Cintailah Musuhmu!

Tanggal 17 November Gereja merayakan peringatan St. Elisabeth dari Hungaria. Bacaan Injil pada perayaan ini diambil dari Lukas 6:27-38. Dalam Injil ini Yesus mengatakan; “Tetapi kepada kamu yang mendengarkan Aku, Aku berkata: “Kasihlah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu…”
Injil ini merupakan salah satu teks yang sangat menantang dan hingga kini selalu menarik perhatian dan diskusi. Mencintai musuh mungkin sangat khas ajaran Yesus. Agama-agama lain dan tokoh-tokoh lain biasanya mengajarkan “mata ganti mata”, tetapi Yesus mengajarkan jauh lebih dasyat dari ajaran siapa saja. Yesus sanggup mengajarkan ajaran yang jauh melebihi tokoh-tokoh penting lainnya karena Yesus jauh melampaui tokoh-tokoh tersebut. Yesus ialah sabda yang menjadi daging, Allah yang menjelma menjadi manusia. Karena itu ajaran Yesus adalah ajaran Allah. Ajaran Yesus adalah ajaran yang sempurna. Kesempurnaan hanya terdapat dalam ajaran Yesus.
Cintailah musuhmu! Apa artinya? Dengan ungkapan dan ajaran ini, Yesus meminta semua pengikut-Nya untuk selalu dan secara active menghendaki kebaikan terjadi pada orang lain, tak peduli apa yang orang lain perbuat pada orang-orang Kristen. Entah apa yang orang lain perbuat pada orang Kristen, orang Kristen diajarkan oleh Yesus untuk tidak pernah menghendaki keburukan terjadi pada orang tersebut, melainkan kebaikan dan kebahagiaan. Luar biasa bukan??
Saudara dan saudari, pada umumnya kalau seseorang membuat kita sakit hati, secara spontan kita berkata (dalam hati atau terungkap) “semoga orang tersebut mendapat hukuman yang setimpal”. Ini secara alamiah kita inginkan. Namun sebagai orang Kristen yang telah diangkat dan dijadikan anak-anak Allah, kita seharusnya tidak menginginkan orang lain mendapat hukuman. Kita seharusnya mendoakan orang tersebut dan memohon supaya Allah mengubah orang tersebut dan menyentuhnya dan membimbingnya ke jalan yang benar.
Yesus bersabda; “Cintailah musuhmu!” Dengan ini Yesus sama sekali tidak meminta kita untuk jatuh cinta dengan orang yang kita benci dan membenci kita. Hal itu tak masuk akal dan tak mungkin terjadi. Yesus mengharapkan supaya kita selalu dan dalam situasi apa saja mencoba untuk mencintai, tak peduli apakah orang tersebut mencintai kita atau tidak, tak peduli juga apakah orang itu melakukan kebaikan kepada kita atau tidak.
Dengan Injil ini kita para pengikut Kristus diharapkan lebih dari yang lain. Kalau orang-orang lain hanya sanggup mencintai orang-orang yang seagama dan sepaham dengan mereka, kita diharapkan mencintai tanpa batas. Kita diharapkan mencintai siapa saja. Ketika orang dan agama lain mengatakan “mata ganti mata”, kita para pengikut Kristus mencoba dan berusaha untuk mencintai orang yang tak mencintai kita. Yesus bersabda; “Barang siapa menampar pipimu yang satu, berilah juga kepadanya pipimmu yang lain…” (Lukas 6:29).
Selain itu, dengan Injil ini kita juga diingatkan bahwa agama Kristen adalah agama yang positif. Yesus memakai kata-kata yang positif dan sifatnya membangun. Orang-orang Kristen adalah orang-orang yang berusaha berbuat baik dan berbuat baik. Moral dan ajaran Kristen bukan mengungkung tetapi membebaskan dan membiarkan orang “terbang” dan berkembang menuju kesempurnaan.
Saudara dan saudari, menjadi Kristen berarti kita menjadi orang-orang yang lebih baik dari yang lain. Kita menjadi orang-orang yang lebih mencinta dari yang lain. Yesus telah menunjukkan contoh yang baik untuk kita ikuti.
Hari ini kita merayakan peringatan St. Elisabeth. Dia adalah putri bangsawan yang menikah dengan Raja Luis. Ia sangat menaruh minat menolong orang miskin dan terlantar. Ia memberi mereka tumpangan dan memberi mereka makanan. Elisabeth tak segan-segan mengambil makanan dari kerajaan untuk dibagikan kepada orang-orang miskin. Cintanya untuk menolong orang miskin sangat luar biasa. Ia yakin sekali bahwa mencitai dan menolong orang miskin berarti mencintai dan menolong Yesus Kristus.
Ketika suaminya meninggal, keluarga suaminya mengusir dia dari kerajaan, karena mereka berpikir bahwa Elisabeth terlalu banyak menghabiskan harta kerajaan untuk menolong orang miskin. Mendapat perlakuan yang demikian, Elisabeth tak sakit hati. Ia tetap mencintai keluarga suaminya, meski mereka telah berbuat tak adil kepada dia dan ketiga anaknya. Cintanya kepada orang miskin juga tak pernah pudar. Ia bekerja dan mencari uang untuk bisa menolong orang miskin. Ia kemudian bergabung dengan Ordo Ketiga Franciscan (Secular Franciscan Order = SFO) atau yang dikenal juga Ordo Fransiskan Awam (OFS). Setelah menjadi anggota ordo ini, Elisabeth semakin berkobar untuk mencintai dan menolong orang miskin. Ia mendirikan rumah sakit untuk mengobati orang-orang miskin dan terlantar. Cinta Elisabeth melampaui batas. Ia sungguh telah menjalankan nasehat Injil, sebagaimana Yesus menghendaki dan sebagaimana Anggaran Dasar Kelaurga Franciscan menggariskan.

Satu pemikiran pada “Cintailah Musuhmu!

  1. kenyataannya sangat berat jika kita mengasihi musuh kita. tetapi krn q anak Tuhan, q harus bisa mengasihi musuhki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s