Siapakah Aku??

Saudara dan saudari, pertanyaan “who am I?” mungkin merupakan pertanyaan yang biasa kita dengar. Pertanyaan ini biasanya menjadi bahan “yang laris manis” untuk menjadi thema retreat anak-anak sekolah.

Dalam Injil Lukas 9:18-22, pertanyaan yang kurang lebih sama diajukan oleh Yesus. Hanya Yesus menanyakan pertanyaan tersebut bukan kepada diri-Nya tetapi kepada para rasul. Yesus bertanya, “Menurut kamu siapakah Aku?” Mendengar pertanyaan demikian mungkin para rasul terpaku dalam bisa, terpana dalam diam. Mungkin mereka bermenung mencari jawaban yang menarik, logis dan menyenangkan. Atau mungkin juga mereka “cemas” untuk memberi jawab, sebab untuk mereka Yesus begitu luar biasa. Mereka mungkin tak menemukan kata yang sanggup mengungkapkan isi hati mereka.

Di tengah permenungan dan di tengah diam dan keterpesonaan, Petrus memberi jawaban yang sungguh luar biasa. “The Christ of God”, kata Petrus.

Saudara dan saudari, sejak saya memutuskan untuk masuk seminari dan menjadi pastor, mulai dari kelas rethorica hingga kelas terakhir sebelum ditahbiskan, saya telah diajari pelajaran Agama, Theology, Moral, Kitab Suci, Sakramen dan pelajaran-pelajaran rohani lainnya kurang lebih 12 tahun. Biasanya saya dapat nilai yang lumayan bagus. Artinya dari segi pengetahun agama, saya agak lumayan. Saya juga yakin bahwa kebanyakan Anda yang membaca tulisan ini memiliki pengetahuan agama yang cukup, atau lebih dari cukup. Tetapi dalam Injil hari ini, Yesus tak bertanya “Seberapa banyak kau ketahui tentang Aku?”. Yesus juga tidak bertanya apakah kita belajar Theology atau tidak, belajar tentang Sakramen atau tidak. Yesus BERTANYA “Siapakah Aku menurut kamu?” Pertanyaan Yesus ini sungguh personal. Kita bisa memberi jawaban theologis yang luar biasa hebat dan tersusun rapi, tetapi saya sangat yakin bahwa bukan jawaban theologis yang diharapkan Yesus. Yesus mengharapkan jawaban yang berdasar pada kedekatan kita dengan-Nya. Yesus mengharapkan jawaban yang muncul karena kita mengenal Dia secara personal, karena kita akrab dengan Dia. Ini berarti bahwa kita butuh akrab dengan Yesus, kita butuh akrab dengan Kitab Suci, kita butuh akrab dengan liturgy, kita butuh akrab dengan Sakramen.    

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s