Kesembuhan Yang Dasyat

Kisah sepuluh orang kusta yang mendapatkan kesembuhan seketika merupakan suatu kisah yang begitu mendalam. Kisah ini, Lukas 17:11-19, mengandung kebenaran dasari kehidupan ciptaan. Tujuan yang sama atau penderitaan yang sama ternyata bisa menyatukan manusia, yang pada saat-saat normal sulit untuk bersatu. Kita tahu orang-orang Yahudi pada masa Yesus tidak bergaul dengan orang-orang Samaria. Namun dalam kisah ini dilukiskan bahwa dari antara sepuluh pengidap kusta tersebut ternyata ada orang Yahudi dan orang Samaria. Mereka menjadi satu kelompok karena derita mereka. Mereka menjadi satu kelompok untuk mencari kesembuhan dan pertolongan, meski ketika mereka sudah sembuh mereka kemudian “tak bersatu lagi”.

Ketika merenungkan Injil ini, saya begitu terpesona dengan kenyataan bahwa pada dasarnya manusia dan semua ciptaan yang lain bisa bersatu kalau mereka mempunyai tujuan yang sama. Dan kenyataannya semua manusia sebenarnya mempunyai tujuan yang sama, yakni berbahagia dalam kebahagiaan yang abadi. Kalau seandainya tujuan ini disadari oleh semua manusia, maka perselisihan dan peperangan sebenarnya tak perlu ada. Kita semua tertuju pada tujuan yang sama. Tujuan kita ialah bersatu dengan Allah dan menikmati kebahagiaan sempurna bersama Allah.

Saudara dan saudari, kenyataan bahwa kita bisa hidup bersama berdampingan dengan yang lain yang mungkin ‘tak sehaluan’ dengan kita, bisa kita saksikan dalam sejarah kemenangan Obama baru-baru ini. Hitam, putih, kuning, Hispanics dan Asian bersatu padu demi tujuan yang sama, “perubahan”.

Injil ini mengundang manusia untuk menyadari ketergantungannya pada Allah dan menyadari kesatuan-tujuannya bersatu dengan Allah. Kalau demikian manusia tak perlu harus saling gontok-gontokan, atau bunuh-bunuhan. Manusia juga tak perlu merasa berhak untuk membela Allah, sebab Allah tak perlu dibela. Allah hanya perlu diwartakan dengan cinta, sebab Allah itu cinta. Allah tak mungkin diwartakan dengan kekerasan, itu bertentangan dengan kodrat Allah. Kekarasan selalu bertentangan dengan hakekat Allah dan bertentangan dengan tujuan hidup manusia.

Injil hari ini juga mengajarkan manusia untuk “berterimakasih” pada Allah atas segala rahmat yang Allah berikan kepada mereka masing-masing. Setiap hari manusia beroleh rahmat demi rahmat. Rahmat-rahmat tersebut adalah pemberian gratis dari Allah. Namun kenyataan ialah banyak manusia ketika sedang butuh datang bertekuk lutut memohon pada Allah, tetapi ketika sudah mendapat apa yang ia iginkan lupa kembali untuk berlutut mengucap terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s