Talenta

Saudara dan saudari, ketika baru tiba di Sydney tiga tahun yang lalu saya hanya mengerti sedikit bahasa Inggris. Dan ketika itu, waktu saya masih di Indonesia, saya sudah mendaftar ke salah satu lembaga pendidikan Katolik di kota Sydney. Berbekalkan beberapa certificate kursus bahasa Inggris dan ijajah saya waktu di Indonesia, saya diterima menjadi salah satu mahasiswa di situ.
Seminggu setelah tiba di Sydney, saya harus pergi kuliah. Oh my God… Di kelas saya tak mengerti apa-apa. Saya hanya mendengar suara bagaikan “suara lebah”. Dosen yang berkoak-koak tak ubahnya dengan suara iring-iringan “Harley Davidson”. Menjengkelkan! Saya tak perlu minum bir, sudah mabuk setiap pulang kuliah.
Saya hampir menyerah. Saya berusaha meyakinkan diri saya bahwa semua akan baik-baik saja. Ternyata tak semudah mengatakan “semua akan baik-baik saja”. Sakit perut menjadi rutinitas tambahan di pagi hari. Meski demikian saya tetap yakin bahwa badai pasti berlalu. Masa yang indah pasti datang. Keep on going!
Setelah menyadari bahwa bahasa Inggris saya perlu dipacu secepat mungkin, setiap hari saya membaca “Sydney Morning Herald”. Saya tak peduli apakah saya mengerti atau tidak, yang jelas semua saya baca. Kadang-kadang kata-kata tertentu saya hafalkan. Di samping itu, radio menjadi sahabat yang baik untuk belajar. Radio dari ipod kecilku hampir selalu menempel di telingaku, bahkan sering ketika saya sudah tertidur, earphone dari radio masih menempel di telinga dan tetap dengan sabar dan setia mengajar saya berbahasa Inggris. Hehehehe…
Saudara dan saudari, dalam Injil Matius 25:14-30 dan Lukas 19:11-28, kita membaca perumpamaan tentang Kerajaan Allah. Kedua perikope melukiskannya secara mirip, meski harus dikatakan bahwa lukisan keduanya berbeda. Dalam Injil Matius dikatakan dengan tegas bahwa tuan tersebut memberi hartanya kepada hambanya secara berbeda, masing-masing menurut kesanggupannya. Ada yang mendapat 5, 2 dan 1. Jelas sekali bahwa kita masing-masing mempunyai talenta yang berbeda-beda. Ada yang memiliki banyak bakat, ada yang sedikit dan ada yang sangat terbatas. Tetapi dari Injil Matius ini kita bisa menarik kesimpulan bahwa yang menjadi persoalan bukan jumlah talenta, melainkan bagaimana kita memakai talenta tersebut dan mengembangkannya. Allah tidak pernah menuntut dari seseorang sesuatu yang tidak dimiliki orang tersebut. Tetapi Allah menuntut setiap orang untuk mengembangkan talenta yang dimilikinya secara optimal.
Jadi saudara dan saudari, kita tidak memiliki talenta yang sama, tetapi kita bisa memiliki perjuangan yang sama untuk mengembangkan talenta-talenta tersebut. Dan Injil ini mengajarkan kepada kita entah seberapa talenta yang kita miliki; sedikit atau banyak, luar biasa atau biasa-biasa saja, talenta tersebut harus kita kembangkan demi kebesaran kemuliaan Allah dan demi kebaikan bersama.
Injil ini juga memberi penegasan kepada kita bahwa Allah begitu percaya kepada kita masing-masing. Dilukiskan bahwa tuan dalam perumpamaan tersebut mempercayakan hartanya kepada hambanya dan ia tak mau mencampuri mereka dalam mengembangkan “bisnis”. Ia juga tak mau memata-matai mereka. Ia pergi dan meninggalkan mereka berjaung dan melakukan apa yang menurut mereka baik. Allah juga begitu percaya dengan kita semua. Kita diberi peluang untuk melakukan hampir semua yang mau kita lakukan. Allah tidak serta merta campur tangan ketika melihat kita tak menggunakan talenta dan rahmat pemberian-Nya secara tidak tepat. Allah percaya pada kita melampaui apa yang bisa kita bayangkan. Hanya ada saatnya Allah menuntut pertanggungjawaban atas semua yang telah kita perbuat.
Saudara dan saudari, Injil ini juga mengajarkan kepada kita bahwa upah melakukan kerja yang baik bukan terutama diberi izin untuk berlibur dan bersenang-senang. Malah kepada hamba-hamba yang telah bekerja dengan baik itu diberi tugas dan tanggung jawab yang lebih berat. Hal ini bisa kita bandingkan dengan pegawai kantor. Pegawai yang berprestasi akan lebih berpeluang mendapat “penaikan” pangkat dibanding yang kurang berprestasi.
Kemudian kita juga melihat dalam Injil ini bahwa seseorang dihukum bukan karena ia kehilangan talenta yang dipercayakan kepadanya. Ia dihukum karena ia tak berani mengambil resiko atas talenta tersebut. Kalau ia berusaha mengembangkannya dan ketika sedang berusaha “terjadi krisis global” dan hilanglah harta majikan tersebut, mungkin ia tak akan dihukum. Tetapi yang menjadi masalah dengan orang tersebut adalah ia sama sekali tak mau mencoba. Saudara dan saudari, sering menjadi “tantangan dan godaan” untuk orang yang memiliki talenta “sedikit” untuk berkata; “Apalah aku ini, saya tak bisa berbuat banyak.” Memang masuk akal kalau seseorang hanya memiliki sedikit “harta” pastilah ia berusaha untuk menjaga agar harta tersebut tak hilang, sebab itu “hartanya satu-satunya”. Tetapi hanya mengamankan “harta satu-satunya” dan tak mau mengambil resiko dengan harta tersebut juga tak menolong, sebab sampai kapan kita bisa bertahan hanya mempertahankan “harta satu-satunya tersebut”.
Saudara dan saudari, dulu saya suka main pimpong. Saya bayangkan dulu saya agak pintar main pimpong. Tetapi setelah berhenti main pimpong bertahun-tahun lamanya, sekarang saya menjadi seperti orang yang baru belajar main pimpong.
Saya ingat juga bahwa dulu saya suka main bulu tangkis. Saya termasuk rajin main bulu tangkis ketika saya masih di Indonesia. Tetapi setelah sekian tahun tak main, saya pernah coba main di Sydney, semua tulang-tulang pergelangan tangan saya seperti “dipukuli”. Sakit sekali.
Talenta juga demikian, kalau kita tak “pakai” maka pelan-pelan ia akan hilang. Kalau kita pakai dan kembangkan maka kita akan bisa melakukan banyak hal dengan itu. Ini adalah hukum kehidupan, “if you wanna win, you got to play.” Semakin banyak kita memakai talenta yang Allah berikan untuk memuji dan memuliakan Allah dan untuk kebaikan bersama, semakin banyak akan kita dapat. Have a try!!

2 pemikiran pada “Talenta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s