Iman Tak Boleh Second Hand

Tulisan ini sebelumnya sudah dimuat di alamat berikut: https://darwinsimanjorang.wordpress.com/?s=personal+discovery

Beberapa saat yang lalu, saya merayakan Ekaristi di St. Francis primary school. Waktu itu yang Misa anak-anak year 5. Ketika Misa akan selesai dan saya melihat mereka masih ingin berlama-lama di tempat Misa (kami Misa di tempat terbuka) maka saya mengajukan tiga pertanyaan untuk mereka. Pertanyaan pertama saya ialah, “Siapa tahu nama gereja Plumpton?” Dan sekitar setengah dari anak-anak angkat tangan. Mereka menjawab, “The Good Shepherd.” Jawaban yang sangat jitu. Jawaban ini menghantar saya pada pertanyaan kedua, “Who is the Good Shepherd?” Dan semua anak-anak angkat tangan. Luar biasa sekali. Tapi saya pikir sebelum mereka mengutarakan jawaban, sebaiknya jangan memuji dulu. Mereka berteriak, “Jesus Christ”. Memang benar meraka sungguh luar biasa. Beruntung bahwa mereka tak menyebut nama dari salah satu pastor yang biasa datang untuk Misa di sekolah mereka, sebab hanya satu “The Good Shepherd”, yakni Yesus Kristus. Pertanyaan yang ketiga kini harus dilayangkan, “Who knows my name?” Dan saya tidak melihat tangan terangkat. Saya menunggu dan menunggu. Saya msih dia dan menunggu. Maklum kali itu merupakan Misa pertama saya di sekolah tersebut. Satu gadis kecil mengangkat tangannya. Saya kenal dia. Dia rajin ke gereja. Saya masih menunggu dan menunggu. Tak ada lagi yang angkat tangan. Gadis kecil itu dengan suara yang mantap menjawab pertanyaan ketiga tersebut. Semua murid tepuk tangan. Saya senang bukan main, sebab mereka tahu dengan pasti Yesus Kristus. Saya senang bukan main karena mereka lebih tahu Yesus Kristus dibanding saya. Sebab memang Yesus Kristus harus lebih populer.

Saudara dan saudari, dalam Injil hari ini Yesus bertanya pada murid-murid-Nya tentang siapa diri-Nya menurut orang-orang. Kita tahu bahwa seorang guru yang baik perlu mengetahui apakah murid-murid mengerti pesan yang dibawanya. Seorang guru yang baik perlu memastikan bahwa pendengarnya tahu pesan yang dia bawa. Yesus adalah Guru Yang Baik. Ia bertanya untuk memastikan apakah ada orang yang sudah mengenal Dia, sesudah sekian lama Dia mengajar dan melakukan perbuatan-perbuatan ajaib. Para murid memberi laporan. Menurut mereka ada orang yang beranggapan Yesus itu adalh Yohanes Pembaptis. Ada yang berkata Yesus itu Elia. Elia adalah nabi terbesar. Maka ketika mereka berkata bahwa Yesus adalah Elia, mereka mau mengatakan bahwa Yesus sama hebat dan besarnya dengan nabi terbesar. Di samping itu ereka juga mau mengatakan bahwa saat kerajaan Allah sudah sangat dekat, sebab para nabi menubuatkan bahwa ketika Mesias akan datang, Ia akan didahului oleh nabi Elia. Ada yang berkata Yesus itu Yeremia.

Ketika orang-orang memberi jawaban demikian, maka mereka menempatkan Yesus pada posisi tertinggi yang bisa mereka pikirkan. Mereka sudah memberi Yesus kehoratan yang tertinggi yang sanggup mereka bayangkan. Jawaban mereka merupakan yang terluarbiasa yang mungkin mereka berikan. Sebab memang benar kalau kita pakai kaca mata manusia, kita tidak akan sanggup melihat Yesus dengan sungguh. Setinggi apapun manusia melukiskan Yesus, maka lukisan tersebut tetap kurang tinggi. Tak ada konsep manusia yang sanggup mendefinisikan Yesus dengan seratus persen benar.

Akhirnya Yesus bertanya pada para murid, “Menurut kamu siapakah Aku ini?” Mendengar pertanyaan seperti ini, kemungkinan para murid “gemetar”. Pasti mereka termangu sejenak. Mungkin ada di antara mereka yang takut mengungkapkan jawabannya, meski dalam hati mereka ada jawaban. Tiba-tiba Petrus memberi jawaban yang luar biasa tepat, “Engkau ialah Mesias, Putera Allah yang hidup.” Jawaban Petrus ini sama sekali bukan berasal dari pengetahuannya. Ini berasal dari Wahyu Allah. Yesus memuji Petrus bahagia, sebab ia terbuka pada wahyu Allah. Yesus juga bahagia karena sekurang-kurangnya seorang tahu siapa diri-Nya sesungguhnya. Yesus bahagia karena sekurang-kurangnnya ada satu orang yang akan berjuang mewartakan kebenaran. Yesus bahagia karena Petrus terbuka pada wahyu Allah dan sanggup mengatikulasikan wahyu tersebut. Petrus memberi kesaksian dihadapan para murid yang lain. Petrus tak hanya menjawab pertanyaan Yesus, ia juga mewartakan siapa Yesus kepada sahabat-sahabatnya, yakni para rasul.

Saudara dan Saudari, Injil ini dengan jelas mengundang kita untuk bertemu dengan Yesus secara pribadi. Yesus bertanya “Menurut kamu..” Maka Yesus mengharapkan jawaban pribadi. Iman akan Yesus sebaikanya berdasar pada permenungan pribadi, berdasar pada pertemuan pribadi, berdasar pada pengalaman pribadi dengan Yesus. Iman pada Yesus bukan second hand. Mungkin banyak di antara kita jadi Katolik karena alasan orang tua, istri atau suami, tapi pada akhirnya iman kita harus berdasar pada pertemuan kita secara pribadi dengan Yesus.  Mari bermenung dan menjawab pertanyaa tersebut secara pribadi. Mari membaca Kitab Suci dan bertemu dengan Yesus. Renungan berdasar Matius 16:13-20.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s