Sikap Allah Terhadap Manusia

Minggu Biasa ke 7 Tahun B
Yesaya 43: 18-19, 21-22; 2 Korintus 1: 18-22; Markus 2:1-12

Saudara dan saudari, Yesus adalah seorang guru dan penyembuh. Yesus begitu focus dengan pengajaran dan juga pada misi untuk menyembuhkan. Pada saat ini saya mengajak Anda sekalian untuk lebih memusatkan perhatian pada peristiwa penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus. Bacaan pertama dari Kitab Yesaya mengumandangkan bahwa sesuatu yang baru akan terjadi dan membutuhkan pengharapan. “Allah bersabda: tak perlu mengingat masa lampau, tak perlu mengingat apa yang telah terjadi sebelumnya. Lihat saya melakukan hal-hal yang baru … ya saya membuat jalan di padang gurun.” Pernyataan ini kiranya bagian dari proses penyembuhan terhadap bangsa Israel – bangsa yang sebelumnya terbuang.
Dalam Injil Markus kita membaca kisah penyembuhan seorang yang lumpuh, dan penyembuhan tersebut membuat orang memuliakan Allah. Yesus melihat iman orang yang membawa orang lumpuh tersebut. Mereka telah berjuang untuk sampai pada Yesus. Mereka mungkin datang dari tempat jauh. Mereka mengalahkan keletihan memikul orang lumpuh tersebut, demi bertemu dengan Yesus. Semua hambatan mereka kalahkan. Mereka tak peduli penolakan kaum Farisi. Mereka tak habis akal ketika rumah tempat Yesus mengajar telah penuh sesak. Keinginan mereka untuk bertemu Yesus tak terbendung lagi. Karena iman tersebut, Yesus menyembuhkan orang lumpuh tersebut, secara jasmani dan rohani. Orang lumpuh tersebut mengalami kesembuhan secara total, terutama karena Yesus mengampuni dosanya. Bukan main.
Sebelum Yesus menyembuhkan orang lumpuh tersebut, Yesus pertama-tama mengampuni dosa orang tersebut. Mengapa? Kedengarannya aneh?? Kalau kita mengerti latar belakang proses penyembuhan ini maka tindakan Yesus tersebut sangat masuk akal. Untuk orang Yahudi dosa dan penderitaan berhubungan sangat dekat. Yang menderita pastilah berdosa. Orang Yahudi juga percaya bahwa tak mungkin suatu penyakit disembuhkan kalau dosa orang tersebut belum diampuni. Pengampunan menjadi syarat mutlak sebelum penyembuhan. Sehingga ketika akan menyembuhkan orang tersebut Yesus pertama-tama mengampuni dosa orang tersebut. Kalau boleh dibahasakan dengan ungkapan lain, proses pengampunan yang dilakukan oleh Yesus tersebut bisa berbunyi: “Anakku, jangan takut dan cemas. Allah tidak marah padamu. Semua akan baik-baik saja. Dosamu telah diampuni.” Dengan ungkapan demikian maka boleh dikatakan proses penyembuhan telah berjalan 50%. Beban psikologis orang lumpuh itu telah “dicabut”.
Mendengar Yesus mengampuni dosa orang tersebut, orang Farisi yang hadir merasa “gerah”. Sebab mereka yakin dan percaya hanya Allah yang sanggup mengampuni dosa. Kalau ada orang lain mengklaim mengampuni dosa, maka itu adalah tindakan menghojat Allah dan menjadikan diri sendiri sebagai allah.
Yesus tahu apa yang mereka pikirkan. Karena itu Yesus mengajukan satu pertanyaan, yakni “Apakah lebih mudah mengatakan ‘dosamu sudah diampuni’ atau ‘bangkitlah dan berjalanlah’? Untuk banyak orang mungkin lebih mudah mengatakan yang pertama, sebab pernyataan itu tak bisa dibuktikan, tetapi pernyataan yang kedua membuthkan pembuktian. Dengan pertanyaan tersebut, Yesus mengatakan kepada kaum Farisi bahwa mereka percaya secara teguh setiap orang sakit dan menderita adalah akibat dosa. Dan mereka juga percaya sebelum dosa diampuni orang tersebut tak akan sembuh. Nah, kemudian Yesus memerintahkan orang lumpuh tersebut berjalan dan ia sembuh. Kalau demikian maka Yesus berhak mengampuni dosa, dan pengampunan itu berdaya guna. Yesus memang luar biasa.
Saudara dan saudari, ketika membaca Injil ini, sesuatu yang sangat menarik muncul kepermenungan saya. Ketika kita merasa “menderita” karena dosa dan kesalahan kita, Yesus berkata; “Anakku, jangan takut! Allah tak marah padamu. Kembalilah kepangkuan Allah. Kembaliah ke jalan yang benar. Dosamu diampuni.” Bukan main.
Juga dengan Injil ini kita melihat siapa Yesus dan siapa Allah. Yesus menunjukkan dengan sempurna siapa Allah dan bagaimana sikap Allah terhadap manusia. Allah begitu mencintai manusia dan bersedia kapan saja untuk menerima orang yang ingin kembali mengalami cinta kasih-Nya. Yesus menunjukkan Allah yang dengan murah hati mengampuni. Allah itu kasih.
Jadi saudara dan saudari, tak perlu takut untuk datang pada Yesus. Kapan dan di mana saja. Tangan Yesus selalu terbuka untuk merangkul dan menjamah kita. Ia selalu siap menyembuhkan “penyakit” kita. Ia selalu bersedia mengampuni kita. Datanglah pada Yesus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s