Melanggar Hukum Demi Menaati Hukum

Yesus dan para rasul sedang mengadakan perjalanan. Ketika dalam perjalanan mereka merasa lapar. Lalu mereka memetik bulir-bulir gandung yang ada di pinggir jalan dan memakannya. Melihat hal tersebut kaum Farisi marah bukan main. Mereka menggugat Yesus. Membaca Injil Lukas 6:1-5 ini membuat kita berpikir serius. Kenapa? Karena ini menyangkut hukum.

Kalau kita baca sepintas, masalahnya begitu sederhana. Juga kalau kita lihat Kitab Ulangan 23:25, memetik gandum milik orang lain dengan tangan ketika sedang dalam perjalanan bukanlah dosa. Hanya memang tak boleh memakai sabit. Nampaknya sederhana. Tetapi kalau kita urutkan kejadian itu secara detail, maka persoalan ini menjadi semakin serius. Kesalahan para rasul menurut kaum Farisi bukan hanya karena mereka memetik gandum pada hari Sabat, tetapi lebih dari itu. Para rasul telah melanggar empat larangan yang tak boleh dilakukan pada hari Sabat; yang pertama memanen, kemudian menggiling, lalu membersihkan, serta menyiapkan makanan. Dengan memetik gandum dengan tangan mereka telah melanggar perintah tak boleh memanen pada hari Sabat. Dengan menggosok-gosokkan gandum tersebut di tangan supaya kulitnya terkelupas, mereka telah melanggar hukum tak boleh menggiling gandum pada hari Sabat. Lalu dengan “menghembus” gandum yang ada di tangan dengan harapan agar kulit-kulitnya terbang dan tinggal hanya gandumnya, mereka telah melanggar perintah tak boleh menampi gandum pada hari Sabat. Yang terkahir ialah dengan melakukan semua ini mereka telah melanggar perintah tak boleh menyiapkan makanan pada hari Sabat.

Untuk orang Farisi runtutan pelanggaran ini sangat serius. Ini masalah mentaati hukum. Hukum untuk mereka adalah masalah hidup dan mati. Karena itu mereka mempermasalahkan hal tersebut pada Yesus. Mereka mau Yesus mempertanggungjawabkan perbuatan tersebut.

Mendapat gugatan dari kaum Farisi, Yesus memberi tanggapan yang pasti diketahui oleh kaum Farisi. Yesus mengutip Kitab 1 Samuel 21:1-6. Dalam kitab tersebut dikisahkan Daud dan rombongannya yang sedang lapar. Mereka makan roti kudus yang seharusnya tak boleh mereka makan. Tentu orang Farisi tahu kutipan kitab itu, hanya mereka tak mengerti artinya. Di sini Yesus menegaskan bahwa hukum dibuat untuk manusia dan bukan manusia untuk hukum. Kebutuhan manusia harus didahulukan dibanding hukum. Dengan ini Yesus juga mau menegaskan bahwa hukum kasih jauh lebih mendesak dijalankan. Hukum kasih yang dilupakan oleh kaum Farisi. Mereka memata-matai Yesus demi menemukan kesalahan. Mereka sama sekali tak berminat dengan perbuatan baik yang dilakukan Yesus.

Sering terjadi kita seperti orang Farisi. Kita membaca Kitab Suci dan sebagian malah menghafal banyak ayat-ayat Kitab Suci. Tetapi seperti kaum Farisi kita membaca Kitab Suci bukan untuk mencari tahu kehendak Allah, melainkan untuk mencari pembenaran akan ide dan pikiran kita. Kita membaca Kitab Suci untuk membuktikan orang lain salah. Ini berbahaya.

Kita seharusnya mengambil buah mangga dari pohon mangga dan bukan memberi mangga pada pohon mangga.   

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s