Yesus Menyembuhkan Orang Kusta

Minggu Biasa VI, tahun B
Dua orang penderita kusta hendak pergi ke pusat kota. Mereka berdua memutuskan untuk naik taxi. Maka mereka segera menghentikan taxi yang kebetulan melintas. Taxi berhenti dan menaikkan mereka. Segera setelah mereka naik, supir taxi sadar bahwa penumpangnya adalah penderita penyakit kusta. Dia merasa jijik dan takut. Ia takut kalau nanti ada kontak fisik dengan penderita tersebut maka kemungkinan penyakit kusta tersebut akan menular kepadanya. Karena takut tertular dan untuk menghindari kontak fisik, maka ia memutuskan untuk tidak menerima ongkos mereka. Ketika kedua penderita kusta tersebut turun dan menyodorkan ongkos mereka, supir taxi tersebut berkata: “Ohhh..ga usah. Bapak pegang aja. Mungkin bapak-bapak lebih membutuhkannya.” Penderita kusta tersebut begitu senang karena “kebaikan” supir taxi tersebut dan secara spontan mereka menyalam tangan sang supir dan segera menciuminya. Supir taxi tersebut hampir pingsan karena ulah mereka itu… Siapa suruh “pura-pura baik.”
Saudara dan saudari yang terkasih dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus, bacaan pertama (Imamat 13: 1-2, 44-46) melukiskan dunia yang membeda-bedakan. Kisah seperti dalam bacaan pertama ini masih kita alami dalam dunia kita saat ini. Dunia kita penuh dengan pengkategorian, yang bertujuan pada umumnya bukan menyatukan tetapi untuk memisahkan dan membedakan. Kita bisa mengambil contoh G 20 atau G 7 (kumpulan Negara-negara terkaya di dunia), dll. Kita juga melihat bahwa dunia kita dibagi menjadi dunia pertama dan dunia ketiga. Contoh lain yang bisa kita lihat ialah pusat-pusat perbelanjaan yang memisahkan tempat belanja bagi orang-orang kaya, tempat belanja bagi orang-orang yang berjuang keras untuk kelihatan kaya dan tempat belanja bagi orang-orang miskin. Dunia membeda-bedakan.
Dalam bacaan pertama dikisahkan bahwa seorang penderita kusta harus diasingkan dan berdiam diri di luar perkampungan. Orang kusta harus berpakaian compang-camping. Orang kusta harus berteriak “unclean, unclean”. Rambut mereka harus acak-acakan. Dari keterangan singkat ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa penderitaan orang kusta bukan hanya karena mereka menderita secara fisik, tetapi juga karena mereka harus menanggung beban psikologis karena dikucilkan dari masyarakat. Mereka tak dihitung sebagai orang yang “hidup”. Mereka adalah “orang mati” yang masih hidup.
Dalam Injil (Markus 1: 40-45) kita membaca bagaimana seorang penderita kusta datang pada Yesus dan memohon untuk disembuhkan oleh Yesus. Sesuatu yang luar biasa terjadi di sini, Yesus mengulurkan tangan-Nya dan menjamah orang tersebut. Dan Yesus menyembuhkan orang kusta tersebut dari penyakit kustanya. Tindakan Yesus yang sederhana ini memiliki arti sangat penting bagi orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tersebut dan bagi orang-orang yang membaca kisah tersebut.
Pertama mari kita lihat apa kemungkinan reaksi orang banyak terhadap peristiwa “luar biasa” tersebut. Orang Yahudi tahu bahwa penyakit bisa berjangkit lewat sentuhan. Mereka tahu juga kalau berdekatan dengan penderita penyakit tertentu bisa mengabibatkan menularnya penyakit. Ini salah satu alasan mengapa orang kusta mereka kucilkan, mengapa orang kusta harus tinggal di luar perkampungan. Lalu ketika mereka melihat Yesus menjamah orang kusta, orang yang seharusnya dihindari tersebut, orang-orang banyak pasti merasa risih dan aneh. Perasaan demikian bisa kita bandingkan dengan perasaan kita ketika melihat seorang dokter yang hendak mengoperasi seorang pasien tidak terlebih dahulu mencuci tangan dan kemudian memakai sarung tangan. Orang banyak pasti “shock” melihat tindakan Yesus tersebut.
Kemudian, kita juda tahu bahwa Yesus tak perlu harus menjamah orang tersebut untuk menyembuhkan penyakit kustanya. Dengan sepatah kata saja Yesus sanggup menyembuhkan penyakit tersebut. Tetapi untuk Yesus proses penyembuhan bukan hanya sebatas melenyapkan penyakit kusta dari tubuh orang tersebut. Untuk Yesus penyembuhan lebih dari itu. Kita bisa membayangkan berapa lama sudah orang tersebut tidak menyentuh orang sehat. Kita tidak tahu berapa lama sudah ia menderita kusta. Mungkin bertahun-tahun. Selama itu juga itu tidak pernah menyalam orang sehat, tidak pernah bersenggolan dengan wanita di pusat-pusat perbelanjaan, tidak pernah berdesak-desakan dengan orang-orang yang keluar dan masuk Bait Allah. Sebab ia memang dilarang kesemua tempat tersebut, dilarang berdekat dengan orang sehat. Jadi ketika Yesus mengulurkan tangan dan menyentuh dia, pengalaman itu pastilah menjadi pengalaman “terindah” yang pernah ia alami. Pengalaman tersebut pastilah menjadi teraphy khusus untuk dia. Bukan main.
Lalu, dengan mengulurkan tangan dan menyentuh orang kusta tersebut, Yesus sendiri sebenarnya berkemungkinan tertular penyakit kusta. Memang Yesus adalah Putera Allah, tetapi sebagai manusia ia tak terbebas dari resiko menderita suatu penyakit. Kita tahu Yesus juga pernah merasa letih, merasa lapar dan membutuhkan makanan. Karena itu dengan menyentuh orang kusta tersebut Yesus membuat diri-Nya dalam bahaya. Saudara dan saudari dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus, Yesus telah mengambil resiko dengan menjamah orang tersebut. Maka Injil ini juga berbicara tentang “pentingnya” mengambil resiko. Kita sebagai pengikut Yesus juga dipanggil untuk mengambil resiko. Kita diundang untuk “menyentuh” para penderita dan menyentuh hidup orang-orang yang membutuhkan.
Sebagaimana Yesus yang bersedia menyentuh dan merangkul yang “tak tersentuh dan tak terangkul”, kita juga diundang untuk melakukan hal yang sama. Memang hal ini beresiko. Resiko pengorbanan, karena dengan hal itu berarti kita harus mengorbankan waktu luang kita untuk menjenguk dan menghibur orang sakit dan orang yang membuthkan perhatian kita. Resiko pengorbanan yang berikut ialah kita harus menahan perasaan ketika berhadapan dengan orang-orang yang sakit, tak gembira, tak menyenangkan.
Ketika berbuat demikian, kita juga menghadapi resiko turut serta menanggung derita dan salib orang yang menderita. Kita turut membagi derita orang-orang yang kita perhatikan dan tolong tersebut.
Selain itu ada juga resiko tak dihargai. Setelah kita berusaha berbuat sebaik mungkin, ternyata orang yang kita tolong, layani dan perhatikan ternyata sama sekali tidak menghargai perbuatan baik kita.
Saudara dan saudari yang terkasih dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus, ketika membaca Injil ini kita diundang untuk meneladan Yesus. Yesus tidak menolak orang kusta yang datang kepada-Nya, tetapi menerima dan menjamahnya dengan penuh perhatian. Untuk Yesus orang tersebut bukanlah orang terbuang, tetapi seseorang yang membutuhkan lebih banyak perhatian. Dengan ini Yesus menunjukkan cinta yang tak bersyarat, kasih yang tak terbatas. Dan Yesus yang sama mengundang kita untuk mengulurkan tangan kita untuk “menjamah” dan menolong orang yang membutuhkan. Yesus akan memberkati dan menguatkan kita untuk melakukan hal-hal tersebut. God Bless.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s