Pemilik Kebun Yang Murah Hati

Injil Matius 20:1-16 ini sedikit aneh ketelinga para pendengar di zaman modern ini. Namun diyakini kisah seperti ini bukan hal yang luar biasa untuk pendengar pada zaman kisah ini diceriterakan. Musim panen anggur di Israel ialah pada bulan September. Segera sesudah itu musim hujan akan datang. Kalau panen terlambat dipetik dan hujan segera datang, maka panen akan gagal karena rusak oleh hujan.

Dalam situasi yang demikian pemilik kebun akan berusaha sedapat mungkin mencari pekerja untuk memetik anggur di kebunnya.

Sementara itu para pekerja pada zaman dulu juga tak bisa dibandingkan dengan para pekerja di zaman modern ini. Pada zaman Yesus diyakini banyak pekerja lepas, yang setiap hari mencoba mengadu nasib. Mereka ini akan berdiri di pasar-pasar, menunggu para pencari buruh datang. Mereka ini ialah kelompok yang malang, sebab tak ada jaminan kerja. Tak jarang mereka tak mendapat pekerjaan dalam sehari. Dan kalau itu terjadi, berarti mereka tak membawa uang kembali ke rumah. Anak-anak akan lapar.

Ada juga pekerja yang nasibnya sedikit lebih baik. Mereka berada dalam satu “wadah pekerja”. Mereka ini pada umumnya lebih mudah mendapat pekerjaan, karena tuan tanah akan lebih percaya pada mereka, sebab mereka memiliki “ketua”. Juga dari segi kemudahan mencari pekerja, memanggil kelompok ini jauh lebih mudah dibanding mencari buruh-buruh perseorangan.

Pemilik kebun anggur tersebut mungkin dalam situasi sangat butuh pekerja. Maka ia seharian berkeliling mencari pekerja. Ia berusaha supaya panennya bisa dipetik sebelum musim hujan datang.

Yang membuat ceritera ini semakin menarik ialah soal upah yang diberi oleh majikan tersebut. Ia mengupah semua pekerja dengan jumlah yang sama. Pekerja yang bekerja seharian dan pekerja yang bekerja hanya beberapa jam dibayar sama. Ini menarik sekali.

Namun sebelum melihat hal itu, ada satu hal lagi yang menarik diamati. Pekerja tersebut dibagi dalam dua kelompok. Yang pertama ialah pekerja yang dikontrak dan yang kedua ialah pekerja yang “suka rela”. Dalam kasus yang pertama, tuan tanah dan pekerja berunding soal upah. Ada kesepakatan. Ada “penandatanganan” kontrak. Sementara dalam kasus yang kedua tuan tanah hanya meminta pekerja untuk pergi bekerja di kebunnya, tanpa ada kesepakatan upah. Ada kemungkinan para pekerja tersebut pasrah pada pemberian majikan tersebut.

Saudara dan saudari, perumpamaan ini bisa dibaca dalam bentuk “warning” untuk orang Yahudi yang memiliki status bangsa pilihan. Mendapat status bangsa pilihan tidak berarti bahwa posisi mereka dalam “kerajaan” berbeda dengan yang lain. Dalam Kerajaan Allah, siapa saja mendapat tempat yang sama. Allah tidak membedakan orang.

Kisah ini juga bisa dibaca sebagai peringatan untuk mereka yang dekat dengan Yesus atau yang merasa dekat dengan Yesus, termasuk para pejabat Gereja. Status menjadi pejabat gereja tidak mengubah status sebagai Kristen. Setiap orang Kristen sama kodratnya. Sama-sama anak-anak Allah. Entah orang mengenal dan kemudian menjadi Kristen belakangan dari yang lain, di kerajaan yang akan datang status sama saja. Setiap orang yang datang pada Allah dihargai dan dinilai sama oleh Allah.

Kisah ini bisa juga dibaca dalam terang “compassion”. Allah berbela rasa dengan orang-orang. Karena itu Allah bersedia “mencari” orang-orang yang mau masuk ke dalam kebahagiaan bersama-Nya. Allah tidak berhitung soal waktu atau materi. Untuk Allah manusia jauh lebih berharga dibanding hal-hal yang lain. Karena itu Allah begitu murah hati kepada siapa saja. Allah tidak membeda-bedakan siapa saja. Allah mengharapkan siapa saja untuk berbahagia bersama Dia di surga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s