Yang Hilang Ditemukan

Saya sangat yakin bahwa semua orang menghendaki kebahagiaan. Setiap orang berusaha untuk bahagia. Setiap orang ingin berjalan di jalan yang benar. Namun demikian tidak setiap orang tahu di mana mereka harus mencari kebahagiaan. Juga tidak setiap orang tahu jalan mana yang harus mereka ikuti sehingga mereka sampai ke tempat yang mereka kehendaki, yakni kebahagiaan sempurna.
Ada yang mencari kebahagiaan dengan cara mabuk-mabukan. Mereka pikir dengan mabuk mereka menemukan kebahagiaan, padahal yang mereka temukan adalah rasa “tenang” yang semu dan yang segera berubah menjadi “sakit kepala”. Ada juga yang mencari kebahagiaan dengan main judi. Yang mereka dapati ialah isi dompet mereka semakin lama semakin habis. Ada juga yang mencari kebahagiaan dengan belanja dan belanja. Memang memiliki banyak barang seakan memberi kesenangan, tetapi ketika tagihan datang bertubi-tubi, kemudian mereka baru sadar bahwa banyak barang yang mereka beli sama sekali tidak mereka butuhkan. Sayang penyesalan selalu datang terlambat.
Ada juga yang mencari kebahagiaan dengan mencari istri-istri simpanan dan istri-istri muda. Mereka pikir dengan memiliki dua, tiga atau empat istri akan membawa mereka kepada kebahagiaan. Padahal itu akan membawa mereka menuju kesengsaraan dan itu juga akan membawa orang lain menuju kesengsaraan. Mereka pikir laki-laki bisa sesuka hatinya mengawini wanita. Mereka pikir wanita sebagai barang yang bisa mereka “beli” dengan uang. Padahal laki-laki dan wanita dicipta sederajat dan memiliki hak yang sama. Orang yang mencari kebahagiaan dengan cara kawin sebanyak mungkin akhirnya hanya jadi pecundang dan budak nafsu. Kasihan sekali.
Banyak jalan yang orang pikir menuju kebahagiaan, ternyata tidak.
Dalam Injil Lukas 19:1-10 kita membaca kisah pemungut cukai yang kaya. Ia bernama Zakheus. Ia memiliki kekayaan yang mungkin lebih banyak dari kekayaan banyak pejabat Indonesia (yang setelah menjadi pejabat tiba-tiba kaya sekali – karena banyak menerima sumbangan ini-itu). Zakheus kaya raya, tetapi ia tidak menemukan kebahagiaan dalam hidupnya dan dalam kekayaannya. Ia merasa kosong. Ia tak punya teman, sebab ia adalah pemungut cukai (pekerjaan yang penuh aksi tipu-tipu dan dianggap penuh dosa oleh orang Yahudi). Ia ingin mencari kebahagiaan.
Pastilah ia pernah mendengar tentang Yesus yang selalu terbuka menerima kaum pendosa dan para pemungut cukai. Zakheus begitu terpesona dengan ceritera-ceritera yang ia dengar tentang Yesus. Ia juga mendengar bahwa Yesus akan mengunjungi Jericho, kota tempat tinggalnya. Ia melihat ada kesempatan untuk melihat orang seperti apakah Yesus yang sangat menarik minat orang banyak tersebut. Karena itu ia berusaha untuk ikut dengan orang banyak melihat Yesus.
Saudara dan saudari, sesuatu yang mendalam dan dasyat terselubung dalam usaha Zakheus ini. Kita tahu dia adalah pemungut cukai. Setiap pemungut cukai dibenci oleh masyarakat. Maka untuk pemungut cukai mencoba bergabung dengan massa yang berdesak-desakan merupakan tindakan yang sangat beresiko. Orang-orang yang membenci dia akan melihat ini sebagai kesempatan untuk membalas dendam. Ini merupakan kesempatan yang terlalu bagus untuk dibiarkan berlalu tanpa “kenangan”. Orang-orang sangat mungkin menghadiahi Zakheus dengan sepakan, tinjuan, atau ludahan, atau dorongan yang kasar, atau tindakan kasar lainnya.
Karena itu untuk Zakheus bergabung dengan massa yang sangat besar jumlahnya merupakan tindakan mengambil resiko. Namun Zakheus tak peduli dengan keselamatan dirinya. Ia hanya ingin melihat Yesus, yang lain ia tak peduli. Tetapi karena badannya pendek dan mungkin karena perlakuan orang yang tak bersahabat, ia keluar dari kerumunan dan berlari ke arah satu pohon, yang kemudian dia panjat. Dia yakin dari pohon itu ia akan melihat Yesus yang melintas.
Usaha dan kerja keras Zakheus ini menghasilkan sesuatu yang melampaui yang ia harapkan. Yesus justru mengundangnya untuk turun dan Yesus justru datang ke rumahnya dan makan bersama dia. Bukan main.
Saudara dan saudari, Zakheus dulu tersesat, tetapi ketika ia tahu bahwa ia telah tersesat, ia mencari jalan untuk lepas dari ketersesatan tersebut. Ia menemukan jalan terbaik, yakni Yesus sendiri. Yesus adalah jalan, kebenaran dan hidup. Yesus selalu terbuka untuk menerima siapa saja yang mencari Dia.
Saudara dan saudari, kalau Anda tersesat atau teman Anda tersesat, datanglah pada Yesus. Yesuslah kebahagiaan yang kita cari-cari. Bersama Yesus kita akan mengalami kebahagiaan yang tak mungkin diberi oleh yang lain. Hanya YESUS…

Satu pemikiran pada “Yang Hilang Ditemukan

  1. Trim’s artikel renungannya semoga menjadi berkat, dan dapat menjadi inspirasi buat saya yang sedang menyusun renungan dengan tema sama untuk murid murid saya. Tuhan Yesus memberkati kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s