Mau Menolong???

Peringatan St. Martha

Lukas 10:38-42 (Johanes 11:19-27)

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Martha menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai saudari bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Martha sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudariku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Tetapi Tuhan menjawabnya: “Martha, Martha, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”

Saudara dan saudari, menarik sekali membaca Injil ini. Dalam hidup kita sehari-hari tentu kita suka menolong orang lain. Saya sangat percaya bahwa manusia pada dasarnya adalah mahluk yang suka menolong. Namun sering terjadi kita mau menolong seturut kemauan kita. Kita mau menolong menurut keinginan kita. Ini tidak manjadi masalah kalau cara dan keinginan kita itu sesuai dengan yang diharapkan oleh yang kita tolong. Tetapi hal tersebut akan menjadi masalah kalau cara kita itu tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh orang tersebut. Ketika kita ingin membantu dan berusaha menolong orang lain, maka hal pertama harus kita lakukan ialah “mencari tahu” keinginan hati orang yang akan kita tolong tersebut.

Contoh kecil, saya agak sering diundang makan ke rumah keluarga Philippine. Tetapi satu yang selalu saya ingat. Waktu itu disuguhkan “makanan khusus”, demikian mereka sebut. Makanan itu seperti bubur. Penampilan sekilas cukup menarik. Maka saya sendok ke mangkuk yang sudah disediakan. Tanpa pikir panjang saya mulai makan. Pada sendokan pertama, saya langsung “terkejut” dan tanpa sadar saya berteriak “wow”. Rasa makanan itu pahit. Rupanya terbuat dari sayuran pahit dan mereka gemar dengan sayuran itu. Untuk saya makanan yang pahit adalah malapetaka besar. Selama makan tersebut saya jadi salah tingkah dan tuan rumah juga jadi salah tingkah. Untung mereka mengizinkan saya “tak memakan” hidangan yang satu tersebut. Maksud mereka supaya saya bisa menikmati makanan kesukaan mereka, ternyata…

Mungkin contoh tersebut di atas tak terlalu pas menggambarkan Injil hari ini. Tak apa-apa, sekurang-kurangnnya sedikit bersinggungan. Dalam Injil dikisahkan bahwa Yesus dalam perjalanan menuju Jerusalem. Ia singgah di rumah Martha dan Maria. Dalam theology Injil Lukas, perjalanan ke Jerusalem merupakan perjalanan menuju salib dan kematian. Maka Yesus sedang berjalan menuju salib. Mengetahui Yesus singgah di rumah mereka, Martha begitu “senang”. Hari tersebut menjadi hari yang tak bisa mereka lupakan. Jangankan Yesus, Uskup saja singgah di rumah kita akan menjadi bahan ingatan kita seumur hidup. Maka bisa kita bayangkan bahwa Martha memang berusaha membuat Yesus senang. Ia berusaha membuat Yesus merasa at home. Ia berusaha membuat Yesus merasa diterima. Ia memasak dan menyipkan makanan terbaik yang mungkin ia siapkan. Pokoknya “everything is under control”.

Tetapi keingan hati Martha untuk membuat Yesus senang justru “terasa pahit”. Yesus singgah ke rumah mereka bukan untuk mendapat makanan yang istimewa. Ia singgah hanya untuk “beristirahat” sejenak. Untuk mendengarkan dan didengarkan. Ia ingin oase. Dalam kebaikan hatinya tersebut Martha telah “merusak” keinginan hati Yesus. Dalam keinginan hatinya untuk membuat Yesus senang, sebenarnya Martha telah meninggalkan Yesus. Maria di lain pihak mengerti keinginan hati Yesus. Ia memberi ruang pada Yesus untuk “berkeluh kesah”. Harap kita ingat salib bahwa Yesus dalam perjalanan menuju salib. Kematian sudah di depan mata.

Saudara dan saudari, Martha tentu mencintai Yesus dengan sungguh. Ia ingin Yesus bahagia. Ia adalah orang yang sungguh beriman akan Yesus. Dalam Injil Yohanes, Martha dengan lantang mengungkapkan imannya akan Yesus (Cf. Yoh 11:19-27).

Saudara dan saudari, Injil ini mengingatkan kita bahwa ketika kita ingin melayani Yesus, hal pertama yang harus kita buat ialah mencari tahu apa yang Yesus inginkan kita perbuat. Seperti St. Francis of Assisi, kita sebaiknya bertanya: “Lord, what do you want me to do?” Dengan demikian kita melayani Yesus dengan cara yang Yesus harapkan dan bukan hanya seturut selera kita.

Juga, Injil ini mengingatkan kita bahwa untuk menjadi orang kudus terdapat banyak jalan. Ada yang menjadi kudus dengan cara Martha. Ada yang menjadi orang kudus dengan cara Maria. Ada yang menjadi orang kudus dengan berbuat banyak kebikan menolong orang lain. Ada juga menjadi orang kudus dengan kontemplasi yang mendalam. Jalan mana yang pas untuk kita???        

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s