menjual dan menghilangkan semua itu. Yesus mau supaya kita menggunakan semua yang baik yang telah kita miliki sebelumnya untuk kerajaan Allah. Jadi kalau kita mempunyai kerja yang baik, Yesus mau supaya kerja kita itu kita gunakan untuk kepentingan kerajaan Allah. Kita memakai keahlian kita itu untuk mewartakan Kerajaan Allah.

Saudara dan saudari, Kerajaan Allah ialah sesuatu yang indah. Keindahannya melampaui semua keindahan yang lain. Karena itu mari kita berusaha menjadi bagian dari Kerajaan itu.            

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s