Ketika penulis sedang mengadakan perjalanan melintasi perkebunan Nauli Sawit, penulis heras bahwa truk yang memperbaiki jalan di dalam perkebunan kebanyakan memakai plat merah dan ada yang bertuliskan dinas PU. Koq truk milik umum tersebut bekerja untuk perusahaan tertentu??
Pantas jalan-jalan di Tapteng rusak parah, karena sarana untuk jalan umum mungkin “sudah dibeli” oleh pihak tertentu.
Kasihan Tapteng.
Ditulis dalam jangan lewatkan | Leave a Comment »
Sejak Natal kemarin para PNS se Tapteng telah bergrilya untuk mendukung calon bupati yang merupakan orang dekat oknum pejabat teras Tapteng. Dukungan tersebut telah meresahkan masyarakat. Para siswa di sekolah-sekolah Negeri digiring untuk menyatukan pilihan, termasuk keluarga dan orang tua mereka. Kenapa bisa demikian?
Pesan Natal okumene juga terarah pada upaya mendukung calon tertentu. Bahkan sekarang telah beredar kalender calon tertentu di sekolah-sekolah Negeri dan di sekolah-sekolah yang ada guru PNS nya atau ada gurunya yang punya hubungan dgn PNS. Apakah karena inimidasi dari oknum tertentu??
Stop intimidasi di Tapteng!! Tapteng BUKAN KABUPATEN KERAJAAN. SEKARANG YANG MENJADI PEJABAT TERAS ‘SUAMI’ DAN PADA PENCALONAN BERIKUT ‘ISTRI’ DAN MUNGKIN SAJA KEMUDIAN ANAK DAN CUCU…
Cukup sudah!!!
Ditulis dalam Blogroll, artikel, bacaan menarik, bacaan ringan, berbagi rasa, berita, blog, pemikiran, personal, wah-wah-wah | Leave a Comment »
Setelah hampir empat tahun melanglang buana di negeri orang, kini hampir tiba saatnya untuk “kembali ke rumah” – kembali ke negeri tercinta Indonesia. Bukan main bahagia hati ini, bukan main sedih juga sebab dengan demikian artinya saya harus meninggalkan begitu banyak orang yang saya sungguh cintai. Tetapi itulah hidup. Sekarang saya bisa bernyanyi untuk mereka “Thousand miles between us now…”
Semoga perjalanan ke tanah air akan menjadi perjalanan yang menyenangkan dan membahagiakan.
Selamat tinggal Aussie, thanks for every thing. Hope to see you next time. Kiranya lirik lagu “Puteri” – Mungkin dengan perpisahan, kita kan mengerti arti pertemuan- mewakili isi hati saya pada saat ini.
Vaya condios… Good bye.
Ditulis dalam bacaan ringan, berbagi rasa, berita, berkas | 1 Komentar »
Jesus said to the Pharisees: “There was a rich man who used to dress in purple and fine linen, and who feasted in luxury every day. A poor man, called Lazarus, was laid at his gate. He was full of ulcerated sores, and he desired to satisfy his hunger from the things which fell from the rich man’s table; more, the dogs used to come and lick his sores. The poor man died, and he was carried by the angels to the bosom of Abraham. The rich man died and was buried. And in hell, being in torture, he lifted up his eyes, and from far away he saw Abraham and Lazarus in his bosom. He called out, “Father Abraham, have pity on me, and send Lazarus to me that he may dip the tip of his finger in water and cool my tongue, because I am in anguish in this fire.” Abraham said, “Child, remember that you received in full your good things in your life-time, just as Lazarus received evil things. Now he is comforted, and you are in anguish; and, besides all this, between you and us a great gulf is fixed, so that those who wish to pass from here to you cannot do so, nor can any cross from there to us.” He said, “Well then, I ask you, father, to send him to my father’s house, for I have five brothers, that he may warn them, so that they may not also come to this place of torture.” Abraham said, “They have Moses and the prophets. Let them listen to them.” He said, “No, father Abraham; but if some one goes to them from the dead, they will repent.” He said to them, “If they will not listen to Moses and the prophets, neither will they be convinced if some one should rise from the dead.” (Lukas 16: 19-31).
Menarik sekali kalau kita amati ungkapan demi ungkapan yang terdapat dalam Injil ini. Setiap ungkapan menunjuk pada “kekhususan” karakter yang ditunjuk. Injil ini memberi tahu bahwa ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus. Orang tersebut selalu berpesta setiap hari. Dari sini kita melihat bahwa secara “gamlang” orang kaya tersebut tidak mengikuti “aturan” berpuasa dua kali sepekan yang biasanya dipraktekkan orang Yahudi.
Lalu Injil ini juga mengisahkan bahwa di pintu rumah orang kaya itu ada seorang miskin bernama Lazarus. Ia sangat miskin dan badannya begitu tak terurus. Ia setiap hari juga menunggu sisa-sisa makanan yang terjatuh dari meja orang kaya tersebut. Dia makan makanan yang “tercecer” dari meja orang kaya tersebut.
Ini lukisan dunia dan bagaimana orang-orang saling “memperlakukan”. Setelah melukiskan keadaan dunia, Injil ini bergerak melukiskan sitausi “di luar dunia ini”. Segera setelah meninggal dunia Lazarus dihantar oleh para malaikat untuk berbahagia bersaa Abraham di surga, sementara orang kaya tersebut menderita di neraka. Situasi yang kontras dilukiskan kembali.
Saudara dan saudari, kita mungkin bertanya: “Apa dosa dan kekeliruan yang dibuat orang kaya tersebut sehingga dia masuk neraka?” Padahal dia tidak mengusir Lazarus agar tidak mengganggu selera makananya. Dia tidak mengganggu Lazarus yang setiap hari menunggu remah-remah yang jatuh dari meja makannya. Dia sama sekali tidak berlaku kejam dengan Lazarus. Dia sama sekali tidak berlaku jahat terhadap Lazarus. Apa dosanya?
Dosa orang kaya itu ialah bahwa ia tak peduli dengan Lazarus. Ia tak sedikit pun ambil pusing dengan Lazarus. Untuk dia Lazarus tak ubahnya sebuah pemandangan “yang tak terlalu enak dipandang mata”. Dia merasa bahwa situasi Lazarus yang demikian sangat wajar dan tak perlu direpotkan. Dia begitu berpikir bahwa penderitaan Lazarus sama sekali bukan urusannya. Maka dosa orang kaya tersebut sama sekali bukan karena ia menikmati hidup enak-enak setiap hari, bukan juga karena ia berlaku jahat, tetapi dosanya ialah “DIA TAK BERBUAT APA-APA” meski melihat penderitaan orang lain. Dia tahu bahwa Lazarus menderita dan kurang makanan, tetapi ia tak peduli.
Saudara dan saudari, perbuatan baik kita terhadap orang lain sangat diperhitungkan oleh Allah. Perbuatan baik bisa ditunjukkan dengan banyak hal.
Ditulis dalam Blogroll, Katolik, Kesaksian, agama, artikel, bacaan menarik, bacaan ringan, berbagi rasa, berita, berkas, blog, buku harian, catatanku, etika, humaniora, info, jangan lewatkan, kebijakan manusiawi, kitabsuci, komunitas, kristen, mengagumkan, opini, pemikiran, personal, renungan, sharing, theology, umum, wah-wah-wah | 1 Komentar »
The tax-collectors and sinners were all coming near to Jesus to hear him, and the Pharisees and scribes were murmuring, saying,” This man welcomes sinners and eats with them.”
So he spoke to them: “There was a man who had two sons. The younger of them said to his father, ‘Father, give me the part of the estate which falls to me.’ So his father divided his living between them. Not many days after, the son realized it all and went away to a far country, and there in wanton recklessness scattered his substance. When he had spent everything a mighty famine arose throughout that country and he began to be in want. He went and attached himself to a citizen of that country, and he sent him into his fields to feed pigs; and he had a great desire to fill himself with the husks the pigs were eating; and no one gave anything to him. When he had come to himself, he said, ‘How many of my father’s hired servants have more than enough bread, and I—I am perishing here with hunger. I will get up and I will go to my father, and I will say to him, “Father, I have sinned against heaven and before you. I am no longer fit to be called your son. Make me as one of your hired servants.”’ So he got up and went to his father. While he was still a long way away his father saw him, and was moved to the depths of his being and ran and flung his arms round his neck and kissed him tenderly. The son said to him, ‘Father, I have sinned against heaven and before you. I am no longer fit to be called your son.’ But the father said to his servants, ‘Quick! Bring out the best robe and put it on him; put a ring on his finger; put shoes on his feet; and bring the fatted calf and kill it and let us eat and rejoice, for this my son was dead and has come back to life again; he was lost and has been found.’ And they began to rejoice.
“Now the elder son was in the field. When he came near the house he heard the sound of music and dancing. He called one of the slaves and asked what these things could mean—He said to him, ‘Your brother has come, and your father has killed the fatted calf because he has got him back safe and sound.’ He was enraged and refused to come in. His father went out and urged him to come in. He answered his father, ‘Look you, I have served you so many years and I never transgressed your order, and to me you never gave a kid that I might have a good time with my friends. But when this son of yours—this fellow who consumed your living with harlots—came, you killed the fatted calf for him.’ ‘Child,’ he said to him, ‘you are always with me. Everything that is mine is yours. But we had to rejoice and be glad, for your brother was dead and has come back to life again; he was lost and has been found.’” (Lukas 15: 1-3, 11-32).
Saudara dan saudari, menarik sekali membaca perumpamaan ini. Sungguh indah dilukiskan dan sungguh menggugah alur ceritanya. Saya secara pribadi sangat suka dengan perumpamaan ini. Perumpamaan ini berbicara benyak tentang manusia dan tentang Allah yang sungguh murah hati.
Kalau kita amati bacaan Injil ini dengan teliti dan hati-hati, sebenarnya permintaan anak tersebut untuk mendapat bagian warisannya lebih dahulu dan ingin pergi ke negeri yang jauh, jauh lebih radikal dan lebih menyedihkan dibanding sebatas meminta warisan dan pergi. Mungkin kita sering mendengar tafsiran yang mengatakan bacaan ini hendak mengatakan kisah hidup “orang-orang” yang tersesat karena sex bebas atau karena drugs atau karena alcohol atau karena judi atau hal-hal negative lainnya, mungkin saja, tetapi saya kira ada yang lebih dalam dan lebih parah dari sekedar tersesat ke hal-hal yang disebut sebelumnya.
Saya hendak memberi nuansa baru pada perumpamaan ini. Anak yang hilang tersebut bisa kita lukiskan sebagai personifikasi dari manusia (entah siapa pun dia) yang setelah menerima “warisan” dari Allah – berupa akal budi, kesehatan, harta jasmani dan rohani, dll – kemudian berkata kepada kepada Allah: “Allah, saya tak ingin berurusan lagi dengan-Mu. I don’t want to have anything to do with you anymore.” Kemudian kita pergi menjauh dari Allah dan kemudian tak mau tahu akan Allah. Banyak orang yang berpikir dan bertindak seakan-akan Allah tak ada, dan kalaupun ada, Allah itu remotely exist.
Atau kalau kita mau lebih sederhanakan, kita bisa bandingkan dengan kejadian di beberapa keluarga. Setelah anak-anak menerima warisan dan kebaikan dari orang tua, mereka berkata: “Mum (Dad), I don’t have anything to do with you anymore. I’m gonna go and live my life as you didn’t exist or remotely exist. Look after yourself and do not disturb me.”
Saudara dan saudari, kisah ini juga bisa kita lihat sebagai penolakan akan “rumah” di mana anak tersebut dilahirkan dan dibesarkan. Dia pergi ke negeri yang jauh. Kisah ini bukan sekedar ingin pergi jauh dari “rumah” tetapi ingin memutuskan hubungan dengan “rumah” – dengan cara pikir dan cara berada serta cara berbudaya yang selama ini dididik di “rumah” oleh orang tua. Ini bukan sekedar tidak ada rasa hormat, tetapi merupakan penghianatan akan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh keluarga dan komunitas.
Saudara dan saudari, setelah anak itu kehabisan “uang” dan tak sanggup lagi menopang hidup, “Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: “Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah …” Dengan ungkapan singkat ini, Yesus hendak mengatakan bahwa selama kita jauh dari “rumah” (jauh dari Allah) – kita tidak mengenal diri. Kita hanya sungguh menjadi diri kita kalau kita dalam komunitas “rumah” bersama Allah.
Saudara dan saudari, kita menjadi sungguh-sungguh berbahagia kalau kita mengenal Allah dan kembali kepada Allah. Dan Allah begitu bahagia kalau kita kembali ke “rumah” – kembali ke pangkuan kasih Allah, kembali mengalami cinta dan kasihnya.
Ditulis dalam Blogroll, Katolik, Kesaksian, agama, artikel, bacaan menarik, bacaan ringan, berbagi rasa, berita, berkas, blog, buku harian, catatanku, etika, humaniora, info, jangan lewatkan, kebijakan manusiawi, kitabsuci, komunitas, kristen, mengagumkan, opini, orang kudus, pemikiran, personal, renungan, sharing, theology, umum, wah-wah-wah | Leave a Comment »