Wanita Jalang Yang Bertobat

Menarik sekali membaca ceritera yang terdapat dalam bacaan Injil hari ini, Lukas 7:36-50. Dikisahkan, Simon seorang Farisi mengundang Yesus untuk makan ke rumahnya. Mendengar kata Farisi, para pembaca mungkin langsung berpikir bahwa kaum ini biasanya “bermusuhan” dengan Yesus. Ternyata ada juga farisi yang mau mengundang Yesus makan di rumahnya. Ada kemungkinan Simon merupakan penggemar Yesus. Ia diam-diam menaruh minat dengan ajaran Yesus, karena itu ia tak segan-segan mengundang Yesus bertamu ke rumahnya dan makan bersama dia. Ada juga kemungkinan lain, mungkin saja Simon seorang “penggemar” kaum selebriti. Ia mengundang Yesus karena Yesus termasuk “selebriti” yang memiliki banyak penggemar. Jadi merupakan suatu “kehormatan” kalau bisa makan sehidangan dengan orang terkenal.

Entah apa alasan Simon mengundang Yesus, yang jelas Yesus memenuhi undangan tersebut. Yesus selalu melihat peluang dan siap dengan peluang yang ada. Yesus selalu siap mewartakan Injil, entah kapan dan di mana saja. Karena itu kesempatan mendapat undangan dari seorang Farisi merupakan kesempatan emas untuk secara langsung mewartakan Injil kepada orang Farisi tersebut dan kemungkinan besar kepada kaum farisi yang lain, yang mungkin hadir juga dalam “perayaan” tersebut.

Nah, merupakan kebiasaan dalam tradisi Yahudi kalau seorang yang diyakini sebagai guru berada di salah satu daerah dan atau sedang makan di salah satu rumah, orang-orang datang untuk mendengar kata-kata bijak yang keluar dari mulut guru tersebut. Untuk lebih memudahkan bisa kita bandingkan dengan situasi di Indonesia (khususnya di daerah), kalau salah satu keluarga mendapat tamu maka tetangga-tetangga akan datang berkerumun ke rumah yang mendapat tamu tersebut. Mungkin penjelasan singkat ini membantu untuk mengerti kehadiran wanita tersebut dalam acara makan bersama itu.

Sangatlah masuk akal kalau wanita itu telah mengetahui banyak hal tentang Yesus. Pekerjaannya membuat dia dengan mudah tahu banyak informasi. Ia seorang pelacur. Seorang pelacur mempunyai banyak “pelanggan”. Dari para pelanggan tersebut ia bisa mendengar begitu banyak informasi seputar apa saja. Di samping itu, sebagai “selebriti”, Yesus tentu hampir dikenali oleh semua orang pada masa itu. Ia menjadi buah bibir di mana saja. Kehadiran-Nya selalu menghimpun berjubel-jubel orang yang ingin mendengar kata-kata Ilahi-Nya dan ingin mendapat penyembuhan rohani dan jasmani. Mungkin saja wanita ini sadah lama ingin “bertobat” tetapi belum tahu bagaimana caranya dan siapa yang bisa membimbing. Maka kesempatan bertemu dan mendengar Yesus merupakan kesempatan yang sangat berharga dan dia nanti-nanti.

Ia datang ke rumah Simon. Ia dengar bahwa Yesus berada di sana. Ia mendengar kata-kata Sang Guru. Kata-kata itu menyentuh lubuk hatinya terdalam. Ia terkesima. Ia merasa hatinya teriris oleh dosa-dosa. Ia sadar ia sedang berhadapan dengan yang Kudus, Putera Allah. Ia bersimpuh di kaki Yesus. Air mata tak terbendung lagi, mengalir bagaikan sungai di musim hujan. Air mata tersebut menetes membasahi kaki Sang Guru Kehidupan. Disekanya kaki yang dibasahi air mata tersebut dengan rambutnya yang terurai. Kemudian diminyakinya kaki Yesus dengan minyak wangi, satu-satunya yang bisa dia persembahkan untuk Yesus.

Simon berang dengar pertunjukan tersebut. Ia menggerutu. Ia keberatan bahwa Yesus membiarkan wanita yang memiliki nama buruk melakukan hal demikian. Ia tak habis pikir.

Yesus, Sang Guru Kehidupan, tahu apa yang ada dalam hati Simon. Lagi-lagi, kesempatan ini digunakan oleh Yesus untuk mewartakan Injil Allah. Yesus menerangkan dengan contah yang jitu apa artinya cinta dan apa arti pengampunan. Yesus juga menerangkan dengan bahasa pendengarnya apa arti “tahu diri dan tahu dosa sendiri”.

Injil ini memberi gambaran yang jelas dua sikap manusia terhadap diri sendiri dan terhadap Allah.

Simon yakin dirinya orang yang baik. Ia percaya bahwa ia tak butuh belaskasihan dan tak butuh pertobatan. Ia sangat puas dengan kekudusannya di hadapan manusia dan di hadapan Allah. Karena ia yakin ia tak butuh kasih, maka ia juga tak butuh mengasihi. Ia juga tak merasa butuh pengampunan karena itu ia tak mendapat pengampunan.

Di lain pihak, wanita tersebut tahu dirinya orang yang berdosa. Ia butuh belaskasih Allah. Ia butuh pengampunan dari Allah. Ia tahu bahwa tanpa kasih Allah, ia tak berarti apa-apa. Karena itu ketika ia berhadapan dengan Allah Putera, ia mencurahkan cinta yang sungguh melampaui kebiasaan. Kalau kebiasaan orang Yahudi membasuh kaki dengan air, ia membasuh kaki Yesus dengan air mata. Kalau orang Yahudi mengeringkan kaki yang baru dibasuh dengan “handuk”, ia mengeringkan kaki yang baru dibasuh tersebut dengan rambutnya. Kalau kebiasaan Yahudi meminyaki kepala tamu dengan minyak wangi, ia meminyaki kaki Yesus dengan minyak yang jauh lebih wangi. Ia tahu bahwa ia perlu menebuh dosa-dosa tersebut dengan cinta yang sungguh-sungguh.

Allah berbelaskasih dan selalu bersedia mengampuni. Kita hanya butuh datang dan mohon ampun dan melalukan perbuatan cinta. Allah selalu menunggu kita untuk datang pada Allah dan menyerahkan diri pada belas kasih-Nya. Allah selalu siap merangkul kita kembali, entah seberapa besar dosa kita. Yang dibuthkan hanya kerendahan hati mengakui bahwa kita berdosa dan butuh belaskasih Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s